Sekat Kultural Istilah Agama

Rohman Budijanto* (Majalah Tempo, 21 Jul 2013)

SAAT ujian bahasa Indonesia sekolah menengah atas, saya pernah menemukan soal seperti ini. Dari bahasa apa kata agama, pahala, dosa, surga, dan neraka? Jawabannya pilihan ganda: Arab, Inggris, Belanda, Sanskerta. Ini soal yang cukup menjebak. Lima kata tadi lebih mudah diasosiasikan berasal dari bahasa Arab, karena para pengkhotbah dan dai sering menyebutkannya. Namun, jika dikaji sedikit lebih dalam, mudah diketahui kata-kata itu berasal dari bahasa Sanskerta atau bahasa kultural Hindu.

Kelima kata tersebut juga serumpun dengan kata sembahyang. Kaum muslim puritan mulai meninggalkan kata bentukan yang melibatkan bahasa Sanskerta ini, karena dimaknai berasal dari kata sembah dan hyang. Tuhan dalam Islam tak disebut hyang, tapi ini sebutan untuk umat Hindu. Lagi pula, kalau muslim mau menyesuaikan kata sembahyang dengan sembahallah, misalnya, agak terlalu memaksa. Karena itulah kata sembahyang kerap diganti dengan istilah asli dari bahasa Arab, yakni shalat atau salat atau sholat, sesuai dengan ejaan yang disukai.

Peminggiran kata sembahyang dari khazanah bahasa kaum muslim itu tak terjadi dengan agama, pahala, dosa, surga, dan neraka. Para khatib dan dai tetap nyaman menggunakan kata pahala dan dosa untuk menggambarkan sanksi transendental dari perbuatan manusia. Mereka tak berusaha mengganti dengan kata dari bahasa Arab, bahasa asli Islam, misalnya dzanbun, itsmun, rijsun, wizrun untuk dosa, dan tsawabun, ajrun untuk pahala. Bahkan kaum muslim awam tetap tak terlalu mengenal kata-kata Arab tadi.

Namun, untuk agama, surga, dan neraka, pendakwah punya variasi bahasa tanpa meminggirkan kedua kata itu. Meski kerap dipakai din sebagai pengganti Islam, pemakaian istilah agama tak terhindarkan. Misalnya dai menyebut “salat adalah tiang agama”, tak pernah diganti “salat tiang din”. Surga kerap disebut jannah atau firdaus, sedangkan neraka disebut naar atau jahannam. Sebenarnya ada kata lain yang maknanya surga, yakni ‘adn atau eden. Namun kata ini lebih populer di kalangan kristiani, yakni taman eden.

Memang, meskipun istilah dalam agama Abrahamik atau Ibrahimiyah (Yahudi, Kristen, Islam) banyak kesamaan, tetap terjadi pemilahan karena tradisi.

Contoh lain, Al-Quran juga menyebut diri sebagai Alkitab (Al-Baqarah: 2). Namun kaum muslim Indonesia jarang memakai padanan istilah Alkitab untuk Al-Quran. Meskipun kaum muslim menyebut kitab kristiani sebagai Injil, orang Kristen Indonesia lebih banyak menyebut kitab sucinya sebagai Alkitab (terdiri atas Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru). Penerbitnya pun disebut Lembaga Alkitab Indonesia.

Ada contoh lain pemilahan serapan kata karena agama. Jemaah dan jemaat punya akar kata yang sama dalam bahasa Arab. Tapi, kita tahu, kaum muslim menggunakan kata jemaah, sedangkan umat kristiani menggunakan kata jemaat. Dalam pemakaian umum jemaah dan jemaat ini juga tak bisa dipertukarkan, misal korupsi berjemaah tak bisa diganti korupsi berjemaat. Jemaah yang dimaknai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai “kumpulan atau rombongan beribadah” memang rusak makna bila didampingkan dengan korupsi, karena artinya jadi berkomplot. Mestinya korupsi berkomplot, bukan korupsi berjemaah.

Jarak antarkeyakinan memang bisa menimbulkan pembedaan penyebutan. Namun bisa juga istilah khusus umat beragama dipakai bersama-sama dengan nyaman. Kata persamuhan, misalnya. Bentukan dari kata samuh ini dimaknai oleh KBBI sebagai pertemuan (persidangan, kongres) untuk membahas sesuatu. Kata persamuhan, dengan variasi pasamuan, dipakai oleh umat Hindu, Buddha, dan Kristen Jawa untuk pertemuan agung mereka.

Adapun kaum muslim tak memakai istilah persamuhan, tapi muktamar. Kebanyakan organisasi kemasyarakatan, partai, atau kelompok muslim memakai istilah ini ketika mereka mengadakan rapat puncak. Tapi tak selalu organisasi muslim memakai istilah muktamar. Organisasi profesional, seperti Ikatan Dokter Indonesia, nyaman-nyaman saja menjadikan muktamar sebagai istilah pertemuan puncak mereka.

Sejauh ini, evolusi kultural, baik berupa perangkulan maupun penyekatan, dalam penggunaan istilah bahasa dalam agama berlangsung damai-damai saja di Indonesia.

Tak ada istilah yang cukup eksklusif bagi suatu agama dan tak boleh dipakai agama lain. Bahkan Islam dan Kristen di sini berbagi kata Allah untuk menyebut Tuhan. Hanya pelafalannya beda. Muslim membunyikannya dengan “alloh” (ditambahi subhanahu wa taala, Mahasuci dan Mahatinggi). Sedangkan umat kristiani melafalkannya “alah”. Perbedaan ini disikapi rileks, dan tak perlu sampai ke pengadilan seperti di Malaysia.

*) Wartawan Jawa Pos

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s