Keluar ke Luar

Roby A Rahman*, KOMPAS, 26 Okt 2013

Masuk ke dalam dan keluar ke luar. Tentu saja ungkapan itu betul belaka berdasarkan kaidah penulisan yang setakat ini berlaku: Ejaan Yang Disempurnakan. Namun, bila tingkat keterdengaran keluar ke luar mengganjal hati, tahan dulu. Kasus ini, pada hemat saya, memang perlu dibicarakan.

Dalam bahasa Inggris, to enter berarti to go into, sedangkan antonimnya, to exit, berarti to go out of. Keduanya masing-masing berupa sebuah morfem bebas dan tentu saja sama-sama merupakan verba. Di dalam bahasa itu kita kenal pula inside dan outside yang saling berlawanan, masing-masing dapat berupa baik kata depan maupun kata benda. Sebagai kata depan, inside dan outside berturut-turut berarti ’di dalam’ dan ’di luar’. Sebagai kata benda, inside berarti ’bagian dalam’, outside berarti ’bagian luar’.

Dalam bahasa Jawa mlebet nyang jero berlawanan dengan metu nyang njobo. Mlebet merupakan kosokbali bagi metu, adapun jero kosokbali bagi njobo.

Lantas, jika ke luar berlawanan dengan ke dalam, apakah kira-kira yang jadi antonim bagi masuk?

Inilah yang menarik dalam bahasa Indonesia: saat kita mencari antonim bagi masuk atau lawan dari ke dalam, kita seolah-olah bertemu dengan kata yang sepertinya itu-itu juga. Ke dalam berlawanan dengan ke luar, sementara masuk berlawanan dengan keluar. Mirip sekali.

Ke luar dan keluar memang tak bisa dibedakan dalam pengucapan. Perbedaan morfologis baru kentara dalam penulisan. Ke luar merupakan frasa preposisional yang terdiri dari dua morfem, kata benda luar yang oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa diartikan sebagai ’daerah, tempat, dan sebagainya yang tidak merupakan bagian dari sesuatu itu sendiri’, dan kata depan ke yang bermakna sebagai penunjuk tempat. Adapun keluar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diklasifikasikan sebagai sebuah lema berupa verba yang bermakna ’bergerak dari sebelah dalam ke sebelah luar’.

Yang mesti menjadi pertanyaan tentulah mengapa kita punya lema masuk sebagai verba untuk menandai konsep ’bergerak dari sebelah luar ke sebelah dalam’, sedangkan untuk menandai konsep ’bergerak dari sebelah dalam ke sebelah luar’, kita harus membuat verba bentukan dari preposisi dan nomina yang ditulis bergabung, keluar?

Saya menduga jawaban atas pertanyaan ini berada di ranah etimologi, asal-usul kata. Dalam Kamus Sansekerta-Indonesia susunan Purwadi tersua lema rasuk dan aslup yang masing-masing berarti ’masuk’ atau ’memakai’. Rasuk masuk ke dalam perbendaharaan bahasa Indonesia setelah mengalami perubahan fonologis, rasuk menjadi masuk. Tentu saja keduanya, masuk dan rasuk, hidup saat ini dalam percakapan sehari-hari. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, merasuk bisa berarti ’memasuki tubuh manusia (tentang roh jahat)’, bisa pula bermakna sebagai ’mendalam’, ’meresap benar’, ’berkesan benar’.

Dalam kosakata Sansekerta, antonim bagi masuk adalah mimba. Sayangnya, mimba tidak turut diadopsi ke dalam bahasa Indonesia sebagaimana rasuk setelah mengalami perubahan fonologis menjadi masuk. Keluar telanjur mengakar tunjang dalam nadi kebahasaan penutur bahasa Indonesia alih-alih mimba. Itu sebabnya hanya dengan keluar, kita dapat ke luar.

*) Penulis Cerita dan Sajak Pendek

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s