STA dan Bahasa Indonesia

Bandung Mawardi* (Majalah Tempo, 12 Mei 2013)

Sutan Takdir Alisjahbana mewariskan novel-novel untuk selebrasi literasi dan peradaban di Indonesia. Penerbitan novel Tak Putus Dirundung Malang (1929), Dian yang Tak Kunjung Padam (1932), Layar Terkembang (1936), Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940), Grotta Azzura (1970), serta Kalah dan Menang (1978) mengesahkan Takdir sebagai pengarang berhaluan Barat. Sutan Takdir Alisjahbana (1908-1994) tak cuma menjadi tukang cerita. Novel-novel itu pembuktian seruan untuk menganut modernitas dan undangan berindonesia. Sutan Takdir Alisjah­bana dikenal dengan sebutan STA bercerita dan menebar ide agar pembaca bergerak ke dunia baru, mendefinisikan diri di zaman modern.

Pembaca telah akrab dengan novel STA, memberi pengakuan sebagai pengarang ampuh. Kita justru jarang menobatkan STA sebagai “pendakwah” bahasa Indonesia, penggerak peradaban modern berpijak ke bahasa Indonesia. Misi mewartakan bahasa Indonesia dijalankan STA dengan mengelola majalah Poedjangga Baroe (1933) dan Pembinaan Bahasa Indonesia (1947-1952). STA juga rajin menulis esai mengenai bahasa Indonesia, tersebar ke pelbagai koran dan majalah. Warisan buku terpenting dari STA adalah Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936), Sedjarah Bahasa Indonesia (1956), serta Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (1957).

Melalui Poedjangga Baroe, STA mengabarkan gairah membentuk Indonesia berjiwa modern. Majalah Poedjangga Baroe memiliki klaim: “madjalah kesoesasteraan dan bahasa serta kebudajaan oemoem”. Klaim ini berlanjut ke peran Poedjangga Baroe sebagai “pembawa semangat baroe” dan “pembimbing semangat baroe”. Penggunaan slogan itu menghendaki ada tebaran gagasan demi menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa modern, bahasa persatuan, bahasa peradaban, dan bahasa “kemadjoean”. Keith Foulcher (1991) menganggap agenda Poedjangga Baroe mengesankan “nasionalisme kebudayaan”, disajikan dengan idiom-idiom baru meski beraroma Barat.

Ambisi menguatkan bahasa Indonesia untuk persatuan disajikan secara impresif oleh STA dalam esai berjudul “Bahasa Indonesia, Bahasa Persatoean” (1932). STA menggunakan nama samaran Semangat Moeda. Pengakuan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, sejak 1928, membuat pemerintah kolonial geram dan dendam. Pemerintah menerapkan kebijakan ideologis di sekolah, bertujuan meminggirkan bahasa Indonesia, menghancurkan ikatan semangat persatuan. Pembelajaran bahasa Indonesia dihapuskan dalam pelajaran di HIS. Kebijakan ini berlaku di Jawa, berlanjut ke Minangkabau. Pemerintah kolonial menginginkan agenda pendidikan menggunakan bahasa daerah, “melarang” penggunaan bahasa Indonesia. STA menulis: “Njatalah, bahwa pemerintah hendak meroesakkan persatoean jang telah dianjam dan disemen dengan bahasa Indonesia. Pemerintah mengingatkan kepada tiap-tiap golongan bangsa, bahwa mereka ada mempoenjai bahasa sendiri dan haroes memakai bahasanja itoe sadja.”

Situasi pada 1930-an itu memang ideologis. Gerakan nasionalisme menginginkan bahasa Indonesia menjadi basis persatuan, menggerakkan ide dan imajinasi pembentukan Indonesia. Kebijakan pemerintah kolonial justru mau mengembalikan kaum pribumi ke pengerasan perbedaan etnis, mencipta lakon perseteruan bahasa. Misi pemerintah kolonial dilawan oleh para guru, pengarang, jurnalis, dan kaum politik. Mereka terus mengajarkan bahasa Indonesia di sekolah, menulis dengan bahasa Indonesia, berpidato politik dengan bahasa Indonesia.

STA terus berperan sebagai “pendakwah” bahasa Indonesia melalui serangkaian tulisannya. Esai berjudul “Bahasa Indonesia” di Poe­djangga Baroe edisi Agustus 1933 berisi pengharapan dan ramalan atas nasib bahasa Indonesia. STA menulis:

“… saja jakin sejakin-jakinnja akan tibanja masa jang moelia dan gilang-gemilang bagi bahasa dan teristimewa bagi kesoesasteraan bahasa Indonesia. Sesoenggoehnja kedoeanja itoe satoe, tiada dapat diceraikan lagi. Apa jang bergerak dan ­beriak, apa jang berombak dan bergelombang didalam kalboe rakjat Indonesia akan terdjelma dalam kesoesasteraan bahasa Indonesia. Dan apa jang terdjelma dalam kesoesasteraan bahasa Indonesia pastilah gerak dan riak, ombak dan gelombang didalam kalboe rakjat Indonesia.”

Tulisan STA tentang bahasa Indonesia jarang teringat, dibiarkan menua dalam buku-buku lawas. Kita enggan merawat tulisan bersejarah, menaruh sejarah dan pertumbuhan bahasa Indonesia di bilik-bilik suram. Gairah STA sebagai “pendakwah” bahasa Indonesia sejak masa 1930-an terlupakan, tak tercatat di buku sejarah Indonesia. Bahasa Indonesia sulit jadi tema di penulisan sejarah Indonesia. Ketokohan STA tak teringat, hilang dari ejawantah kebijakan-kebijakan pemerintah mengenai bahasa Indonesia di abad ke-21.

Nasib bahasa Indonesia di masa sekarang selalu gamang, mengalami keminderan saat zaman bergerak cepat. Kita tak memiliki tokoh untuk mengurusi bahasa Indonesia. Kita cuma memiliki kaum birokrat, mengurusi bahasa Indonesia berdalih “pekerjaan” dan “jabatan”. Mereka sulit mewarisi ambisi STA. Bahasa Indonesia pun semakin merana, bergerak lamban dan pucat. Bahasa Indonesia cuma tema sepele sebelum kita memejamkan mata di atas ranjang.

*) Pengelola Jagat Abjad Solo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s