Gengsi Sopir

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 7 Sep 2013

Mereka kurang suka dipanggil ”sopir”. Mereka bekerja pada perusahaan dan lembaga besar, terutama internasional. Driver (baca: draiper) lebih gengsi dan seksi. Sopir lebih cocok untuk pribadi, taksi, atau metromini. Driver terdengar gagah kosmopolitan, sopir cupet kampungan. Begitulah pengemudi profesional Indonesia menuansakan sopir dan driver. Bagusnya kedua istilah ini tidak bias gender. Baik laki-laki maupun perempuan di mana pun sah jadi sopir atau driver; kecuali di Arab Saudi, tentu saja, satu-satunya negeri di muka bumi yang melarang perempuan mengemudi.

Baik sopir maupun driver berasal dari sono. Asal-usul driver tidak sulit ditebak, bahkan oleh mereka yang hanya bisa berlagak ceplas-ceplos Inggris hafalan dengan logat Indonesia di layar TV sekali pun. Berasal dari kata Inggris kuno yang kira-kira berarti ’mendesak/mendorong agar maju’, driver tidak mengalami jumpalitan makna yang besar selama ratusan tahun.

Dalam bahasa Inggris, makna driver kurang-lebih sama dengan pengemudi atau pengendara. Boleh untuk mobil atawa kereta. Si driver bisa orang yang mengendarai mobil sendiri, atau yang pekerjaannya mengemudikan mobil orang lain. Selain itu, driver dipakai luas di berbagai bidang. Ada tongkat golf yang disebut driver. Juga ada bagian dari sirkuit elektronik yang namanya driver. Pokoknya banyak, deh, pemakaiannya yang berhubungan dengan fungsi ”menggerak-majukan”.

Bagaimana dengan sopir? Kata asal Perancis, chauffeur (kira-kira dibaca: shofer), berarti ’pengemudi profesional’. Pengemudi mobil sendiri untuk urusan sendiri bukan chauffeur. Chauffeur sudah dipakai pada zaman mesin uap abad ke-19. Arti aslinya apa? Stoker alias juru api. Lo? Apa hubungan api dengan kemudi? Mesin uap memerlukan juru api untuk mengatur panas api batubara. Nah, itulah chauffeur. Dia pengemudi sekaligus pengatur api. Pembaca sepuh mungkin masih ingat stoker kereta api zaman baheula yang masih benar-benar digerakkan api.

Tentu saja chauffeur modern tidak berkotor-kotor dengan arang. Malah mereka berseragam bersih rapi dengan dasi keren, sarung tangan wah, kancing dan sepatu mengilap, serta topi elegan. Memang sekarang chauffeur adalah pengemudi profesional kelas atas dengan kepakaran khusus, misalnya, dengan mulus dan halus mengantar-jemput orang kaya galak dan artis cerewet dengan limusin nan mewah. Chauffeur terlatih bukan hanya menguasai teknik fisik mengemudi, tapi juga berperilaku mental ideal, misalnya, mampu dengan santai mengantisipasi pergerakan kendaraan-kendaraan sekitar, mengerem tanpa selip, tidak panik atau banting setir sembarangan ketika ban pecah pada kecepatan tinggi, tidak setengah mabuk pada jam kerja, dll.

Jadi, dalam bahasa Inggris, driver adalah kata umum, chauffeur khusus. Sebaliknya dalam bahasa Indonesia, sopir itu generik, driver itu paten.

Dengan kata lain, dari makna Inggris ke Indonesia, terjemahan driver adalah sopir, sedangkan chauffeur terjemahannya driver! Begitulah bahasa mengglobal sekaligus melokal. Gengsi tak kurang berpengaruh. No problemo. Tak perlu ngotot mesti begini harus begitu. Sekarang driver memang belum masuk kamus. Barangkali generasi berikut akan kenal draiper, atau sopir akan naik derajat. Entahlah. Semuanya mengalir, kata sang bijak Herakleitos dari Efesus. Bahasa pun mengalir seperti sungai ke mana saja ia mau, susah dikemudikan!

*) Sopir Keluarga

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s