Sejarah Bahasa, Sejarah Pertikaian

Bandung Mawardi* (Majalah Tempo, 1 Agu 2013)

Sejarah penelitian bahasa Jawa Kuno atau Kawi, sejak abad XIX, mengandung pertikaian di kalangan ahli bahasa. Kita bisa mengingat pertikaian mereka sebagai bukti kebermaknaan penguasaan bahasa Jawa Kuno. A. Teeuw (1975) mengingatkan bahwa penguasaan bahasa Jawa Kuno merupakan modal besar dalam penelitian bahasa-bahasa di Indonesia, dari masa lalu sampai abad XX. Kalangan sarjana Eropa bersaing untuk menjadi pakar bahasa Jawa Kuno. Mereka bermisi sama, menguak misteri bahasa Jawa Kuno dan membuat “pembakuan” mengacu pada kepentingan kolonial dan sebaran agama Kristen di Indonesia.

Tarco Roorda, Thomas Stamford Raffles, Wilhelm van Humboldt, H. Kern, dan Herman Neurbronner Van der Tuuk adalah sederet nama dalam pertikaian otoritas penguasaan bahasa Jawa Kuno. Mereka adalah ahli, mengurusi bahasa Jawa Kuno untuk digunakan membaca sejarah, sastra, politik, agama, ekonomi, adab di Jawa dan Indonesia. Tarco Roorda (1801-1874) dan H.N. Van der Tuuk (1824-1894), dua ahli bahasa Jawa Kuno, berseteru sengit demi ilmu dan harga diri. Ikhtiar memahami bahasa Jawa Kuno berimbas ke polemik kontroversial dengan melibatkan gereja, universitas, dan pemerintah kolonial.

Peran penting Roorda adalah merintis pelajaran bahasa Jawa di Belanda dan menulis buku-buku mengenai bahasa Jawa. Roorda turut “membentuk” Jawa melalui ruang akademik dan agenda literasi. Ketekunan mempelajari bahasa Jawa dan peran sebagai guru besar memunculkan legitimasi akademik, T. Roorda adalah “dewa bahasa Jawa”. Pengakuan itu menguat akibat penerbitan Javaansch-Nederlandsch Handwoordenboek (1901), kamus Jawa-Belanda susunan J.F.C. Gericke dan T. Roorda. Kamus itu pembuktian besar atas peran bahasa Jawa Kuno dalam penelitian bahasa-bahasa di Indonesia. Kamus itu menggunakan aksara Jawa untuk menuliskan kata-kata Jawa dan menggunakan aksara Latin untuk menuliskan kata-kata Belanda.

Van der Tuuk menolak anggapan Roorda bahwa gramatika bahasa Jawa adalah pijakan untuk penelitian bahasa-bahasa lokal di negeri jajahan (J.L. Swellengrebel, 2006). Roorda memang diakui telah memajukan usaha studi bahasa-bahasa di Hindia Belanda, tapi menimbulkan “sesat orientasi” akibat keberpihakan atas bahasa Jawa Kuno. Publikasi tulisan-tulisan Roorda berpengaruh besar di kalangan sarjana bahasa dan sastra. Para peneliti bahasa sering berbekal buku Javaansche Grammatica, buku tata bahasa Jawa, susunan Roorda. Pengakuan di dunia akademik dan pemerintah kolonial itu ditolak oleh Van der Tuuk. Seruan kasar dituliskan di sepucuk surat untuk Engelmann, 28 Agustus 1865: “Kita harus membentuk persekongkolan menolak Roorda.”

Pertikaian itu terjadi sejak Van der Tuuk hidup di Sumatera, menekuni bahasa Batak dan bahasa Lampung. Keputusan untuk mempelajari bahasa Jawa Kuno dibuktikan dengan bermukim di Buleleng, Bali, 1870. Gairah mempelajari bahasa Jawa Kuno menghasilkan Kawi-Balineesch-Nederlandsch Woordenboek, kamus tiga bahasa: Jawa Kuno, Bali, dan Belanda. Penguasaan bahasa Batak, Lampung, dan Sunda menjadi awalan pembuktian kompetensi dalam studi bahasa Jawa Kuno. Keampuhan Van der Tuuk menimbulkan julukan: “raja para ahli bahasa”. Kita mafhum bahwa ahli bahasa di masa itu memang sangat diperlukan untuk menerjemahkan Alkitab ke berbagai bahasa lokal dan meladeni kepentingan-kepentingan pemerintah kolonial. Misi keilmuan bercampur dengan dakwah dan kekuasaan.

Pengakuan atas ketekunan mempelajari bahasa Jawa Kuno dan Bali mengundang perhatian dari kalangan pribumi. Rob Nieuwenhuys menjelaskan bahwa Van der Tuuk sering bergaul dengan rakyat, mengurusi studi bahasa melalui percakapan-percakapan dan berbaur dalam kehidupan kaum pribumi. “Raja para ahli bahasa” tak menempatkan diri sebagai peneliti di ruang hampa, berlaku sebagai “penonton” dengan mata akademik. Pamor Van der Tuuk tampak di kalangan awam ketimbang di kalangan akademik. Rumah Van der Tuuk jadi tumpuan bagi orang-orang Bali saat ingin meminta penjelasan tentang adat, bahasa, dan agama. Di Bali, orang-orang mengenali Van der Tuuk sebagai Gusti Dertik. Nama ini bentuk penghormatan dan pengakuan atas otoritas ilmu kebahasaan dan interaksi bersama di kalangan pribumi (Dick Hartoko, Bianglala Sastra, 1979).

Pertikaian antara Roorda dan Van der Tuuk masih bisa kita ingat saat membaca Kamus Jawa Kuna-Indonesia susunan P.J. Zoetmulder dan S.O. Robson (1995). Zoetmulder memberi pengakuan atas jasa Van der Tuuk dan membuktikan pengaruh besar Kawi-Balineesch-Nederlandsch Woordenboek bagi kajian bahasa, sastra, adab di Jawa. Van der Tuuk dianggap sebagai “linguis cemerlang”. Kalangan sarjana bahasa dan sastra Jawa “sangat berutang” atas kerja Van der Tuuk dalam menghasilkan Kawi-Balineesch-Nederlandsch Woordenboek, warisan terbesar dan legendaris. Kita pun mengingat semua pengisahan para tokoh dan warisan kamus dalam kega­mangan.

Kita merasa telah mengabaikan studi bahasa Jawa Kuno, sengaja melupakan kesejarahan Indonesia turut terbentuk dari pertikaian para ahli bahasa, sejak abad XIX.

*) Pengelola Jagat Abjad Solo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s