Bahasa, Politik, dan Hoesni Thamrin

Majalah Tempo, 3 Feb 2012. Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo.

Rezim Orde Lama, melalui penerbitan buku Hari-hari Bersedjarah dan Peristiwa-peristiwa Penting (1963), mencantumkan penjelasan bahwa 11 Januari adalah Hari Peringatan M.H. Thamrin. Kita mungkin mengenal Mohammad Hoesni Thamrin (16 Februari 1894-11 Januari 1941) berkaitan dengan nama jalan di Jakarta atau memori kepahlawanan. Penghormatan terhadap tokoh memang mengesankan ingatan kesejarahan. Kita sering mengenal nama-nama tokoh tapi jarang menelisik peran tokoh tersebut di masa silam.

M.H. Thamrin adalah seorang “tokoh bahasa”. Pidato di sidang Volksraad (12 Juli 1938) berjudul Kebidjaksanaan Diwaktoe Krisis membuktikan tindakan politis untuk menampar arogansi kolonial. Volksraad sering mengadakan sidang menggunakan bahasa Belanda. Kaum pribumi dikondisikan menu­ruti kehendak penguasa kolonial selama puluhan tahun: berbahasa Belanda dalam sidang pembahasan politik, ekonomi, sosial, dan pendidikan. Penggunaan bahasa Belanda mengandung dilema politik dan kultural. Kaum pergerakan nasionalisme ingin menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa politik meski harus bertarung dengan dominasi bahasa Belanda. Penggunaan bahasa Belanda di sekolah, surat kabar, dan birokrasi tampak menepikan bahasa Indonesia. Thamrin tampil di sidang Volksraad berdalih gugatan politik-bahasa dan pemartabatan bahasa Indonesia di hadapan kaum politik.

Dominasi bahasa Belanda mempenga­ruhi hasrat pembentukan Indonesia. Gugatan terhadap bahasa Belanda diajukan demi masa depan Indonesia. Thamrin memberi kritik pedas: “Dalam setiap pergoelatan, orang terpeladjar jang memegang kemoedi kemadjoean, dan djoestroe poetra Indonesia jang terpeladjar sedemikian pendidikannja sehingga mereka lebih faham dalam Belanda dari pada bahasanja sendiri. Keadaan ini soedah tentoe membawa perenggangan antara kaoem terpeladjar dan ra’jat djelata oleh karena doea-doea fihak bahasanja dan dasar fikirannja lain, mendjadi masing-masing koerang mengerti poela.”

Nasib Indonesia bergantung pada penggunaan bahasa.

Kaum terpelajar memang sering bernalar menggunakan bahasa Belanda selama sekolah dan melakoni hidup di zaman kemodernan. Bahasa Belanda menjadi modal mengurusi politik, pekerjaan, pandangan hidup, dan identitas. Thamrin pun mengingatkan bahwa bahasa menentukan masa depan bangsa. Penggunaan bahasa Indonesia oleh Thamrin di sidang Volksraad membuktikan kehendak mengubah nasib negeri jajahan. Peringatan mengandung ramalan: “Memoeliakan dan memadjoekan bahasa Belanda dan mengasingkan bahasa sendiri lambat laoen membawa keroegian jang banjak poela, biarpoen pada masa ini beloem terlihat.” Anjuran untuk berbahasa Indonesia demi ejawantah politik kebangsaan perlahan mempengaruhi kaum elite terpelajar dan rakyat.

Bahasa Indonesia terus menggerakkan kehendak nasionalisme. Sidang di Komite Nasional Indonesia Pusat untuk membahas rancangan undang-undang pendidikan (17 Oktober 1949) memunculkan perdebatan sengit berkaitan dengan bahasa Indonesia, nasionalisme, dan pendidikan nasional. Kalangan politik dan pendidikan menginginkan bahasa Indonesia disahkan sebagai bahasa pengantar di sekolah. Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. Kehendak politik atas peran bahasa Indonesia justru menimbulkan polemik. Pilihan atas bahasa Indonesia memang politis, tapi mengandung konsekuensi peminggiran bahasa daerah.

Situasi revolusi pada 1940-an turut menentukan peran bahasa Indonesia dalam politik dan pendidikan. Bahasa Belanda telah sengaja “ditinggalkan” sejak 1942, tapi sebaran bahasa Indonesia juga belum merata ke seluruh Indonesia. Penguatan peran bahasa Indonesia adalah kehendak politik meski bersinggungan dengan nasib bahasa daerah berdalih keindonesiaan. Kebijakan pemerintah untuk mengesahkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah mengandung dilema kultural. Sugondo Djojopuspito (1949) mengingatkan: “… pemerintah hendak djuga mengabaikan bahasa daerah dengan maksud jang baik, tetapi bisa keliru.” Peran dan makna bahasa Indonesia di jagat pendidikan tak bisa menampik kontribusi penggunaan ratusan bahasa daerah di Indonesia. Perdebatan sengit tentang nasib bahasa daerah memunculkan konklusi: “Ditaman kanak-kanak dan tiga kelas jang terendah disekolah randah, bahasa daerah boleh dipergunakan sebagai bahasa pengantar.”

Ingatan-ingatan dari 1930-an dan 1940-an adalah referensi untuk mengerti pamrih pemerintah melakukan perubahan kurikulum. Bahasa Indonesia tetap menjadi mata pelajaran utama meski kehilangan pesona.

Bahasa Indonesia cuma buku pelajaran dan soal ujian. Bahasa Indonesia hampir tak menjelmakan nasionalisme, identitas, dan mentalitas di segala lini kehidupan. Bahasa Indonesia justru “sekarat” dalam pemberlakuan kurikulum. Nasib bahasa daerah pun apes. Bahasa daerah tak mendapat ruang hidup dalam gapaian tujuan pendidikan nasional.

Sumber gambar: zonapantau.com.

Iklan

2 thoughts on “Bahasa, Politik, dan Hoesni Thamrin

  1. RSBI dibubarkan dengan alasan bahasa pengantar Inggris dapat mengurangi nasionalisme, apakah alasan ini benar dan dapat diterima ? Bhs Ingris adalah bahasa Global, apakah orang Indonesia harus berbahasa korea, jepang dan cina dengan orang korea, jepang dan cina atau orang Sebaliknya mereka harus berbahasa Indonesia ? Pasti harus gunakan 1 bahasa pengantar, Eropah bahkan menyatukan mata uangnya dnegan EURO. Nasionalisme dihasilkan dari pelajaran sejarah dan Geografi yang membangun kebanggaan kejayaan masa lalu dan kesadaran sebagai bangsa kaya diatas tanah yang kaya. Nasionalisme sudah rusak oleh mental korup, tidak ada rasa erlindungan dan pembelaan pada bangsa kecuali pada kepentingan pribadi. Fakta ini mudah dibuktikan, direset dan disurvey.

  2. Ping-balik: Tentang Bahasa Indonesia « Chrysant

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s