Bersaya Beraku

KOMPAS, 1 Feb 2013. Sunaryono Basuki Ks, Sastrawan dan Pensiunan Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP Negeri Singaraja.

Gue-aku-sayaSaya merasa sangat terganggu mendengar ucapan seorang selebritas muda menjawab pertanyaan pembawa acara mengenai rencananya dengan lagu-lagu barunya. Dengan nyaman dia mengatakan ”lagu aku”, ”album aku”, bukan ”laguku”, ”lagu baruku”, ”albumku, ”album baruku”, sebagaimana diwajibkan bahasa Indonesia ketika dia bermaksud menyatakan milik. Kita mengatakan ”mobilku”, bukan ”mobil aku”. Namun, tampaknya pemakaian kata aku di dalam bahasa lisan sudah meluas, terutama di kalangan generasi muda. Apakah ini salah satu bentuk pemberontakan anak muda? Harus diteliti lebih lanjut.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa menjelaskan kata aku sebagai pronomina pertama tunggal dalam ragam akrab. Dalam berdoa kita memang beraku berKau dengan Tuhan. Kita menyapa Tuhan dengan ”Kau” atau ”Engkau”. Lihat saja dalam sajak karya Amir Hamzah: ”Engkau ganas”, ”Engkau cemburu”.

KBBI juga menjelaskan lema ku sebagai bentuk ringkas kata ganti persona pertama dan bentuk klitik aku sebagai penunjuk pelaku, pemilik, tujuan: kuambil, rumahku, memukulku. Di sini jelas aku tidak sama dengan –ku yang bentuknya selalu terikat, sedangkan aku berdiri bebas dan berfungsi sebagai subyek. Kalau aku digunakan sebagai bentuk posesif tentunya membingungkan, namun tampaknya di dalam bahasa lisan yang sedang ”hidup”, penggunaan ini dianggap sah-sah saja. Buktinya, mobil aku digunakan secara luas oleh kaum muda Jakarta.

Kata saya dijelaskan di dalam KBBI sebagai pronomina orang pertama yang lebih takzim daripada aku. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di dalam pidato atau wawancaranya tidak pernah menggunakan kata aku untuk merujuk pada dirinya sendiri, tetapi menggunakan kata saya. Apakah karena beliau berasal dari Jawa? Kalau tidak salah, BJ Habibie yang bukan orang Jawa juga tidak menggunakan kata aku untuk saya.

Bentuk hormat di dalam bahasa Indonesia dinyatakan di dalam pemilihan kosakata, seperti hamba, patik, yang mengacu pada pembicara, sementara di dalam bahasa daerah seperti bahasa Jawa atau Bali dinyatakan dalam pemilihan yang berbeda-beda untuk bentuk hormat dan bentuk biasa.

Dalam bahasa Jawa, dahar ’makan’ digunakan sebagai bentuk hormat neda, sementara di dalam bahasa Bali, kata madaar malahan dianggap kasar. Mempersilakan tamu untuk makan dengan mengatakan ”monggo neda” sungguh tidak hormat, harus dikatakan dengan ”monggo dahar”, dan dalam bahasa Bali ”marayunan”, bukan ”medaar”.

Menyapa sekelompok orang juga perlu pemilihan kata yang tepat. Seorang teman dosen biasa menyapa mahasiswa di kelasnya dengan kalian. Teman ini pernah mengikuti sebuah lokakarya di Jakarta dan memperoleh hasil baik. Karena itu, pada angkatan berikutnya dia diberi tugas menjadi penatar. Namun, apa lacur, ketika bicara di kelas kepada peserta lokakarya yang kebanyakan guru-guru senior dan juga dosen, dia masih menggunakan kalian menyapa kelas penatarannya. Akibatnya, dia tidak lagi diikutsertakan sebagai penatar pada masa penataran berikutnya. Menyapa dengan kalian ternyata telah menyinggung perasaan banyak peserta lokakarya.

Bahasa Indonesia siapa yang layak menjadi acuan? Di Inggris dikenal Queen’s English. Apakah di Indonesia ada ”Bahasa Indonesia Bapak Presiden”? TVRI pernah punya pembawa berita yang berasal dari Papua dan aksen bahasa Indonesianya luar biasa bagus. Apakah harus ada ”Bahasa Indonesia TVRI” yang menjadi acuan?

Sumber gambar: An Abdillah.

Iklan

6 thoughts on “Bersaya Beraku

  1. Pendapat saya:

    1. Bentuk “mobil kamu”, “mobil saya”, “mobil kalian”, dan “mobil mereka” dapat diterima untuk menunjukkan kepemilikan. Mengapa “mobil aku” tidak?
    2. Setuju dengan pernyataan bahwa penggunaan “kalian” tidak tepat untuk ragam hormat.
    3. Alinea terakhir kok tidak berhubungan dengan alinea yang lain, ya?

    • 1. Memang bisa diterima, tapi mengganggu dan cenderung merusak bahasa baku kita di mata internasional. Coba bayangkan kalo bahasa inggrisnya. “My book” menjadi “I book”, sama tuh kasusnya “bukuku” menjadi “buku aku”. Kacau kan?
      Cmiiw

      • Lain lubuk lain ikannya, lain bahasa lain aturannya :) Menurut saya, aturan bahasa Indonesia dalam hal ini berbeda dengan bahasa Inggris. Mereka membedakan dengan ketat pronomina persona dan pemilik, sedangkan kita dapat memakai kata ganti orang (persona) sebagai kata ganti pemilik.

        Pada contoh yang saya berikan di atas, “kamu”, “saya”, “kalian”, dan “mereka” merupakan pronomina persona. Semua kata tersebut bisa dipakai untuk menunjukkan kepemilikan, kan? Lalu, mengapa “aku” dikecualikan?

        • Sepertinya “kelaziman” bahasa tulis kita yang menjadikan bentuk tersebut dikecualikan, Mas Ivan. Secara gramatikal saya sependapat, namun apa daya, penulis melihatnya dalam sudut pandang konteks kalimat yang tercantum pada KBBI.

  2. kesannya kalau “mobil aku” , “rumah aku” itu kekanak-kanakan. beda dengan “mobilku” atau “rumah saya”

    • Ya itulah jadinya kalo bahasa gaul remaja ditanggapi serius amet di kolom bahasa..haha. Percayalah, para remaja itu setelah dewasa akan matang dlm berbahasa dan meninggalkan gaya “aku” semacam itu… Banyak buktinya pada mrk yg sdh memasuki dunia kerja, jadi profesional di berbagai bidang, dan berkeluarga kini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s