Kata Itu Mudah Retak

Majalah Tempo, 17 Feb 2013. Ahmad Sahidah, Dosen Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia

Ketika lagu Maia, “Teman tapi Mesra”, merajai tangga lagu di sini. Di Semenanjung, nyanyian ini juga sering diputar di radio. Mungkin karena lirik dan irama lagu itu enak didengar dan dinikmati, tak ayal banyak remaja menyukainya. Hanya, apakah makna yang ada di setiap kepala belia akan sama? Sebagai sebuah susunan kata, “Teman tapi Mesra” tidak selaras karena kosakata teman adalah kata benda dan mesra adalah kata sifat. Secara linguistik, “Teman tapi Kekasih” lebih sesuai, tapi kata mesra memang tampak lebih puitis karena menabrak kebahasaan.

Meski remaja kedua negara menyanyikannya dengan riang, jika ditanya arti kata mesra, mereka tak akan menganggukkan makna yang sama. Di Indonesia, kata mesra diandaikan dengan dekat, akrab, dan terpadu. Tapi pemerian makna lain, percumbuan, telah menenggelamkan makna pertama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, hubungan mesra sejatinya juga mengandaikan hubungan erat, seperti guru dan murid. Sedangkan di negeri jiran Malaysia, kata mesra sangat sering digunakan untuk menunjukkan kedekatan dan keramahan. Tak ayal kata mesra akan dijumpai di setiap pintu masuk toko pompa bensin Petronas.

Perbedaan nuansa pemaknaan juga berakibat pada pengalihbahasaan istilah asing ke dalam dua rumpun ini. Misalnya friendly environment diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi ramah lingkungan, sedangkan Malaysia menerjemahkannya menjadi mesra alam sekitar. Demikian juga kata yang sering dikaitkan dengan alat-alat teknologi. User friendly di dalam bahasa Indonesia menjadi ramah pengguna dan di Malaysia menjadi mesra pengguna. Artinya, Indonesia memilih kata ramah untuk menunjukkan keramahan dan orang jiran mengutamakan kata sifat mesra. Saya bisa membayangkan apa yang ada di benak warga kita kalau ia dibawa ke pejabat polis (kantor polisi) dan dilayani dengan mesra oleh aparat yang berkumis melintang.

Kata lain yang mungkin berkebalikan adalah rayu. Sebagai lema yang menandakan kata-kata yang memikat hati dan mengajukan permohonan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Kamus Dewan Malaysia, dalam penggunaannya kata rayuan untuk pengajuan permohonan tak lagi digunakan dalam bahasa Indonesia. Sedangkan di negeri tetangga, pengajuan rayuan sering digunakan dalam kegiatan resmi, misalnya mahasiswa bisa mengajukan rayuan kepada dekan untuk memperpanjang masa studi. Bayangkan, mahasiswa Universitas Indonesia menulis surat rayuan kepada rektornya untuk memohon keringanan iuran, pasti kehebohan akan meruyak.

Tentu saja kosakata lain yang mungkin telah dikenal dan sering menimbulkan salah paham di sini adalah seronok, butuh, dan bisa. Meskipun ketiga kata ini mengandaikan makna yang sama dalam kedua kamus, penutur dari tiap bahasa sering berusaha menahan tawa. Bagi kita, seronok cenderung berarti tak senonoh. Sedangkan di Malaysia, seronok berarti menyenangkan. Adapun lema butuh menunjukkan arti perlu, tapi sering kali kata ini dielakkan di Semenanjung karena ia membuat kaum perempuan tak nyaman mengingat kesi­nonimannya dengan alat kemaluan lelaki. Tentu saja, jika kita meluncurkan slogan “Bersama Kita Bisa”, di Malaysia lazim mengatakan “Malaysia Boleh”. Sebab, kata bisa di Malaysia lebih dikaitkan dengan racun ular.

Sebenarnya ada banyak kata lain yang tak hanya menimbulkan keretakan makna, tapi juga begitu kontras, yaitu istilah guru besar. Di Indonesia, kita sering menggunakan kata profesor secara bergantian dengan guru besar, sesuatu yang bersifat hierarki di dunia akademik universitas. Berbeda dengan penggunaan kata ini di Malaysia. Guru besar adalah kepala sekolah yang membawahkan guru-guru yang lain. Tak ayal, ketika Profesor Nur Syam, mantan Rektor Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, mengirimkan sebuah artikel ke jurnal Kemanusiaan Universitas Sains Malaysia, istilah guru besar sempat menimbulkan tanda tanya: bagaimana seorang guru besar bisa menulis karya ilmiah yang begitu bagus.

Tambahan lagi, Indonesia juga sama-sama menggunakan kata backbone untuk kiasan bagi orang yang bekerja keras menafkahi keluarga. Hanya, di Malaysia, kita tidak bisa mengatakan tulang punggung sebagai metafora orang yang mencari nafkah keluarga, karena punggung di Malaysia bermakna pantat. Lebih menarik lagi, Anda jangan sekali-kali mengatakan kepada orang Malaysia bahwa pantatnya montok. Sebab, di sana ia merujuk pada kemaluan perempuan.

Sedangkan istilah yang sering bertukar tempat adalah disertasi dan tesis. Di negara bekas koloni Inggris seperti Malaysia, tugas terakhir untuk mahasiswa strata 2 adalah disertasi dan strata 3 adalah tesis, sementara dua sebutan ini berlaku sebaliknya di Indonesia. Demikian juga penyebutan gelar doktoral akademik dan dokter medis tak berbeda, yaitu diucapkan docter sebagaimana dalam fonologi bahasa asal. Adapun kita membedakannya, yaitu doktor sebagai gelar akademik dan dokter sebagai petugas kesehatan.

Akhirnya, betapapun keduanya mempunyai andaian yang berbeda terhadap kosakata yang sama dan penyerapan bahasa asing dengan pengalihbahasaan yang berbeda, bisa dipastikan kedua warga negara cenderung mencoba berbahasa sesuai dengan bahasa asal mitra. Orang Malaysia acap kali menyebut dong sebagai penegasan, tapi sering kali salah tempat. Orang Indonesia pun berusaha melafalkan semua kata yang berkonsonan akhir a dengan e pepet, padahal orang Malaysia menyebut Anda sama seperti kita. Tapi memang demikianlah karakter bahasa, maknanya mudah retak dan pengucapannya juga sering pecah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s