Terkesima?

Yanwardi*, KOMPAS, 28 Sep 2013

Kata kesima telah lama hidup dalam bahasa Melayu maupun bahasa Indonesia. Dalam Kamus Poerwadarminta, Kamus Besar Pusat Bahasa, Tesaurus Bahasa Indonesia, dan Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia dinyatakan bahwa kesima berasal dari bahasa Jakarta. Kenyataan ini diperkuat oleh Kamus Dialek Jakarta Abdul Chaer yang memasukkan kesima sebagai lema.

Dalam keempat karya leksikografi yang pertama disebut, makna kesima baru hadir setelah mendapat awalan ter-, menjadi terkesima, ’kisaran suatu keadaan emosi yang spontan, tak terelakkan, yang muncul karena takjub, heran, tidak percaya, terkejut’ atau bisa juga ’tercengang’, ’hilang akal’, ’terpesona’, ’terpana’, ’terpukau’, ’tertegun’, ’termangu’.

Kata kesima dalam bahasa Indonesia telah lazim digunakan sejak puluhan tahun yang lalu. Kwee Tek Hoay, Mochtar Lubis, atau novelis pop Eddy D Iskandar biasa menggunakan kesima alih-alih terkesima. Kata ini kerap pula tersua dalam cerita silat berlatar Tiongkok, baik yang karya asli (Kho Ping Hoo) maupun yang saduran (Gan KH dan Gan KL). Di sana kesima selalu digunakan sebagai kata kerja pasif: ”… sampai ia berdiri kesima tak mampu bergerak….” (Suling Emas) dan ”… A Fei kesima mendengar percakapan mereka ….” (Pendekar Budiman).

Verba pasif ini ditandai dengan awalan ke-. Yang mengherankan, kita tidak menyadari keadaan itu hingga menambahkan lagi awalan yang berfungsi dan bermakna sama: ter-. Padahal, baik dalam ragam bahasa Indonesia nirbaku maupun dialek Betawi, dikenal awalan ke- seperti dalam ketendang, kesihir, kesirep, dan kepelet. Jelas, akan hiperkorek jika menambahkan lagi awalan ter- pada kata kesihir, kepukul menjadi terkesihir, terkepukul.

Kamus Besar Pusat Bahasa mencatat kesima sebagai lema atau sebagai kata dasar, yang tidak dapat berdiri sendiri. Di sana kesima baru bermakna dan dilabeli kelas kata kerja setelah mendapat awalan ter-. Padahal, kesima dalam bahasa Betawi atau kasima dalam bahasa Sunda merupakan bentukan awalan ke- atau ka- dan sima. Kata ini sangat hidup dalam kegiatan berbahasa sehari-hari dan dalam mantra-mantra berbahasa Sunda. Kamus Besar bisa jadi menyerap secara utuh kata kesima dengan mengesampingkan unsur imbuhan ke-.

Penyerapan kesima ke dalam bahasa Indonesia tentu memperkaya khazanah kata. Namun, hendaknya upaya itu disertai dengan kecermatan. Ketika menyerapnya dari Betawi atau Jawa Barat, mestinya kita merasakan bahwa ke- dalam kesima merupakan awalan pembentuk kata kerja pasif yang berpadanan dengan ter- dalam bahasa Indonesia. Jadi, bentuk terkesima terasa berlebihan.

Meminjam sima dari bahasa Sunda lebih masuk akal. Kata sima bisa berpadanan dengan karisma dan wibawa. Perilaku tata bahasanya (bukan makna) sejajar dengan kata pesona. Dan kita menyatakan keterpanaan, kekaguman, dan lain-lain dengan tersima. Dari sisi tata bahasa, lebih bernalar kata tersima ketimbang terkesima sebagaimana kesima (Betawi) atau kasima (Sunda).

*) Editor Yayasan Obor

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s