Ustad dan Ulama

Majalah Tempo, 3 Mar 2013. Samsudin Adlawi, Wartawan Jawa Pos dan Penyair

Al-Munawwir“Jika keberatan dengan proses penahanan, kami mempersilakan kuasa hukum Ustad Luthfi mengajukan praperadilan.” Kata ustad dalam pernyataan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad sebagaimana dikutip Jawa Pos (7 Februari 2013) itu menarik untuk ditelisik. Kata ustad adalah serapan dari bahasa Arab yang dalam kalimat tersebut digunakan kurang tepat. Bukan lantaran Luthfi Hasan Ishaaq (mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera) sedang terjerat kasus dugaan korupsi impor daging sapi, melainkan kurang akurat dilihat dengan kacamata bahasa.

Dalam kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia, lema ustad diterjemahkan sebagai “guru” dalam arti yang luas. Guru atau dosen mata pelajaran/mata kuliah apa saja, tidak sebatas guru yang mengajarkan pelajaran agama. Orang yang mengajar bahasa Indonesia, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan matematika layak menyandang sebutan ustad.

Namun belakangan kata ustad mengalami pergeseran sekaligus penyempitan makna. Kata ini dikhususkan bagi orang yang pernah mengenyam pendidikan Islam, baik formal maupun nonformal: alumnus pondok pesantren atau sekolah Islam. Luthfi Hasan Ishaaq pernah mondok (belajar di pesantren) dan tercatat sebagai alumnus universitas Islam di Arab Saudi. Mungkin itulah yang melatarbelakangi kolega dan sejawatnya, wa bil-khusus kader Partai Keadilan Sejahtera, memanggil dia dengan sebutan ustad. Terlepas dari itu, kalangan aktivis Islam memang akrab dengan kata ustad. Satu sama lain saling memanggil dengan sapaan ustad, terutama junior kepada seniornya atau anggota biasa kepada ketua dan para pengurus harian organisasinya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ikut berperan dalam menyempitkan makna ustad. KBBI mendefinisikan ustad sebagai guru agama. Publik juga ikut-ikutan mendefinisikan demikian. Mereka memanggil para juru dakwah muda, terutama yang sedang naik daun, dengan panggilan ustad, di antaranya ustad Jefry al-Buchory, ustad M. Nur Maulana, ustad Yusuf Mansur, dan ustad Solmed (Soleh Mahmud Munawir Nasution). Melihat penampilan keempatnya di layar televisi dalam program kerohanian, mereka tampak menguasai ilmu agama Islam. Tapi tidak secara otomatis mereka layak menyandang gelar ustad. Melihat kapasitas keilmuannya, lebih tepat bila mereka disebut “dai”, yang di dalam KBBI dicantumkan sebagai orang yang bekerja sebagai pendakwah alias juru dakwah. Atau, kalau ingin terdengar lebih keren, sebut saja dengan “mubalig”. KBBI mengartikan “mubalig” sebagai “orang yang menyiarkan (menyampaikan) ajaran agama Islam”.

Selain kata ustad, masih banyak kata serapan dari bahasa Arab yang maknanya bergeser dari makna aslinya.

Kata ulama, yang semestinya berarti intelektual umum, ilmuwan segala ilmu, di Indonesia maknanya berubah jadi ahli agama. Pergeseran-penyempitan makna itu, lagi-lagi, dilakukan oleh KBBI, yang mengartikan kata ulama sebagai “orang yg ahli dl hal atau dl pengetahuan agama Islam”. Pengertian dalam KBBI sangat kontras dengan makna aslinya dalam kamus Al-Munawir. Kamus Arab-Indonesia itu mengartikan kata ulama (bentuk jamak dari alim) dengan “yang terpelajar, sarjana, yang berpengetahuan, dan ahli ilmu”.

Nasib yang sama dialami kata serapan kitab. Dalam bahasa asli, kitab berarti buku secara umum. Contohnya kitab muthalaah (buku bacaan) dan kitab al-zawwaj wa al-thalaq (buku nikah). Di sini kita sering mendengar penggunaan kata kitab dalam arti yang sempit, berkaitan dengan buku agama dan hukum. Misalnya kitab kuning (buku agama karya pemikir Islam ternama di zamannya) yang menjadi rujukan pengajaran di pesantren salaf. Kitab itu disebut kuning karena ditulis di kertas berwarna kekuning-kuningan. Sedangkan dalam ranah hukum, kita mengenal Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

Terakhir, kata serapan fitnah tidak hanya mengalami pergeseran makna, tapi juga sudah menyimpang jauh dari makna sebenarnya. Definisi fitnah dalam KBBI: “perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yg disebarkan dgn maksud menjelekkan orang (spt menodai nama baik, merugikan kehormatan orang)”. Sedangkan menurut pakar bahasa Al-Ishfahani, dalam bahasa Arab, fitnah mengandung makna (dasar) pembakaran emas atau logam mulia agar bersih dan terlepas dari unsur-unsur yang rendah. Dalam Al-Quran, kata fitnah dalam berbagai bentuk diulang sebanyak 44 kali dan digunakan untuk beberapa makna, di antaranya bermakna al-ikhtibar (ujian dan cobaan). “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar” (QS Al-Anfaal, 8 : 28).

Fitnah juga berarti albala (bencana). Ini tercantum dalam QS Al-Anfaal (8 : 25), “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.” Kita juga sering mendengar pernyataan Al-Quran bahwa “fitnah lebih besar dari pembunuhan”. Maksud QS Al-Baqarah (2 : 191) itu adalah perilaku musyrikin Mekah yang menganiaya kaum muslimin, dari siksaan jasmani, perampas­an harta, pemisahan sanak keluarga, teror, sampai pengusiran dari tanah kelahirannya. Dalam kondisi sedemikian, mati (dibunuh) tentu lebih ringan daripada dibiarkan hidup tapi disiksa secara biadab. Maka “fitnah lebih besar dari pembunuhan” juga tepat bila diartikan “fitnah lebih kejam dari pembunuhan”.

Bahasa Arab memberi sumbangan besar dalam pengembangan bahasa Indonesia. Kata serapan dari bahasa Arab jauh lebih banyak dibanding bahasa asing lain.

Namun penyerapan kosakata Arab hendaknya dilakukan tidak serampangan sehingga tak terjadi lagi penyempitan dan pergeseran makna seperti yang terjadi selama ini.

Iklan

One thought on “Ustad dan Ulama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s