Mobil-mobilan dan Buah-buahan

Sunaryono Basuki Ks*, KOMPAS, 5 Okt 2013

Pengulangan atau reduplikasi dalam bahasa Indonesia menarik disimak lantaran menghasilkan makna yang beraneka ragam. Kata buah-buahan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bisa bermakna ’buah tiruan’ dan ’berbagai-bagai buah’. Walaupun bentuknya serupa, sayur-sayuran tidak bisa digolongkan ke dalam kelompok ini sebab pengulangan sayur tidak serta-merta membuatnya menjadi ’sayur tiruan’. Untuk menyatakan gagasan berbagai macam sayur, kita menggunakan sayur-mayur walaupun sayur-sayuran juga digunakan.

Yang terbatas makna serta penggunaannya adalah kata mobil-mobilan dan rumah-rumahan yang jelas hanya menyatakan bahwa pengulangan tersebut bermakna ’tiruan mobil’ dan ’tiruan rumah’, seperti halnya ’pistol-pistolan’, pistol mainan yang sekarang sering digunakan di dalam merampok toko swalayan yang buka sampai malam. Ingat lagu yang liriknya antara lain berbunyi judul-judulan? Ini pasti bermakna ’tiruan judul’ atau ’judul asal-asalan’.

Jadi, kita tidak bisa membuat aturan umum mengenai pengulangan kata benda yang maknanya pasti ’tiruan’ atau ’buatan’.

Pengulangan verba mungkin menuruti aturan yang lebih sederhana dan lebih teratur/tetap. Verba balas yang diulang menjadi balas-berbalas yang bermakna ’balas-membalas’ serta berbalas-balasan yang bermakna ’bersahut-sahutan’, ’berjawab-jawaban’.

Akan halnya adjektiva, adverbia, numeralia, partikel, dan pronomina tidak mempunyai pengulangan. Adjektiva akil yang bermakna ’berakal, cerdik, pandai’ ketika digabung dengan adjektiva balig bermakna ’tahu membedakan baik dan buruk’, sedangkan dalam kasus lain saya tidak dapat menemukan adjektiva yang mengalami pengulangan yang bisa mengubah maknanya menjadi ’tiruan’. Adjektiva basah ketika diulang menjadi berbasah-basah bermakna ’sengaja membuat diri basah’ atau ’basah kuyup’, sedangkan kebasah-basahan bermakna ’agak basah’ seperti dalam tanahnya subur dan kebasah-basahan.

Kata haru yang sebuah adjektiva bermakna ’rawan hati’ karena mendengar atau melihat sesuatu, namun haru sebagai verba bermakna ’kacau’. Haru biru bermakna ’kerusuhan, keributan, kekacauan, huru hara’. Mengharubirukan bermakna ’mengacaukan’ dan terharu-biru bermakna ’terkacaukan’, misalnya pada pikirannya terharu biru oleh peristiwa yang baru dialaminya. Namun, jangan bingung dengan haruan sebab tidak ada hubungannya dengan haru. Haruan menurut KBBI adalah ikan gabus yang hidup di air tawar. Pasti haruan bakar enak dimakan dan perlu.

Kalau kita teruskan penelusuran mengenai reduplikasi kata-kata dalam bahasa Indonesia, kita akan menemukan fakta menarik di dalam bahasa kita, yang sayangnya jarang digali secara mendalam oleh para sastrawan kita. Mungkin memang Remy Sylado yang paling piawai mengolah kata dalam karyanya. Pantaslah dia menerima Kusala Ahmad Bakrie dalam bidang sastra.

*) Pensiunan Guru Besar Bahasa Pendidikan dan Seni IKIP Negeri Singaraja

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s