Bahasa Belanda dan Soewardi Soerjaningrat

Bandung Mawardi* (Majalah Tempo, 2 Jun 2013)

Soewardi Soerjaningrat (1913) menghajar penjajah dengan pamflet berbahasa Belanda, “Als ik eens Nederlander was…” (yang artinya “Seandainya saja aku orang Belanda…”). Kaum pribumi terpelajar telah menemukan pesona dalam bahasa Belanda, menggunakannya untuk menimbulkan petaka di Hindia Belanda. Risalah itu menampar kolonial, menimbulkan kecemasan ideologis dan bahasa. Pemerintah kolonial marah, terhinakan oleh kefasihan intelektual pribumi memamerkan pesona bahasa Belanda tapi mengandung petaka politik di negeri jajahan. Tjipto Mangoenkoesoemo (1913) turut mengejek penguasa atas sebaran risalah subversif. Bahasa Belanda justru jadi alat perlawanan, menguak aib kolonialisme. Tjipto Mangoenkoesoemo menjuluki risalah Soewardi Soerjaningrat sebagai “tulisan meracau” dari “jiwa paria” untuk menghina “tuan-tuan kulit putih”.

Bahasa Belanda terbukti mengandung pesona dan petaka. Soewardi Soerjaningrat dan Tjipto Mangoenkoesoemo insaf bahwa bahasa milik penjajah bisa digunakan untuk menghina penjajah. Pesona itu terus berlanjut melalui pengajaran bahasa Belanda di sekolah-sekolah. Kaum pribumi perlahan menggandrungi bahasa Belanda, mempelajari dan menggunakannya dalam urusan politik, ekonomi, pendidikan, seni, dan adab. Bahasa Belanda turut mengantar kaum pribumi menunaikan misi-misi modernitas.

Pesona semakin dimunculkan melalui penerbitan Kitab Kursus Besar Akan Beladjar Bahasa Wolanda (1919) oleh Th. A. du Mosch. Buku ini terbit untuk kalangan umum, berbeda dengan buku-buku pelajaran bahasa Belanda di sekolah. Th. A. du Mosch sengaja menggunakan “bahasa Melajoe-bitjara” dalam mengajarkan bahasa Belanda kepada publik. Misi penerbitan buku: “Dengan istimewa kita pilih ini bahasa djoega, lebih lagi dari pada jang terseboet Melajoe Tinggi, soepaja sekalian anak-anak negeri, tiada perdoeli siapa, bisa dapat mengarti, tida dengan beberapa soesah, apa berada terkarang kitab ini, akan tjari kepandeian beladjar bitjara dan toelis bahasa Wolanda, jang begitoe elok adanja.” Bahasa Belanda dianggap “elok”, penting dipelajari oleh pribumi agar beradab, melalui “proses” menjadi manusia modern.

Pesona bahasa Belanda terus menggoda kaum pribumi. Bahasa penjajah tekun dipelajari oleh murid-murid di sekolah, digunakan dalam tulisan oleh kaum elite terpelajar dan pengarang, dituturkan dalam percakapan dan pidato politik. Ikhtiar melihat “doenia baroe” sering terlaksana melalui bahasa Belanda. Kita bisa mengenang hasrat para pengarang dan intelektual membaca buku-buku berbahasa Belanda, mengungkapkan ide-imajinasi menggunakan bahasa Belanda, sejak 1920-an.

H.B. Jassin (1941) menyatakan pesona bahasa Belanda dipengaruhi oleh model pengajaran di sekolah. Pesona bahasa Belanda bersaing dengan pesona bahasa Indonesia. H.B. Jassin memuji siasat pengajaran bahasa Belanda: “Disitu diadjarkan merasai kesenian, keindahan bahasa, bukan tjuma dengan dja­lan mengadjarkan paramasastra atau gramatika semata-mata, melainkan dengan mendalami pula sedjarah bahasa itu.”

Pesona tak kekal. Bahasa Belanda perlahan tersingkir oleh bahasa Indonesia. Kaum pergerakan politik, jurnalis, pengarang, dan guru telah sanggup menjadikan bahasa Indonesia sebagai pembentuk identitas dan ideologi. Bahasa Indonesia tampil dengan pesona melebihi bahasa Belanda. Sutan Takdir Alisjahbana (1951) mengingatkan bahwa “ketersingkiran” bahasa Belanda membuktikan keampuhan bahasa Indonesia. Situasi pendidikan di Indonesia pada 1950-an masih memerlukan buku-buku referensi berbahasa Belanda. Para dosen dan mahasiswa mesti mengerti bahasa Belanda untuk mempelajari pelbagai ilmu. Arus nasionalisme menimbulkan sentimen atas bahasa Belanda, menguak memori kolonialisme. Sutan Takdir Alisjahbana mengingatkan bahwa kita memiliki hak menghilangkan bahasa Belanda, tapi harus menyadari akibatnya di dunia pendidikan. Bahasa Belanda pun perlahan tersingkir dan terlupakan. Kita tak berkelanjutan menggerakkan Indonesia dengan bahasa Belanda meski mengandung risiko intelektualitas dan narasi sejarah bahasa Belanda yang memudar.

Nasib bahasa Belanda semakin tersingkir pada 1950-an. Van Diffelen (1947) dalam pidato radio mengajukan serangan politis atas penghapusan bahasa Belanda di Indonesia. Para politikus dan sarjana kolonial masih beranggapan penghapusan bahasa Belanda oleh pemerintah Indonesia bisa menimbulkan kerugian besar. Kaum terpelajar Indonesia dianggap bakal mengalami kesulitan dalam mengedarkan pengertian Barat atau paham kemodernan jika tak berbahasa Belanda (Kees Groeneboer, Jalan ke Barat: Bahasa Belanda di Hindia Belanda 1600-1950, 1995). Harapan-harapan mereka tak terkabulkan. Bahasa Belanda terbukti dihilangkan dan dilupakan.

Kita mengenang kuasa bahasa Belanda sebagai bahasa politik-kolonialisme dan bahasa modern. Masa itu berlalu. Kita tak pernah meratap saat “menghilangkan” bahasa Belanda. Kita juga enggan bersedih jika tak mengerti tentang keseja­rahan bahasa Belanda di Indonesia. Kita juga tak ingin percaya bahwa tak bisa berbahasa Belanda berarti pemahaman sejarah Indonesia kita tak lengkap, meski banyak literatur dan dokumen tentang Indonesia prakemerdekaan yang tersedia dalam bahasa Belanda.

*) Pengelola Jagat Abjad Solo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s