Pesawat Minum di Depot

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 19 Mei 2013)

Mengapa tempat ini disebut stasiun? Pertanyaan itu selalu menggoda setiap kali saya membeli bensin di SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum). Bukankah stasiun identik dengan kereta api dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan urusan bahan bakar?

Pemakaian istilah stasiun untuk tempat pengisian bahan bakar terasa janggal dan menarik jika kita kaji ulang. Ternyata penggunaan kata stasiun untuk menyebut tempat penjualan bahan bakar memang tidak tepat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (edisi keempat), definisi lema stasiun terkait hanya dengan dua hal, kereta api dan meteorologi, yakni “1 tempat menunggu bagi calon penumpang kereta api dsb; tempat perhentian kereta api dsb; 2 Met bangunan yg dilengkapi peralatan secara khusus untuk melaksanakan fungsi tertentu”. Contohnya stasiun aerologi (stasiun udara atas) dan stasiun bumi (tempat menangkap dan menyebarkan siaran secara elektris)”.

Selain itu, penyingkatan stasiun pengisian bahan bakar umum menjadi SPBU juga tidak konsisten setidaknya jika dibandingkan dengan singkatan yang terkait dengan perminyakan juga. Jika bahan bakar minyak disingkat BBM, seharusnya singkatan untuk stasiun pengisian bahan bakar umum adalah SPBBU (bukan SPBU), yang terdengar agak panjang.

Meski singkatannya sudah dibuat lebih pendek, dari SPBBU menjadi SPBU, orang di daerah saya tetap memilih istilah pom bensin (singkatan dari pompa bensin). Bagi lidah orang daerah, pom bensin lebih nyaman dan gampang diucapkan daripada SPBU.

Singkatan tempat pengisian avtur pesawat terbang juga menarik ditelisik. Namanya DPPU, dari depot pengisian pesawat udara. Ternyata bukan hanya manusia yang pergi ke depot untuk makan dan minum. Ketika haus, pesawat juga mampir ke depot. Penggunaan kata depot dalam singkatan DPPU sebenarnya tidak terlalu salah. Selain memiliki arti “rumah kecil tempat berjualan es, rokok, obat, dsb”, di dalam KBBI Pusat Bahasa (edisi keempat), depot diartikan sebagai “tempat menyimpan barang (dagangan dsb)”.

Tentu saja avtur termasuk barang dagangan. Namun tempat menyimpan itu maknanya lebih dekat pada arti gudang, yakni tempat untuk menyimpan, bukan untuk aktivitas memberi “minum” pesawat. Mungkin saja si pencipta istilah DPPU memiliki asosiasi begini: penggunaan kata “depot” itu sebagai penegas bahwa pesawat berbeda dengan mobil dan sepeda motor. Secara prestise, pesawat lebih berkelas dibanding kendaraan lain. Itu sebabnya tempat pesawat untuk “minum” disebut depot, sedangkan mobil dan sepeda motor cukup di stasiun (SPBU).

Ada yang menganggap istilah DPPU kurang sempurna. Maka, pada kesempatan lain, muncul istilah DPBPU (depot pengisian bahan bakar pesawat udara). Istilah yang kedua ini juga belum tepat. Sebab, sama halnya dengan SPBU yang semestinya ditulis SPBBU, kalau ingin konsisten, singkatan untuk depot pengisian bahan bakar pesawat udara seharusnya DPBBPU. Atau, agar lebih pas, sebaiknya menggunakan istilah DPAPU (depot pengisian avtur pesawat udara).

Ada satu penulisan singkatan lembaga yang juga menarik dibahas. Lembaga tersebut bernama Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. Secara serampangan nama panjang lembaga itu disingkat menjadi BP MIGAS. Dilihat dari kaidah penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar, BP MIGAS masuk kategori gabungan antara singkatan dan akronim. Tapi tampaknya si pembuatnya lebih menekankan aspek keindahan bunyi. BP MIGAS memang terdengar indah, tapi apa artinya keindahan itu jika harus menafikan aturan main? BP MIGAS kalau ditulis panjang akan berbunyi “Badan Pelaksana Minyak dan Gas”. Tidak tanggung-tanggung, ada empat kata yang menghilang, yaitu “Kegiatan”, “Usaha”, “Hulu”, dan “Bumi”. Kalau disingkat, keempat kata itu menjadi K, U, H, dan B. Dan bila ditulis secara benar, singkatannya akan berbunyi “BPK UHMIGASB”.

Kini kita tidak akan pernah menjumpai BP MIGAS karena sejak akhir tahun lalu ia sudah hilang dari peredaran seiring dengan keputusan Mahkamah Konstitusi bahwa Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau BP ­MIGAS bertentangan dengan UUD 1945 alias inkonstitusional.

Sekilas, kesalahan penulisan beberapa istilah di atas tampak sepele. Namun tetap saja kita tak bisa menganggapnya sebagai hal yang remeh-temeh. Bahkan, sebaliknya, demi bahasa Indonesia, kita harus menyikapinya dengan serius.

Setidaknya ada upaya untuk mengoreksi kembali, memperbaiki, dan menyempurnakan penulisan singkatan.

Terutama untuk penulisan singkatan lembaga yang sudah go international. Bukankah bahasa menunjukkan bangsa?

*) Wartawan Jawa Pos dan Penyair

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s