Anomi dan Anomali

Kasijanto Sastrodinomo* (Majalah Tempo, 14 Jul 2013)

TIBA-TIBA hujan luruh pada siang yang terik itu. “Heran, semestinya sekarang kemarau,” ujar seorang perempuan berpenampilan chick di lobi sebuah gedung perkantoran di Jakarta. Lelaki berdasi yang berdiri di sebelahnya menyahut, “Kan, anomi cuaca.” Bukan anomi, melainkan anomali-perempuan itu mengoreksi ucapan teman bicaranya. Si teman pun mengangguk. Ia berkilah sengaja memendekkan anomali jadi anomi sebagai bahasa obrolan yang santai. Penyingkatan itu dia padankan dengan sebutan Amerika yang biasa diringkas jadi Amrik sehingga terdengar unik. Obrolan terpotong setelah sebuah mobil merah saga merapat, lalu membawa mereka pergi.

Ekspresi bahasa lelaki berdasi itu menarik dicermati. Ia “mengedit” kata anomali menjadi kata yang berbunyi sama dengan kata yang sudah terbentuk sebelumnya. Artinya, sudah ada kata anomi sebelum muncul “anomi” versi pemendekan itu. Anomi yang asli ini berbeda arti dengan “anomi” jadi-jadian-yang tak lain anomali itu. Dengan kata lain, anomi tidak sama dengan anomali. Yang tidak terungkap dari obrolan di lobi itu adalah apakah keduanya-terlebih si berdasi-juga mengenali kata anomi yang sebenarnya ini. Bila “ya”, berarti ia sekadar memelesetkan ucapan anomali tanpa bermaksud mengacaukan pengertiannya dengan anomi asli.

Dalam bahasa Latin, anomia identik dengan lawless alias nirhukum atau ingkar terhadap hukum. Diserap ke dalam bahasa Inggris, anomy atau anomie, kata itu menurut The Concise Oxford Dictionary (1987) berarti “lack of the usual social standards in group or person”. Takrif senada, lebih detail, terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa: (1) perilaku tanpa arah dan apatis; (2) keadaan masyarakat yang sinis atau negatif terhadap sistem norma, hilangnya kewibawaan hukum, dan disorganisasi hubungan antarmanusia; dan (3) gejala ketidakseimbangan psikologis yang dapat melahirkan perilaku menyimpang. Intinya, anomi merujuk pada keadaan (sistem) sosial yang berkonotasi kacau dan membingungkan.

Di tangan sosiolog Émile Durkheim, anomi menjadi konsep sosiologi untuk menjelaskan masalah masyarakat Eropa era industrialisasi abad ke-19. Dalam risalah klasiknya, The Division of Labour in Society (1893), Durkheim menilai bahwa diferensiasi sosial akibat pertumbuhan industri berkembang lebih cepat ketimbang aturan sosial yang berlaku, bahkan norma itu raib, sehingga timbul perilaku individu yang tidak teratur dan tidak terkendali. Dalam bukunya yang lain, Suicide (1897), Durkheim menengarai anomi sebagai salah satu penyebab meningkatnya tindak bunuh diri pada “masyarakat organik” saat terjadi depresi dan menyurutnya regulasi ekonomi serta norma sosial.

Kata anomi, jadinya, menampakkan sisi “kecemasan” pada masyarakat modern-lanjut. Pakar sosiologi yang lain, Robert Merton, menggali anomi dari aspek agak berbeda. Ia memakainya untuk mengkaji perilaku menyimpang sebagian masyarakat (di Amerika Serikat). Anomi, kata Merton, terjadi tatkala struktur sosial (yakni keseluruhan hubungan interpersonal) tidak bersesuaian dengan struktur kultural (yakni keseluruhan sistem nilai dan norma). Sebagian masyarakat mampu menjangkau tujuan kultural dengan cara mengikuti nilai dan norma, tapi sebagian yang lain tak mampu menggapainya dengan cara yang sama. Kelompok warga yang disebut terakhir itulah yang dipandang berperilaku menyimpang.

Sementara itu, kata anomali tak kalah mencemaskan karena mengandung makna kelainan, keganjilan, keanehan, atau penyimpangan dari hal biasa. Hanya, kecemasan itu-bila terjadi-bukanlah “kecemasan eksistensial” manusiawi. Kata itu lebih banyak bersangkut-paut dengan benda-benda abstrak ataupun konkret. Akhir-akhir ini kata itu banyak disiarkan oleh media setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengumumkan perkiraan penyimpangan pola cuaca selama tahun ini. Hujan akan turun sepanjang tahun, berselang-seling atau berbarengan dengan pancaran panas matahari dalam satu momen yang sama. Bulan Mei, semestinya, masuk musim kemarau. Nyatanya, hujan masih mengguyur hingga Juni-seperti “ramalan” penyair Sapardi Djoko Damono lewat puisinya, “Hujan Bulan Juni”.

Kata anomali kemudian berkembang sebagai istilah berbagai bidang ilmu. Misalnya, dalam Linguistik, anomali menunjuk pada kalimat menyimpang jika dilihat dari sudut konvensi gramatikal atau semantis suatu bahasa. Dalam psikologi, anomali adalah tanda penyimpangan (tingkah laku individu misalnya) dari hal-hal yang teratur atau normal, tapi tanpa mengandung pengertian kondisi patologis. Dengan makna seperti itu, anomali, bagaimanapun, menjadi kata peringatan yang patut diwaspadai. Anomali cuaca, misalnya, bisa menimbulkan bencana alam dan gagal panen petani dan nelayan. Atau mencemaskan pelayar dan penerbang.

Di beberapa tempat di Jakarta-mungkin juga di kota lain-bermunculan kedai modern yang menawarkan “kopi anomali”. Terserah bagaimana mau ditafsirkan. Namun, sebagai pecandu kopi, saya memaknai “anomali” pada kopi itu sebagai keluarbiasaan, baik rasa maupun khazanah jenisnya yang amat beragam. Hal lain, film Modus Anomali (2012) garapan sutradara Joko Anwar mungkin juga tergolong “anomali” karena menggaet Bucheon Award di Network of Asian Fantastic Films di Korea Selatan. Anomali ini tidak untuk dicemaskan, tapi dibanggakan.

*) Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s