Gaya Cakap Mulut atau Surat

Ahmad Sahidah* (Majalah Tempo, 30 Jun 2013)

Secara linguistik, bahasa Malaysia mempunyai banyak kesamaan dengan bahasa Indonesia karena keduanya mempunyai rujukan yang sama, bahasa Melayu. Tentu, ini bukan kabar baru. Ini sebuah pengetahuan umum. Lalu bagaimana kaitan bahasa Melayu dengan bahasa-bahasa daerah di Nusantara? Erat. Bahasa Melayu adalah alat komunikasi yang menyatukan warga di kawasan ini. Namun dalam penggunaan tertentu kedua bahasa ini mengalami titik pisah, tapi bertemu di bahasa daerah.

Kata pèlat adalah salah satu contoh. Saya tidak pernah mendengar warga Malaysia menyebut cèdal sebagai padanannya, seperti yang biasa diungkapkan dalam percakapan sehari-hari di sini karena lema ini tak ada dalam percakapan keseharian dan Kamus Dewan Bahasa, tapi bisa ditemui dalam Kamus Besar Bahasa Melayu Utusan (halaman 309). Sedangkan kata cèdal dianggap tidak baku di mana KBBI memerikan tanda anak panah dan lema cadèl (hlm. 249), yang berarti kurang sempurna mengucapkan kata sehingga bunyi [r] dilafalkan [l]; pèlat, telor (halaman 234).

Karena pèlat dalam bahasa kita hanya dipadankan dengan cadèl, ia dibedakan dengan dialek. Maka kita tidak menyebut cadèl pada pengucapkan kosakata etnis tertentu yang tidak sama dengan bahasa baku. Sedangkan pèlat dalam bahasa Malaysia juga disamakan dengan dialek, sehingga penggunaan dalam bahasa lisan dan tulisan kedua digunakan secara silih berganti. Misalnya, dialek Kedah, negara bagian utara, mengganti huruf [r] pada huruf terakhir sebuah kata dengan [q], seperti besa[r] menjadi besa[q].

Fenomena di atas menunjukkan bahwa ada dua gaya dalam penggunaan bahasa seperti diungkap oleh Za’ba, pendeta (pakar) bahasa Malaysia berdarah Minangkabau. Pertama, gaya cakap mulut, dan kedua, gaya surat.

Dalam sehari-hari, dua warga negara ini sering mengungkapkan kosakata yang berbeda untuk benda yang sama, seperti sendok dan sudu. Selama delapan tahun menetap di Malaysia, saya belum pernah mendengar warga jiran menyebut sendok, meskipun kata ini ada dalam kamus mereka dengan sebutan senduk. Pengucapan kata ini lebih dekat secara fonologis dengan bahasa Madura. Uniknya, orang-orang di sana menyebut binatang melata cobra dengan ular senduk, bukan ular sudu.

Menariknya, dalam sebuah kesempatan, saya pernah meminta sedutan (di sini sedotan) kepada Kak Musri Ayu, pemilik warung makan. Ia pun terpegun karena tidak paham. Lalu saya serta-merta menukar pada kata straw. Dengan tersenyum dan tertawa kecil, ia memberikan sedotan dan berkata, maklum bahasa Indonesia saya tak reti (mengerti). Kata straw telah diserap ke dalam bahasa Malaysia sebagai padanan sedutan, tanpa perubahan ejaan sesuai dengan bunyi lema ini sebagaimana serapan lain, seperti fashion menjadi fesyen.

Betapapun kelisanan dan kebakuan harus seiring, kita acap kali tidak setia dalam menyampaikan gagasan dalam bentuk lisan. Hal ini disebabkan oleh susunan bahasa baku yang kaku, sementara gaya lisan yang berkesan. Masalahnya, kelisanan kadang telah semena-mena memperlakukan kata. Misalnya, kelainan yang berasal dari kata lain dengan imbuhan ke-an. Meskipun kata ini mempunyai makna perbedaan, yang lebih menonjol dalam kelisanan adalah arti kedua, perihal menyalahi (atau menyimpang dari kebiasaan) dan cacat. Tak ayal, kelainan tidak akan digunakan terkait dengan keadaan orang atau barang. Hampir-hampir makna pertama tak pernah hinggap di mulut dalam percakapan.

Sedangkan di Malaysia, kita akan sering membaca dan mendengar kata kelainan. Makna kedua dan ketiga tidak hadir dalam kelisanan dan ketulisan. Misalnya, simak sebuah judul berita surat kabar, “ATM Janjikan Kelainan Sempena Karnival Karangkraf 2013” (Sinar Harian, 28 Januari 2013)! Artinya, dalam pameran tersebut, Angkatan Tentara Malaysia akan menyajikan persembahan yang lain dari yang lain. Kelainan lebih dipahami sebagai kelebihan, bukan kekurangan. Tentu, ini bisa dipahami karena Kamus Dewan hanya memuat arti kelainan dalam pengertian positif (halaman 746), sementara kita mengandaikan positif dan negatif, meskipun yang terakhir lebih menonjol.

Ternyata kata kelainan dalam bahasa Madura, kalaènan, juga menunjukkan makna yang serupa dengan bahasa Malaysia. Untuk menyebut beda, warga pulau garam ini menggunakan kata laèn. Namun, apabila lema ini disisipi imbuhan ka-an (bukan ke-an), maknanya menunjukkan perbedaan sebagai keistimewaan dan penyimpangan dalam percakapan. Hanya, apabila perilaku aneh dilakukan oleh keluarga kiai, mereka menyebutnya khèlap (khilaf) sebagai tanda penghormatan. Lagi-lagi, pengertian kata tersebut secara lisan dan baku tidak seiring. Sebab, dalam kamus, kata khilaf diartikan sebagai salah atau keliru dengan tidak sengaja. Lebih aneh lagi kata yang diambil dari bahasa Arab ini tak mengandaikan arti seperti yang diterakan dalam KBBI.

Kalau begitu, bukankah kita sering menunjukkan kelainan dalam berbahasa?

*) Dosen filsafat dan etika Universitas Utara Malaysia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s