Getok Tular

Kasijanto Sastrodinomo, KOMPAS, 19 Okt 2013

ENAM penjual bakso yang mangkal di berbagai lokasi di Depok, Jawa Barat, mengaku berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah. Sebagian di antara mereka bahkan memasang papan nama ”bakso wonogiri” di warungnya sebagai cap dagang sekaligus menegaskan asal-usulnya. Gejala seperti itu cukup banyak ditemukan di Jakarta dan sekitarnya. Pengakuan serupa juga datang dari tukang urut refleksi di panti pijat langganan saya. Lima ”reflektor” di rumah nyet-nyetan itu mengaku berasal dari Lampung. Tampaknya bukan cuma kebetulan bila para penjaja bakso dan pemijat itu berasal dari suatu daerah yang sama.

”Ya, getok tular saja,” kata Pak Tukino mengenai asal-usulnya dan kawan-kawan berjualan bakso jauh dari kampung halaman. Sedangkan Jati, pemijat refleksi, menyebut ”info dari mulut ke mulut” yang membuat dia dan konco-konconya berdatangan menawarkan pijitan di rantau. Kedua orang itu mengatakan hal yang sama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, arti getok tular adalah ’dari mulut ke mulut’,― misalnya dalam penyebaran berita, ajakan, fitnah, dan sebagainya. Jadi, getok tular adalah istilah (saluran) komunikasi informal. Komunikasi model ini biasanya terjalin dari hubungan antarpribadi secara langsung, sering kali bersemuka, terkadang berahasia, dengan tujuan dan kepentingan yang sama.

Dalam bahasa Jawa, verba getok (atau gethok), nggetok, berarti ’mengetuk’ atau ’memukul’; sedangkan tular, nular, adalah ’menjalar’ atau ’merembet’. Arti harfiah (ng)getok tular, jadinya, mengetuk atau memukul secara menjalar. Seseorang memukul sesuatu, lalu diikuti pemukulan serupa oleh orang yang lain. Ilustrasi yang pas adalah pemukulan kentongan sebagai tanda bahaya, misalnya peristiwa perampokan di daerah pedesaan tempo dulu. Lazim disebut titir, pemukulan kentongan dimulai dari peronda yang pertama kali mendengar peristiwa kemudian disahuti oleh peronda yang lain di gardu-gardu jaga. Maka, titir berfungsi sebagai alarm yang secara berantai menggerakkan penduduk desa meringkus durjana.

Istilah getok tular bisa digunakan untuk merujuk sistem pewarisan kelisanan dalam folklor. Dongeng, legenda, mitos, dan semacamnya pada umumnya ditularkan lewat getok tular. Riwayat suatu komunitas kecil pedesaan kerap kali tidak diketahui secara pasti lantaran langka data tertulis sehingga, seperti ditulis oleh Paul Thompson dalam The Voice of the Past (2000), sangat mengandalkan ”suara-suara kelampauan” yang tak terekam. Sampai di sini istilah getok tular terkesan hanya berkaitan dengan budaya tradisional yang sering mendapat cap ”primitif”. Namun, istilah forward menandakan ada sarana praktik getok tular dalam komunikasi modern.

Bahasa Inggris menyulih getok tular menjadi word of mouth (WOM) seperti dalam buku Jerry R Wilson, Word-of-Mouth Marketing (1994). Terbaca dalam judul itu, WOM dimanfaatkan untuk pemasaran. Disebutkan, WOM merupakan teknik komunikasi pemasaran terampuh untuk ”mengharumkan atau merusak citra”. Maknanya, jangan abaikan ”ocehan mulut” konsumen karena bisa berakibat menguntungkan atau, sebaliknya, merugikan suatu usaha bisnis. Keluhan atau pujian konsumen lewat surat pembaca di surat kabar terhadap suatu produk atau jasa bisa jadi contoh getok tular model ini.

Berbagai operasi rahasia, semisal penangkapan terhadap transaksi koruptif, tak lepas dari komunikasi getok tular. Johan Budi, juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi, menyebutkan penangkapan semacam itu sering berdasarkan informasi dari publik. Info itu tentu sangat rahasia sehingga harus ”dibisikkan” langsung kepada aparat KPK, lalu sang aparat bertindak, hingga terjadilah operasi tangkap tangan atau lebih pas: tertangkap basah.

*) Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI

Iklan

One thought on “Getok Tular

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s