Lagu Keagamaan

Rainy M.P. Hutabarat*, KOMPAS, 14 Sep 2013

Ilustrasi: Gallery Gogopix

Pada bulan Ramadhan yang lampau sebuah stasiun televisi di Jakarta menyiarkan perbincangan bertajuk ”Lagu Religi Makin Bersemi”. Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan pada Juni 2013 menggelar sebuah diskusi terbatas untuk para pekerja media Kristen bertajuk ”Peran Strategis Media Religi dalam Mendukung Persatuan dan Kesatuan Bangsa”.

Di Indonesia ada beberapa sebutan untuk lagu keagamaan: lagu rohani, lagu dakwah, lagu Islami, lagu qasidah, dan lagu gerejawi. Semua sebutan ini menunjuk kepada fungsi lagu sebagai ungkapan iman dan untuk kebutuhan ritual keagamaan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV mengartikan religi sebagai ’kepercayaan kepada Tuhan; kepercayaan akan adanya kekuatan adikodrati di atas manusia; kepercayaan (animisme, dinamisme); agama’. Dan agama diartikan sebagai ’ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya’. Jadi religi dan agama berpadanan, namun dipandang berbeda cakupan. Arti kata religi lebih luas, meliputi animisme dan dinamisme, sedangkan pengertian agama ditekankan pada monoteisme.

Bila perbincangan tentang ”Lagu Religi Makin Bersemi” disimak, jelaslah yang dimaksud adalah lagu Islami. Sebutan serupa juga dipakai dalam judul-judul berita berbagai situs berita daring untuk menunjuk lagu Islami atau lagu dakwah. Pertanyaannya, mengapa dipakai kata religi?

Pertama, tampaknya arti religi dianggap lebih umum dan inklusif. Penggunaannya sehari-hari tidak umum karena penarik becak, pemulung, dan pengemis lebih akrab dengan kata agama ketimbang religi. Lantaran perbincangan berlangsung di ruang publik, media televisi memilih kata religi. Kedua, media massa, juga lembaga pemerintah, merasa perlu memakai eufemisme agar acara berterima oleh semua pihak.

Sebuah penelitian menyatakan, kata serapan bahasa Inggris digunakan di media massa antara lain untuk memenuhi kebutuhan eufemisme selain gengsi.

Ketiga, kemalasan dalam berbahasa. Bahasa Indonesia digunakan dengan mencampuradukkan bahasa asing khususnya bahasa Inggris, atau memakai kata-kata serapan: dobel, eksis, ekspos, e-mail, tower, dan lain-lain.

Dari segi morfologi, pemakaian kata religi dalam lagu religi sebagai adjektiva pun keliru. Adjektiva untuk nomina religion (Inggris; Latin: religio) adalah religious. Karena itu, judul seharusnya: lagu keagamaan atau lagu religius (bandingkan dengan mysterious atau ambitious). Bahkan, agar akurat dan kontekstual seharusnya: lagu Islami atau lagu dakwah. Bukankah perbincangan berlangsung saat bulan Ramadhan?

Ungkapan bijak mengatakan, ”Dengan bahasa, sebuah bangsa dipersatukan; namun dengan bahasa pula, sebuah bangsa dipecah-belah, dibodoh-bodohi, atau dibutakan.” Eufemisme dalam wacana keagamaan di ruang publik tak selalu baik bagi pendidikan kebangsaan. Dengan sebutan yang lugas dan langsung, misalnya lagu dakwah atau lagu gerejawi, pemirsa belajar menerima dan menghargai keanekaragaman agama dan bahkan genre lagu.

*) Cerpenis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s