Wafat dan Kapal Pesiar

Sori Siregar*, KOMPAS, 12 Okt 2013

SASTRAWAN Danarto galau. Karena itu, ia menelepon saya. Sebagai pengarang yang sadar betul makna kata, ia mempersoalkan apakah kata wafat tepat digunakan untuk anak mantan pejabat tinggi yang meninggal dunia. Apakah kata itu boleh dipakai siapa saja?

Karena yang bertanya sastrawan besar, saya membongkar kembali memori saya yang telah usang. Saya kembali ke masa ketika saya duduk di SMP. Seingat saya, guru saya mengatakan, kata wafat hanya digunakan untuk para nabi yang tutup usia. Untuk raja yang dipakai adalah kata mangkat, sedangkan untuk rakyat biasa frasa yang tepat adalah meninggal dunia atau mati (frasa tutup usia baru dikenal sekitar tiga dasawarsa terakhir).

Kalau tetap berpegang pada keharusan (atau kebiasaan) ini, berarti kata wafat tidak dapat digunakan sekarang karena tidak ada lagi nabi yang berpulang. Artinya, kata itu telah obsolet. Namun, saya sadar, ingatan saja tidak dapat diandalkan. Perlu rujukan yang menjadi dasar berpijak.

Teman akrab saya, KBBI Edisi Keempat, menyebutkan bahwa wafat adalah meninggal dunia, biasanya untuk raja, orang-orang besar ternama. Jelas, bukan sembarang orang dapat menggunakan kata wafat untuk menggantikan frasa meninggal dunia. Jelas pula, saya salah menangkap makna kata wafat yang diajarkan guru saya dulu. Atau memang guru saya dulu itu yang keliru mengartikan kata wafat.

Mengingat adanya perbedaan sebutan untuk kata meninggal, tidak berarti telah terjadi diskriminasi dalam berbahasa. Yang dilakukan adalah menghormati tingkat kepatutan. Rasanya sangat tidak pantas kalau menyebut seorang jenderal mati. Singkatan hor (dari kata hormat) sering ditemukan dalam KBBI Edisi Keempat. Kita menyebut raja sedang beradu, bukan sedang tidur.

Tingkat kesesuaian atau asas kelayakan sangat penting dalam berbahasa.

Bagaimana dengan kapal pesiar? Setelah membaca berita tentang pameran pertama kapal pesiar Indonesia (Indonesia Yacht Show) di Jakarta beberapa waktu lalu, Danarto merasa penggunaan kata pesiar di kapal-kapal kecil itu tidak tepat. Bagi pengarang ini yang dimaksudkan kapal pesiar adalah kapal yang mengangkut ratusan bahkan ribuan wisatawan ketika berlayar, bukan yacht yang dipamerkan itu. Dalam bahasa Inggris ada perbedaan antara cruiser atau cruise ship dengan yacht. Yang pertama kapal pesiar ukuran besar yang iklannya sering muncul di beberapa surat kabar. Namun, cruiser bisa juga berarti ’kapal penjelajah’.

Yacht? Ini hanya kapal kecil tidak untuk menjelajah dan hanya mengangkut sejumlah penumpang untuk jarak dekat. Sering pula digunakan untuk mengikuti perlombaan perahu layar. Menurut Kamus Inggris-Indonesia karya John M Echols dan Hassan Shadily, yachtsman adalah peserta balap perahu atau pengemudi perahu balap. Cuma fungsinya juga sebagai alat untuk berpesiar. Walaupun ukurannya berbeda, ternyata kegunaannya serupa, untuk wisata. Untuk itu, mungkin, perlu diberi perbedaan nama seperti mangkat, wafat, mati, dan meninggal dunia itu.

Yang lebih berhak menyebut diri kapal pesiar adalah kapal besar yang mengangkut ratusan atau ribuan orang, sedangkan kapal pesiar kecil lebih tepat disebut perahu pesiar.

*) Cerpenis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s