Tamu Wajib Lapor

F. Rahardi*, KOMPAS, 27 Jul 2013

Tulisan ”Tamu harap lapor” atau ”Tamu wajib lapor” banyak dijumpai di pos satpam (satuan pengamanan), di gerbang perkantoran, pabrik, juga perumahan. Maknanya, orang yang datang sebagai tamu di kantor, pabrik, atau kompleks perumahan itu diharapkan atau diwajibkan melaporkan sesuatu ke satpam yang berada di pos itu. Isi laporannya identitas diri, tempat yang dituju, orang yang akan ditemui, dan maksud kedatangan. Hal seperti ini wajar dalam suasana perang di sebuah pos militer, tetapi berlebihan di sebuah kantor, pabrik, apalagi kompleks perumahan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, tamu adalah orang yang datang berkunjung ke tempat orang lain atau ke perjamuan, atau orang yang datang untuk menginap (di hotel), untuk membeli-beli (di toko). Kamus, yang merupakan cermin pengertian masyarakat, mendeskripsi tamu sebagai pihak terhormat hingga wajib disambut, kalau perlu dijamu. Dan memang demikianlah yang terjadi selama ini. Masih menurut KBBI, lapor bermakna ’memberi tahu’. Misalnya lapor untuk masuk atau keluar meninggalkan hotel. Di sini tamu memang ”wajib lapor”, bahkan ketika meninggalkan hotel, tamu wajib melunasi semua tagihan yang menjadi beban dan tanggung jawabnya.

Anehnya, di hotel mana pun, mulai dari melati-1 sampai bintang-5, tak pernah dijumpai tulisan ”Tamu harap lapor” seperti halnya di berbagai pos satpam tadi. Meskipun tak ada tulisan ”Tamu harap lapor”, semua tamu hotel selalu lapor minta kunci kamar ketika masuk, dan lapor serta membayar tagihan ketika meninggalkan hotel. Sebaliknya, di pos satpam kompleks-kompleks perumahan yang bertulisan ”Tamu wajib lapor”, hampir tak pernah ada tamu yang datang ke pos satpam itu melaporkan sesuatu. Andaikan ada tamu yang datang ke pos satpam, tujuannya bukan lapor, melainkan bertanya. Yang ditanyakan tamu biasanya alamat yang akan dikunjunginya.

Meskipun tamu yang melewati pos satpam lewat begitu saja tanpa melapor, satpam yang berjaga-jaga di sana hanya diam dan tak bereaksi. Tampaknya tulisan di depan pos satpam itu sekadar formalitas dan tak menuntut ditaati. Ini mirip dengan pengumuman di lingkungan Rukun Tetangga yang berbunyi: ”Tamu 1×24 jam wajib lapor”, artinya warga yang kedatangan tamu menginap diwajibkan melapor kepada ketua RT setempat. Dalam praktik tamu sampai berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun dan tak lapor juga tak pernah ditegur dan diberi sanksi.

Tulisan yang juga banyak kita jumpai di bangunan perkantoran dan pabrik adalah: ”Yang tidak berkepentingan dilarang masuk”. Padahal, tidak mungkin ada orang tanpa kepentingan sama sekali masuk ke sebuah ruangan. Iseng pun merupakan sebuah kepentingan. Juga berniat mencuri, merampok, atau merusak. Kalimat yang lebih tepat mewadahi pengertian ini adalah: ”Hanya (untuk) karyawan” dan ”Kawasan privat”. Atau lebih tegas lagi berbunyi: ”Selain karyawan dilarang masuk”.

Kantor-kantor besar modern tanpa pengumuman apa pun melengkapi karyawan mereka dengan kartu identitas yang sekaligus menjadi kunci pembuka pintu ruang hingga praktis yang bukan karyawan memang benar-benar tak bisa masuk, kecuali ada karyawan yang membukakan pintu. Di pos satpam dan resepsionis perkantoran seperti ini tak pernah ada pengumuman bahwa semua tamu wajib lapor. Akan tetapi, semua tamu yang berkunjung di kantor ini akan datang ke pos satpam atau resepsionis menyerahkan kartu identitas dan mengambil kartu tamu yang wajib ia kenakan selama berkunjung.

*) Pujangga

Iklan

One thought on “Tamu Wajib Lapor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s