Orang Kuat

KOMPAS, 25 Jan 2013. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI.

Negara demokrasi membutuhkan institusi, sistem, dan pemerintahan yang kuat, bukan orang yang kuat. Pernyataan itu disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada sidang kabinet yang membahas RUU Administrasi Pemerintahan. Jika tidak waspada, menurut Presiden, orang kuat bisa menjurus otoritarian dan diktator. Ditunjuknya pengalaman Indonesia pada masa lalu, dan negara lain yang pernah dipimpin oleh ”orang kuat” sehingga melahirkan pemerintahan berwatak keras, yang ”bisa keluar dari sistem, bisa berbuat apa saja” (Kompas, 11/1).

Apa atau siapa yang dimaksud dengan orang kuat tak terjelaskan dalam berita itu. Baik Kamus Besar Bahasa Indonesia maupun Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia (keduanya terbitan Pusat Bahasa) tidak merekam orang kuat. Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia Eko Endarmoko sinonim ungkapan itu nihil. Padahal, ungkapan serupa, seperti orang besar atau orang gedean sebagai cakapan, terdaftar pada kamus-kamus itu. Kamus Inggris-Indonesia John M Echols dan Hassan Shadily memasang lema strongman sebagai kiasan orang yang kuat, pemimpin. Pada kamus Oxford tertulis masterful or capable person.

Dalam buku Strong Societies and Weak States (1988), Joel S Migdal, profesor di Universitas Washington kala itu, menyebutkan sederet istilah umum Inggris untuk menggolongkan orang kuat di Dunia Ketiga: chief, landlord, boss, rich peasant, dan clan leader yang dikenal luas. Selain itu, ada beberapa istilah khusus: za’im, sebutan untuk tokoh lokal di Turki; effendi, kaum ningrat di Arab Timur; agha, gelar kebangsawanan di Turki dan Asia Selatan; cacique, tuan tanah di Filipina sejak penjajahan Spanyol; dan kulak, tuan tanah kaya raya di Rusia zaman kekaisaran.

Orang-orang kuat tersebut mungkin beda dengan yang dimaksud Presiden SBY. Mereka berpengaruh, kharismatik, dan memiliki pengikut. Selain kelompok bangsawan yang tinggal di dekat istana atau kota, sebagian orang kuat tergolong penduduk desa yang menguasai wilayah tertentu, semisal petani kaya, pemilik tanah, dan penghulu. Tak sedikit orang-orang kuat ”asli” ini memiliki kesaktian yang membuat dirinya andal sebagai pelindung pengikutnya. Bila terdesak, mereka tampil jadi pemimpin pemberontakan agraris atau pentolan kejahatan sosial. Menurut Migdal, banyak pemerintahan nasional di negara-negara berkembang dihadapkan pada impenetrable barriers ini sehingga kebijakan sosial tak berjalan efektif.

Istilah orang kuat tak selalu merujuk elite pemerintahan. Kaum zamindar di India, misalnya, sangat menikmati sebagai penguasa ribuan hektar tanah sekaligus pengumpul kekayaan dari hasil bumi itu. Mereka membayar pajak sehingga, bagaimanapun, kedudukannya sangat diperhitungkan oleh masyarakat dan negara. Jadi, bagi orang kuat, membangun pengaruh lebih penting ketimbang kekuasaan itu sendiri.

Sobari, kawan lama saya, selalu menenggak jamu kuat gendongan yang dijajakan di depan rumahnya. ”Biar roså,” alasannya. Maksudnya supaya jadi (orang) kuat dalam arti bertenaga lebih. ”Orang kuat” yang ini, menurut kamus Inggris, ditakrifkan sebagai muscular person atawa orang berotot, alias tidak loyo.

Sumber gambar: John T. Takai/Shutterstock.com.

Iklan

One thought on “Orang Kuat

  1. Tak ayal lagi, yang dimaksud “orang kuat” di sini adalah sosok kepala negara yang ditakuti para petinggi negara dan aparat penegak keadilan; kalau mau ditukikkan lagi, kemungkinan besar Bapak Presiden menyinggung era pemerintahan pendahulunya yang setelah sekian periode akhirnya porak-poranda ditelan zaman reformasi. Dari pidato beliau, pengambilan hikmah lebih dikedepankan daripada pencemaran nama baik, semoga memang demikian luapan isi hatinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s