‘Pinter’ dan ‘Begjå’

Majalah Tempo, 10 Feb 2013. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

BejoSUPAYA terkesan pintar, hampir saban hari saya minum jamu usir angin seperti yang diiklankan seorang dokter jelita di layar televisi. Barangkali saya cuma kesengsem oleh kata-katanya yang berusaha meyakinkan konsumen. Kata Bu Dokter, untuk menghalau angin dari tubuh, banyak orang pintar minum jamu antiangin yang dia iklankan. Jadi, orang yang menenggak jamu itu pastilah tergolong pintar. Adjektif pintar, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, berarti pandai, cakap, cerdik, dan mahir. Maka pintar dalam iklan jamu itu bisa ditafsirkan, katakanlah, (orang yang) piawai memilih cara mangkus untuk menggusur angin yang bersarang di tubuh.

Belakangan muncul produk jamu sejenis dari produsen lain yang dijajakan aktor pelucu asal Yogyakarta, lalu disusul seorang pengusaha ayam olahan bercelana pendek. Jargon iklannya pun berbunyi lain. Ujar sang aktor, siapa yang minum jamu antiangin yang dia tawarkan termasuk orang-orang begjå atau bejå (atau bejo menurut versi iklan), alias beruntung. Imaji yang hendak dibangun adalah keberuntungan lebih berharga ketimbang kepintaran. Apalah artinya pintar tapi tidak beruntung, begitu kira-kira jalan pikirannya. Diniatkan atau tidak, rupanya telah terjadi perang kata-kata di antara kedua iklan jamu incit angin itu. Iklan yang satu melancarkan provokasi terhadap yang lain layaknya taktik ­tempur.

Secara tak langsung, kedua iklan itu mempersoalkan semacam menduanya makna pintar, atau pinter dalam ragam Jawa, dan begjå yang jadi tandingan. Kata pintar tersirat dipadankan dengan inteligensia atau kecerdasan yang, dalam tes psikologi, ditandai oleh IQ (intelligence quotient) berskala tinggi. Itu sebabnya, dalam kultur Jawa, pinter lazim didapuk sebagai kata timangan atau semacam doa orang tua untuk masa depan anaknya. Contohnya terbaca dalam kalimat berbentuk purwakanti (rangkaian kata yang memiliki unsur persamaan bunyi): Bocah pinter, ‘suk yèn gedé dadi dokter; terjemahannya Anak pintar, besok bila sudah besar jadi dokter. Maka di sini pinter identik dengan cerdas, yang pasti sangat berharga sebagai modal awal seseorang untuk jadi dokter.

Namun kata pinter bila bersanding dengan verba atau adjektif tertentu menyembulkan sisi gelap kepintaran itu sendiri. Peribahasa wong pinter keblinger, misalnya, merujuk pada orang pandai tapi tingkahnya tak mencerminkan ciri wanci kepandaian. Sejatinya, baik kata pinter maupun begjå berbobot nilai setara. Dalam alam pikiran Jawa, keduanya bahkan dilihat bertemali: kapinteran membawa kabegjan, kepandaian membawa keberuntungan, material ataupun nonmaterial. Tapi, seperti isyarat sang aktor dalam iklan, tak ada jaminan mutlak soal itu. Tidak sedikit orang pinter yang malah urip sengsårå, dan sebaliknya keberuntungan kerap berpihak kepada orang biasa-biasa saja.

Walhasil, ada kalanya pinter dipandang dengan reserve dalam konteks tertentu. Untuk menghindari kemungkinan peyorasi, dalam bahasa Jawa tersedia kata lantip, yang lebih denotatif bermakna cerdas. Ndoro Sastrodarsono dalam novel Umar Kayam, Para Priyayi (1992), tatkala mengganti nama anak angkatnya, Wage, menjadi Lantip menjelaskan, Lantip artinya cerdas, tajam otaknya. Menurut Pak Guru itu, Lantip, Lebih bagus dan gagah dari[pada] Wage. Berbeda dari pinter yang bisa dijejerkan dengan kosakata kejahatan, seperti pinter ngapusi atau pinter goroh (pandai menipu) dan pinter nyolong (pandai mencuri), adjektif lantip hanya kompatibel untuk menyebut hal yang positif.

Akan halnya kata begjå tampaknya bernilai kekal. Banyak orang Jawa meyakini begjå atau kabegjan merupakan berkah yang turun dari atas, seperti halnya keyakinan rezeki sudah diatur Gusti Allah. Sementara kapinteran dilihat sebagai hasil ikhtiar manusia yang bisa dicapai lewat pendidikan atau latihan, selain unsur bakat, kabegjan merupakan hak prerogatif Sang Mahakuasa yang bisa diturunkan dengan berbagai cara kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kata begjå atau kabegjan, jadinya, mengandung makna spiritual bagi yang percaya. Seperti Yu Yem, penjual tempe dalam Para Priyayi, yang merasa tiba-tiba mendapat kabegjan ketika Wage, anaknya, diadopsi keluarga ­Sastrodarsono.

Namun kata begjå atau kabegjan juga memerikan ironi ketika keberuntungan itu jatuh ke tangan yang khilaf. Itu terbaca dalam peribahasa Jawa yang cukup dikenal luas: sabegjå-begjaning wong lali, isih begjå sing éling lan waspada. Atau, dalam bahasa Indonesia, betapapun besar keberuntungan yang diperoleh orang yang lupa, masih lebih beruntung bagi yang sekadar tetap ingat dan waspada. Maknanya, keberuntungan menjadi muspra, sia-sia, ketika pemangkunya lupa menjaganya. Perkara hukum yang kini menjerat beberapa pesohor yang sejatinya dilimpahi berkah mengisyaratkan keberuntungan bisa menggelincir jadi tragedi manakala pemiliknya lali.

Saya jadi ingat mendiang Rendra. Ia melihat keberuntungan sebagai sesuatu yang nisbi yang berbatas tipis dengan bala. Keberuntungan, jadinya, bukanlah sesuatu yang menetap, yang selesai sebagai hak tatkala terjangkau. Dalam sebuah sajaknya saya lupa judulnya dan kapan ditulisi ia berfatwa:

bencana dan keberuntungan
sama saja
langit di bumi, langit di badan
bersatu dalam jiwa

Iklan

3 thoughts on “‘Pinter’ dan ‘Begjå’

  1. Salam Kenal,

    Mas , klo nulis seperti ini bgmn ya sabegjå-begjaning wong lali, isih begjå sing éling , maksudnya adalah tanda diatas huruf ‘a’ dan ‘e’ , apakah pake font khusus, bisa dishare tidak ya..

    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s