Gigi Biru

André Möller*, KOMPAS, 3 Agu 2013

Sebagai standar untuk komunikasi nirkabel, bluetooth semakin populer dan praktis digunakan. Dengan gampang, sebuah papan ketik, misalnya, dapat berkomunikasi tanpa halangan kabel dengan sebuah komputer, dan sepasang peranti dengar bisa berinteraksi dengan sebuah ponsel pintar tanpa menyusahkan dan membingungkan si pengguna dengan kehadiran kabel yang kian kerut. Nah, sebelum pembahasan ini dilanjutkan dari segi bahasa, tentu saja bahasa Indonesia perlu kita bersihkan dari noda yang berupa istilah bluetooth ini sendiri. Saran saya sederhana sekali: mari kita menyebutnya gigi biru. Toh, bluetooth adalah terjemahan langsung dari kata/nama blåtand, yang artinya justru ’gigi biru’.

Nah, mengapa sistem komunikasi ini disebut gigi biru? Dapat dikira bahwa anak-anak Indonesia yang kurang rajin menyikat gigi, tetapi terlampau rajin makan manisan, merupakan sumber inspirasi untuk istilah ini, tapi ini pandangan yang agaknya keliru. Proyek ini dimulai di Swedia Selatan pada tahun 1990-an oleh beberapa orang yang bekerja di Ericsson Mobile Communications. Selain pintar mengelola informasi yang seolah-olah terbang dari satu gawai ke yang lainnya, mereka juga menaruh minat pada sejarah Skandinavia.

Dari ketertarikan historis ini muncullah nama blåtand. Harald Blåtand adalah raja Denmark yang menduduki takhta kerajaan sekitar tahun 940-986. Mengapa dia diberi nama Blåtand (Gigi Biru) tidak sepenuhnya jelas. Bisa jadi karena kesehatan mulutnya tidak memadai dan bahwa dia, oleh karena itu, diberi julukan blátönn, yang dalam bahasa Skandinavia kuno berarti ’gigi hitam’. Akan tetapi, bisa juga nama ini sebenarnya adalah nama pedangnya sang raja. Ternyata, gigi sering muncul dalam nama-nama pedang di era Viking ini. Bagaimanapun juga, nama raja ini jadi inspirasi untuk peneliti-peneliti di Lund beberapa dasawarsa yang lalu.

Barangkali sebagian pembaca yang budiman sekarang bertanya-tanya: apa sih hubungan di antara seorang raja yang berkuasa seribu tahun yang silam di negeri yang jauh dan sistem komunikasi nirkabel di kantor saya? Walau tidak terdeteksi dengan gampang, ada juga hubungan yang cukup jelas di antaranya. Harald Blåtand adalah raja yang berhasil menyatukan Denmark (termasuk sebagian Swedia pada zaman kini) dan Norwegia, dan keberhasilan ini antara lain berasal dari kemampuan sang raja berpidato dan membuat orang saling berkomunikasi. (Perlu dicatat bahwa komunikasi ini juga bersifat nirkabel, walau tidak digital.)

Melalui komunikasi ini, bagian-bagian negara yang sebelumnya sering berperang, menyatu dalam negara yang lebih besar. Harald Blåtand bahkan dianggap pendiri Denmark modern, dan keluarga raja pada zaman kini pun masih ada hubungan kekeluargaan dengan sang raja dengan kesehatan mulut yang kurang baik dan/atau pemilik pedang menakjubkan.

Sumber-sumber mengenai kehidupan Harald Blåtand tidak terlalu banyak, dan kebanyakan merupakan sumber yang tidak sezaman dengan rajanya sendiri. Meski begitu, ada beberapa batu rune (bahasa Indonesianya begitu, menurut Wikipedia) yang bertuliskan alfabet Rune yang menyebutkan sang raja sebagai ”Binatang Besar”.

Menariknya, lambang gigi biru di zaman modern ini juga berasal dari abjad Rune ini, dan terdiri dari dua huruf: H (seperti Harald) dan B (seperti Blåtand)—sila cek di gawai terdekat.

Ngomong-ngomong, bukankah ironis bahwa tetikus dan ponsel pintar dapat berkomunikasi secara nirkabel, sedangkan orang-orang yang merupakan pemilik gawai-gawai ini sering tak dapat berkomunikasi secara nir-Inggris?

*) Penyusun Kamus Swedia-Indonesia, Tinggal di Lund, Swedia

Iklan

3 thoughts on “Gigi Biru

  1. “Ngomong-ngomong, bukankah ironis bahwa tetikus dan ponsel pintar dapat berkomunikasi secara nirkabel, sedangkan orang-orang yang merupakan pemilik gawai-gawai ini sering tak dapat berkomunikasi secara nir-Inggris?”

    >> Saya bingung dengan pemakaian kata ‘gawai’ di sini. Menurut http://kbbi.web.id/gawai, ‘gawai’ berarti ‘pekerjaan’ atau ‘karyawan’ atau ‘pekerja di kantor’, sedangkan dalam konteks kalimat di atas saya artikan kata ‘gawai’ sebagai “gadget” (bahasa Inggris). Apakah anda berusaha menciptakan arti baru bagi kata ‘gawai’?

  2. Kan ada dua, mas, definisi “gawai” di KBBI. Yang satunya berdefinisi “alat” atau “perkakas”. Oya, saya ingin ada yg mengulas soal penerjemahan smartphone menjadi ponsel pintar. Masalahnya di sini adalah ponsel itu pun singkatan dari telepon selular, jadi semestinya kalau mau lengkap jadinya “telepon selular pintar”. Maka itu, saya minta ada yg menulis soal ini, apakah cukup dgn “telepon pintar” sudah bisa mewakili? Apakah jika dijadikan “telepon pintar” maknanya akan sebangun dengan “telepon selular pintar”. Maksud saya adalah bisakah dari keistilahan teknologisnya penerjemahan smartphone tak perlu lagi membubuhkan “selular” di situ karena makna “telepon pintar” sudah melampaui makna “telepon selular”? Bahwa istilah “telepon selular” itu tak perlu lagi atau sudah tidak relevan, sehingga makna teknologisnya “telepon pintar” sudah mencakup sebagai “telepon selular yang pintar”. Semoga paham maksud saya. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s