Satu Rumpun, Dua Jalan

Majalah Tempo, 21 Okt 2013. Karim Raslan, Kolumnis mengenai Asia Tenggara dari Malaysia

Bahwa bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia memiliki akar tunjang yang sama, Melayu Riau, saya bersyukur. Ini menandakan ada sebuah pertalian erat dua bangsa dalam satu rumpun besar. Sebagai bahasa yang pernah menjadi lingua franca Nusantara, bahasa Melayu menjadi perlambang superioritas budaya Melayu dalam banyak hal. Menurut saya, baik Indonesia maupun Malaysia wajib berutang budi kepada pionir kesusastraan Melayu abad ke-19, Raja Ali Haji. Bangsawan Kesultanan Melayu-Riau ini, melalui magnum opus Tuhfat al-Nafis dan beberapa karya lain, telah banyak mempengaruhi historiografi Melayu hingga kini.

Tentu saja, sebagai bekas bahasa pemersatu, bahasa Melayu tak lepas dari aspek pengaruh bahasa lain. Hal ini sebagai pertanda globalisasi dan pergulatan kosmopolitanisme yang melanda Nusantara selama beberapa abad, sebelum kolonialisme menikam jantung Nusantara. Persentuhan dengan budaya asing inilah yang kemudian membuat bahasa Melayu dan bahasa Indonesia memiliki banyak kata serapan dari bahasa asing ataupun bahasa daerah.

Menurut Remy Sylado, sembilan dari sepuluh kata dalam bahasa Indonesia sebenarnya adalah kata yang berasal dari bahasa lain. Misalnya manusia (Sanskerta), bihun (Cina), gulai (Tamil), gereja (Portugis), buku (Belanda), pasar (Persia), dan forum (Latin). Hal ini tidak mengejutkan mengingat bahasa Melayu berkembang sebagai bahasa untuk pedagang dan penjelajah, sesuai dengan etos maritim Nusantara.

Meski demikian, kolonialisme telah mencabik-cabik perkembangan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Proses kemerdekaan telah mengakibatkan perbedaan “efek samping” dalam proses perkembangan dua bahasa tersebut. Di Malaya, kolonial Inggris memilih mempertahankan kekuasaan mereka dengan cara mengisolasi komunitas Melayu sekaligus memperuncing sensitivitas etnis dan identitas agama (Islam) daripada menyatukan mereka dengan ras lain. Bahasa Melayu akhirnya dianggap menjadi ikatan yang tak terpisahkan dengan Ketuanan Melayu; semacam pengakuan supremasi ras Melayu dan dominasi Islam. Adapun jaminan otonomi keilmuan, bahasa, dan budaya yang tak tersublimasikan dalam kesepakatan kemerdekaan Malaysia malah mempersulit bahasa Melayu diterima lebih luas bagi kalangan non-Melayu.

Sebaliknya, Indonesia memilih jalan revolusioner. Langkah protagonis ini ditunjukkan dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Upaya menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan nasional kemudian juga didukung sikap Sukarno yang memilih Melayu yang kemudian bertransformasi secara energetik menjadi bahasa Indonesia dan menyebutnya sebagai “bahasa bangsa baru”. Hal ini dianggap sebagai langkah cerdik yang mengejutkan yang tidak bisa dilihat oleh orang Melayu sebagai sesuatu yang eksklusif karena satu kelompok etnis belaka. “Transformasi nilai” dalam bahasa Indonesia mengakibatkan ia tidak terikat pada agama apa pun dan bebas dari unsur primordialistik mana pun. Hal ini terbukti: surat kabar pertama yang mencetak lagu kebangsaan Indonesia, Indonesia Raya, adalah Sin Po. Surat kabar mingguan berbahasa Melayu ini dimiliki dan diterbitkan oleh orang Tionghoa.

Unsur inklusivitas bahasa Indonesia juga saya temui di dunia kerja masyarakat Indonesia dalam suasana santai, bahkan dalam suasana sakral ritual ibadah yang diselenggarakan orang Jawa, Batak, Tionghoa, Kristiani, muslim, dan Hindu. Lebih menyenangkan lagi saat saya ikut terbawa arus suasana tradisi indah yang penuh semangat ini dalam jagat sastra Indonesia, termasuk mengikuti arus perkembangan berbagai surat kabar berbahasa Indonesia.

Karena itu, dalam bahasa Indonesia, saya menemukan pemahaman baru yang sama baiknya dengan apresiasi saya terhadap bahasa Melayu. Meskipun asyik menyelami kedua bahasa ini, saya tak berkhayal menjadi seorang master.

Tapi permenungan saya bertahun-tahun lalu membuat saya sadar betapa perkembangan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia telah banyak dipengaruhi dan mempengaruhi politik, sejarah, budaya, bahkan mungkin masa depan kita semua.

Salah satu bukti pengaruh politik dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia adalah istilah government: bahasa Melayu menggunakannya dengan istilah kerajaan, sedangkan bahasa Indonesia menyebutnya sebagai pemerintah. Dengan semua pemikiran tersebut, karena itu sangat mudah melihat kenapa bahasa Melayu terlihat kurang efektif dalam beberapa aspek, sementara bahasa Indonesia justru menjadi lem perekat yang menguatkan Indonesia menjadi satu. Sementara bahasa Melayu menjadi bahasa yang lekat dengan dominasi dan pemilah-milahan, gagasan Indonesia sebagai kesatuan dan nasionalisme sekuler masih menyala terang terpancar pada bahasa Indonesia.

Saya berharap, sungguhpun bahasa Melayu dan bahasa Indonesia tidak kedap dari unsur serapan bahasa asing akibat arus globalisasi, identitas kemelayuan dan keindonesiaan harus tetap kukuh dipertahankan. Jika tidak, sabda Raja Ali Haji, “mengubah aturan masyarakat berarti mengundang malapetaka”, akan menjadi nubuat bagi Malaysia dan Indonesia.

Sumber gambar: Wikipedia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s