Hukum DM: Apa dan Siapa yang Palsu?

Bambang Bujono* (Majalah Tempo, 16 Jun 2013)

KONON, para kolektor lukisan heboh; seorang kolektor penting memajang lukisan Sudjojono palsu di galerinya. Bukan, kata yang membantah; kolektor itu memajang lukisan palsu Sudjojono.

Gawat! “Memajang lukisan Sudjojono palsu”; jadi ada Su­djojono yang bukan sebenarnya, dan juga melukis seperti halnya Bapak Seni Lukis Modern Indonesia yang kita ketahui itu. Lalu seperti apa lukisan Sudjojono palsu itu? Tentu mirip lukisan Sudjojono sebenarnya; kalau tidak, para kolektor tidak akan heboh.

Kalimat bahasa Indonesia mengikuti hukum DM (diterangkan-menerangkan). Jadi “lukisan” menerangkan “memajang” (memajang apa?); “Sudjojono” menerangkan “memajang lukisan” (memajang lukisan apa/siapa?); “palsu” menerangkan “memajang lukisan Sudjojono (memajang lukisan Sudjojono yang mana?).

Namun, kalau diketahui bahwa lukisan tersebut karya Sudjojono palsu, para kolektor tak akan heboh. Yang hendak mengoleksi lukisan tersebut menyadari sepenuhnya bahwa itu bukan lukisan Sudjojono asli; publik pun memakluminya. Yang tak hendak mengoleksinya, ya, terserah saja.

Bila demikian, yang membantah dan menyodorkan kalimat lain yang menjelaskan kehebohan itu? Kolektor tersebut memajang lukisan palsu Sudjojono? Dengan kata lain, lukisan tersebut memang karya Sudjojono, tapi itu lukisan palsu?

Situs Kamus Besar Bahasa Indonesia (http://bahasa.kemdiknas.go.id) menerangkan arti “palsu” seperti ini: tidak tulen, tidak sah, lancung. Arti kedua: tiruan. Yang ketiga: gadungan. Keempat: curang, tidak jujur. Kelima: sumbang.

Jadi yang dipajang kolektor tersebut bisa lukisan tidak tulen, artinya bukan lukisan, misalnya karya tersebut hasil cetak digital (dari lukisan Sudjojono asli). Bisa juga lukisan itu tidak sah, tidak ada tanda-tanda atau keterangan yang menunjukkan lukisan itu diciptakan Sudjojono. Dalam hal ini, bisa saja kemudian terbukti bahwa lukisan tersebut benar dilukis oleh Sudjojono, dan seandainya pelukisnya masih ada, bisa ia diminta menandatangani lukisan tersebut dan menyertakan surat keterangan bahwa itu memang lukisan dia.

Atau lukisan itu tiruan dari sebuah lukisan Sudjojono; jadi ada dua lukisan yang mirip segalanya (obyek, warna, garis, barik, dan lain-lain). Hanya, yang satu tiruan dari yang satu lagi; yang satu benar-benar dilukis oleh Sudjojono, yang satu lagi entah oleh siapa.

Walhasil, “memajang lukisan palsu Sudjojono” lebih masuk akal daripada “memajang lukisan Sudjojono palsu”. Sudjojono palsu tampaknya sulit ditemukan, kecuali di panggung sandiwara namun ini tak disebut palsu, tapi ada aktor yang berperan sebagai Sudjojono, dan kalau di cerita ada dua Sudjojono, kira-kira judul sandiwara itu adalah Sudjojono Kembar, bukan palsu.

Namun, meski masuk akal, kalimat “memajang lukisan palsu Sudjojono” belum jelas benar karena arti “lukisan palsu” di situ ada beberapa; arti mana yang dimaksud oleh kehebohan tempo hari? Pasti arti palsu dalam hal ini bukan sumbang karena itu lebih untuk suara. Juga bukan gadungan karena arti yang ini lebih pas untuk orang, misalnya polisi gadungan, bukan polisi sebenarnya. Juga lukisan palsu bukan lukisan tidak jujur atau curang, karena yang bisa tidak jujur atau curang pelukisnya, bukan lukisannya.

Juga tampaknya lukisan palsu dimaksud bukan lukisan tiruan, karena tidak ada lukisan Sudjojono yang dijiplak persis. Yang ditiru tampaknya gaya atau corak Sudjojono. Arti lukisan palsu agaknya lebih dekat dengan uang palsu, yakni uang yang tidak sah, bukan dicetak oleh negara, dan tujuan utama pencetak uang palsu memang untuk keuntungan materiil semata.

Walhasil, lukisan palsu dimaksud rupanya lukisan yang dinyatakan sebagai karya Sudjojono tapi tidak atau belum sah, karena tanda-tanda kesudjojonoan dan/atau keterangannya (misalnya asal-usul lukisan itu) meragukan atau belum jelas. Agak berbeda dengan uang palsu yang lebih cepat bisa diketahui dengan melihat, meraba, dan menerawang, apalagi dengan lampu pendeteksian uang palsu, lukisan yang belum jelas kesudjojonoannya ini tidak bisa cepat diungkapkan kebenarannya.

Arti yang jelas tentang “lukisan palsu” menjadi perlu ketika “lukisan palsu” itu dipersoalkan. Kejelasan tersebut diperlukan untuk menemukan jalan keluar, agar tidak semata kepalsuan (atau keaslian) ditentukan satu pihak tanpa bukti kuat. Lalu seperti apa bukti kuat itu? Terserah pada dunia seni rupa kita; mungkin cukup sekadar perbandingan ciri khas antara yang palsu dan asli (gayanya, sapuannya, warnanya, obyeknya, dan sebagainya); mungkin diperlukan uji bahan sehingga diketahui kapan lukisan dibuat, sesuai dengan masa hidup dan perkembangan karya pelukis yang dimaksud atau tidak; bisa juga dibutuhkan pelacakan asal-usul lukisan tersebut sehingga benar diketahui sumber aslinya: pelukis yang dimaksud atau ternyata bukan.

*) Wartawan, pengulas seni rupa

Iklan

One thought on “Hukum DM: Apa dan Siapa yang Palsu?

  1. lukisan palsu Sudjojono juga bisa berarti lukisan tiruan yang dibuat oleh S lho (bayangkan “lukisan palsu Elmyr de Hory” atau “lukisan palsu Yves Chaudron”). atau lukisan S yang berjudul palsu (rada maksa, judul lukisan diawali Kapital?). tetap perlu informasi tambahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s