Novel dan Bahasa Indonesia

Majalah Tempo, 10 Mar 2013. Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo

Balai PoestakaSejarah bahasa Indonesia bergerak dalam novel. Kita bisa menelusuri arus perkembangan bahasa Indonesia melalui novel-novel terbitan Balai Pustaka. Novel bukan sekadar cerita dan bacaan. Masa 1920-an adalah masa pembentukan dan pembakuan bahasa Indonesia, bermula dari bahasa Melayu. Balai Pustaka (1908), institusi literasi bentukan kolonial, berperan besar merawat dan memberi arti bahasa Indonesia di kalangan pembaca sastra. Novel-novel diterbitkan dengan pelbagai tema, diedarkan ke segala penjuru negeri. Novel menjadi medium sebaran misi berbahasa Indonesia.

Nur Sutan Iskandar (1893-1975) adalah tokoh berpengaruh dalam urusan “membakukan” bahasa Indonesia, mengacu pada selera Balai Pustaka. Peran sebagai korektor di Balai Pustaka dan pengarang membuat Nur Sutan memiliki otoritas “mengasuh” dan “mengolah” bahasa Indonesia. Nur Sutan (1971) mengakui, selama menjadi korektor di Balai Pustaka, tugas memperbaiki bahasa bisa memunculkan model “penulisan” bersama. Novel Tjinta dan Kewadjiban (1941) terbitan Balai Pustaka mencantumkan dua nama pengarang: Nur Sutan Iskandar dan L. Wairata. Novel itu semula ditulis oleh L. Wairata dengan bahasa tak sesuai dengan selera Balai Pustaka. Nur Sutan mengajukan diri menata dan mengolah ulang susunan bahasa Indonesia dalam novel. Dia tak sekadar mengoreksi, tapi juga melakukan “pembakuan” bahasa Indonesia sesuai dengan misi Balai Pustaka di masa kolonialisme.

Novel-novel terbitan Balai Pustaka sejak 1920-an turut menentukan sebaran “pembakuan” bahasa Indonesia. Novel Azab dan Sengsara (Merari Siregar), Sitti Nurbaya (Marah Rusli), Darah Muda (Adi Negoro), dan Salah Pilih (Nur Sutan Iskandar) adalah bacaan untuk publik. Orang membaca novel berarti berhadapan dengan bahasa Indonesia, bahasa hasil susunan pengarang dan koreksi dari editor di Balai Pustaka. Sebaran dan pengajaran bahasa Indonesia, sejak 1920-an sampai 1940-an, dipengaruhi model bahasa dari Balai Pustaka. Sejarah perkembangan bahasa Indonesia turut bergerak melalui novel, menghampiri pembaca di pelbagai kota dan desa untuk menerima atau menolak “pembakuan” bahasa Indonesia di persimpangan ideologi nasionalisme dan kebijakan bahasa oleh kolonial.

Nur Sutan Iskandar dalam artikel berjudul Peran Bahasa Indonesia dalam Perkembangan Bahasa Indonesia (1960) menjelaskan: “Gubernemen Hindia Belanda menghendaki supaja buku-buku batjaan jang dikeluarkan Balai Pustaka harus mempergunakan bahasa Melaju-Riau, bahasa sekolah, jang telah ditetapkan dalam tahun 1901.” Penjelasan ini mengingatkan pengaruh dan penggunaan tata bahasa di sekolah-sekolah merujuk pada buku susunan Ch. A. van Ophuijsen. Balai Pustaka berperan membakukan bahasa sesuai dengan kebijakan kolonial. Nur Sutan, selaku korektor bahasa di Balai Pustaka, memberi pengakuan: “Djadi bahasa Balai Pustaka harus bersih, harus bahasa Melaju betul menurut ketentuan 1901 itu. Tak boleh menjimpang dari itu. Pendjagaan amat rapi.”

Kita bisa membaca kembali novel-novel terbitan Balai Pustaka, melihat dan merasakan bahasa Indonesia di masa silam. Penggunaan bahasa dalam sekian novel itu telah mengalami koreksi demi “kebersihan”, “ketertiban”, dan “kerapian”. Novel sebagai ejawantah permainan bahasa dan olah imajinasi pengarang harus melewati “koreksi” atau “sensor” sebelum diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Sejarah Balai Pustaka memberi ingatan atas nasib bahasa Indonesia dalam novel. Pengakuan dan penjelasan Nur Sutan Iskandar semakin membuktikan bahwa novel berperan mengedarkan bahasa Indonesia. Misi Balai Pustaka dan otoritas pengarang bisa “bercampur” untuk “membakukan” bahasa Indonesia. Novel pun jadi rujukan “kepatuhan” penggunaan bahasa selama puluhan tahun. Bantahan atau gugatan memang dilakukan sejak dulu, bermaksud melawan dominasi nalar-imajinasi kolonial. Para penggugat sudah muncul sejak awal abad XX. Kita bisa merasakan gairah bahasa melalui novel-novel Marco Kartodikromo dan novel-novel gubahan para pengarang peranakan Tionghoa. Mereka mengelak dari imperatif kolonial atau pembakuan ala Balai Pustaka, menggerakkan bahasa sebagai deklarasi identitas, nasionalisme, dan ideologi.

Berakhirnya kolonialisme memunculkan rangsang mengembangkan bahasa Indonesia secara “bebas” melalui suguhan novel dari pengarang-pengarang ampuh: Mochtar Lubis, Ajip Rosidi, Pramoedya Ananta Toer, Iwan Simatupang, Umar Kayam, Y.B. Mangunwijaya, Putu Wijaya, Kuntowijoyo, Budi Darma, dan para novelis kontemporer lainnya. Mereka menulis novel, mengolah bahasa Indonesia tanpa harus mengacu pada warisan-warisan pembakuan bahasa Indonesia melalui novel-novel terbitan Balai Pustaka di masa lalu. Peran sebagai pengarang digenapi ejawantah otoritas “mengajarkan” bahasa Indonesia ke pembaca. Pengajaran ini berbeda dengan pengajaran di sekolah dan universitas. Novel justru menjadi referensi impresif, mengajak pembaca menemukan dan merasakan gairah bahasa.

Novel turut menentukan sejarah dan nasib bahasa Indonesia. Kita memiliki ingatan-ingatan sejak 1920-an saat bahasa Indonesia dibakukan mengacu pada kebijakan kolonial. Novel-novel terbitan Balai Pustaka di masa lalu adalah warisan “kebersihan”, “kepatuhan”, dan “kerapian” dalam penggunaan bahasa Indonesia. Masa itu telah berlalu, sekarang kita membaca novel-novel untuk menginsafi sejarah, berlanjut mengamalkan otoritas menggairahkan bahasa Indonesia merujuk pada situasi dan jiwa zaman. Novel adalah referensi sejarah dan pembuktian nasib bahasa Indonesia. Begitu.

Sumber gambar: IRIB Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s