Melestarikan Bahasa Malindo

Majalah Tempo, 31 Mar 2013. Ahmad Sahidah, Dosen filsafat dan etika Universitas Utara Malaysia

Setelah sering didera pertikaian, gagasan bahasa Malaysia-Indonesia mungkin hanya tinggal kenangan. Sepertinya dua negara ini tak lagi perlu bersepakat untuk mendekatkan kebahasaan dari pelbagai segi, seperti ejaan, sebutan, dan peristilahan. Ketika usulan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional dilontarkan, Malaysia lebih memilih melakukan kegiatan nyata dengan lomba pidato dalam bahasa Melayu. Mahasiswa yang sedang belajar bahasa Malaysia dari seluruh dunia, termasuk dari Rusia dan negara-negara Asia Tengah, berpartisipasi dalam kegiatan lomba tersebut.

Meskipun penyatuan secara menyeluruh tidak mungkin, karena penyerapan istilah bahasa Malaysia lebih cenderung pada bahasa Inggris dan Indonesia berasal dari Belanda, pa­da hakikatnya sumber rujukan asal kedua bahasa negara serumpun ini adalah bahasa Melayu. Dalam sejarahnya, menurut Aminuddin Wahid (1958), panitia pembentukan istilah­ Malaysia pada mulanya bersikap tertutup, yaitu sejauh mungkin mencari padanan dalam bahasa Melayu dalam menyerap istilah teknis asing, seperti dari lema Inggris, Cina, dan Yunani. Malah dalam pedoman pertama (1961), kalau istilah serupa tidak ditemukan dalam bahasa sasaran, bahasa Malaysia bisa meminjam dari Indonesia, seperti istilah bengkel atau lokakarya untuk kata workshop. Kata ini ditandai dengan IB (Indonesia-Belanda) dalam Kamus Dewan dan Bahasa.

Tentu, dalam perkembangannya, banyak sumber istilah kedua bahasa ini yang berasal dari bahasa Inggris. Hanya, dalam penyerapan istilah, kita lebih memilih menggunakan kaidah pinjaman dengan penyesuaian pengucapan, seperti facilitator menjadi fasilitator, sementara warga Malaysia masih berusaha menyerapnya dengan kosakata Melayu yang mengandaikan pengertian kata asal, yaitu pemudah cara dan pemudah kerja. Tak ayal, di negeri jiran, kata fasilitas disebut dengan kemudahan. Misalnya, pemerintah telah berhasil membangun kemudahan awam (baca: fasilitas publik), seperti toilet umum, lapangan olahraga, dan pasar.

Sebenarnya bahasa Indonesia dan Malaysia telah mencoba menerjemahkan istilah asing dengan memanfaatkan khazanah “setempat”, seperti psychology (ilmu jiwa), mathematics (ilmu hitung), dan biology (ilmu hayat). Meskipun ilmu hayat masih ditemukan dalam kedua kamus masing-masing sebagai kata yang bersinonim dengan biologi, penggunaannya tak lagi populer karena biologi, matematika, dan psikologi seakan-akan jauh lebih tepat dan gagah. Perasaan seperti ini mungkin wajar karena dua bahasa tersebut sebagai bahasa akademik masih relatif baru dibanding bahasa Inggris.

Mengingat bahasa Inggris digunakan dengan leluasa di kedua negara, tentu penggunaan bahasa yang taat asas perlu ditekankan dengan tujuan memantapkan kedudukan bahasa ini sebelum ditetapkan sebagai bahasa dunia. Selain itu, masalah lain yang sering muncul adalah penggunaan bahasa campur aduk, bahasa nasional dan Inggris, yang di Malaysia dikenal dengan bahasa rojak. Apalagi dengan adanya media sosial Twitter yang membatasi penulisan sebanyak 140 karakter, penulisan kalimat Inggris lebih diutamakan karena lebih ringkas. Bagaimanapun, bahasa Indonesia dan Malaysia sama-sama menghadapi ancaman kemusnahan akibat keengganan pemakainya untuk berlaku tertib.

Bagaimanapun, kehendak kedua negara untuk menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa bersama telah dirintis sebelum kemerdekaan Malaysia. Dalam kongres bahasa Melayu dan Persuratan ke-3 pada 1950-an, Sukarno mengirim wakil Indonesia, Profesor Priono, Menteri Pendidikan, dan Hamka, seorang ulama-sastrawan. Setelah kemerdekaan Tanah Semenanjung dari Inggris, usaha untuk mempersatukan bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia semakin kuat. Karena itu, pada 4-7 Desember 1959, untuk mewujudkan bahasa Malindo, tiap pengguna bahasa sedapat mungkin menggunakan ejaan dan istilah yang seragam. Meskipun kesepakatan sistem Malindo telah ditandatangani dalam pertemuan tersebut, penggunaannya baru dilaksanakan pada 1962.

Sayangnya, tak lama setelah dipraktikkan, konflik dua negara serumpun meruyak. Konfrontasi Indonesia-Malaysia telah mengakhiri kesempatan untuk terus menyuburkan penyeragaman bahasa. Namun, setelah usai, mereka kembali merintis untuk menyemai kembali perhubungan di antara keduanya dalam menyatukan dua kaidah linguistik agar bahasa serumpun ini tidak semakin jauh. Malah, pada 1985, Singapura diundang sebagai pemerhati, dan Brunei Darussalam secara resmi bergabung, sehingga tak lagi Majelis Bahasa Indonesia dan Malaysia (MBIM), tapi MABBIM, di mana B yang pertama adalah Brunei Darussalam. Dalam laman sesawang Dewan Bahasa Pustaka, pengunjung bisa membuka situs daring (dalam jaringan)-nya untuk menemukan kosakata ketiga bahasa serumpun ini bersama arti masing-masing.

Karena itu, untuk menaikkan derajat bahasa Melayu/Indonesia sebagai bahasa internasional, tentu tiap negara akan senantiasa merawat impian bersama sejak dulu agar bahasa Melayu sebagai lingua franca Nusantara bisa dilestarikan. Apalagi kedua negara ini, melalui Lion Air dan Nadi Sdn Bhd, berhasil memeterai kerja sama dalam patungan usaha penerbangan dengan nama Malindo. Kesepakatan ini menandakan bahwa sebuah hubungan erat dalam pelbagai bidang mungkin diwujudkan apabila di antara keduanya bisa saling memahami melalui aturan bahasa yang sama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s