Colenak, Batagor, Misro

Majalah Tempo, 4 Nov 2013. Rainy M.P. Hutabarat, Pekerja media dan penulis

Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa telah mencantumkan banyak akronim baru. Rudal (peluru kendali), berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), sinetron (sinema elektronik), cerpen (cerita pendek), dan sendratari (seni drama dan tari) hanyalah beberapa contoh.

Karena gemar makanan dan penasaran, saya pun menyu­suri akronim nama-nama makanan dalam kamus tersebut. Beberapa nama penganan terekam: dicocol enak disingkat colenak, yakni “penganan, dibuat dari singkong yang dibakar dan dicocolkan ke kinca (cairan dari gula merah)”; bakso tahu goreng (batagor), “makanan khas Bandung yang dibuat dari tahu berisi adonan bakso kemudian digoreng, diberi kuah kacang atau kuah bakso”; aci dicolok (cilok), “bakso yang dibuat dari tepung kanji dan dihidangkan dengan ditusuk seperti satai”; amis di jero (misro), “penganan dibuat dari singkong dan gula merah yang digoreng seperti comro”; dan oncom di jero (comro), “penganan dari singkong yang diparut, dibentuk bulat panjang, di dalamnya diisi oncom yang dibumbui, kemudian digoreng”. Uniknya, semua akronim itu merupakan nama penganan Sunda.

Ada beberapa akronim nama jajanan yang telah beredar luas yang ternyata tidak (atau belum) dimasukkan ke KBBI: pismol (pisang molen), cireng (aci digoreng), cimol (aci digemol, dari bahasa Sunda, yang artinya “bakso dibulat-bulat”), dan este emje (susu telur madu jahe). Yang muncul agak belakangan adalah nasgitel (panas legi kentel), yakni ukuran teh dan kopi yang dianggap nikmat. Internet dalam dunia kuliner pun bermakna ganda: Indomie telur kornet dan Internet itu sendiri.

Sejarah mencatat, lembaga yang pertama kali memproduksi singkatan adalah negara, kemudian agama. Sebelum era Kristiani, singkatan resmi Kekaisaran Romawi adalah SPR (Senatus Populusque Romanus). Pada era awal Kristiani, beredar kata Ichthus (dari bahasa Yunani yang berarti ikan), yang merangkap singkatan Iesous Christos Theou Hyios Soter, sebuah kode rahasia para pengikut Kristus yang hidup dalam tekanan Kekaisaran Romawi. Militer Romawi pada era itu juga menciptakan INRI, dikenal sebagai kependekan dari Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum.

Dari catatan ini terlihat bahwa militer adalah lembaga pertama yang memproduksi singkatan dan kemudian menyebarkannya. Sejak negara lahir dan menjadi institusi mapan, persaingan antarnegara ditandai adu kekuatan militer, dan singkatan atau akronim menjadi strategi militer dalam memperluas pengaruh. Maka singkatan atau akronim disosialisasi secara resmi, bahkan terasa dipaksakan. Di lingkungan militer Indonesia, tradisi akronim berkembang hebat. Akronim yang mudah, seperti polwan (polisi wanita), hankam (pertahanan keamanan), litsus (penelitian khusus), atau satpam (satuan pengamanan), masih lancar diucapkan. Tapi bagaimana dengan akronim ipoleksosbudhankam (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan), alutsista (alat utama sistem persenjataan), polhukam (politik, hukum, keamanan), dan Yonzipur (Batalion Zeni Tempur), yang sukar diingat dan sulit diucapkan? Padahal singkatan dan akronim diproduksi untuk komunikasi cepat, jargon pengingat, dan sosialisasi ideologi, agar mudah diterima publik. Singkatan dan akronim yang didesakkan ke nalar publik menjadi penanda represi suatu rezim, dalam hal ini Orde Baru.

Sejarah juga mencatat, dunia bisnis merupakan pemasok singkatan dan akronim terbanyak setelah militer. Beberapa contoh: BEJ (Bursa Efek Jakarta), PT (perseroan terbatas), dan PT Tbk (perseroan terbatas terbuka). Di sini singkatan dan akronim berfungsi pragmatis: komunikasi cepat, alat bantu mengingat, dan merek dagang.

Tatkala wisata kuliner menjadi gaya hidup di kota-kota besar, didukung media massa, khususnya televisi dan media sosial, penyingkatan kian menjamur. Tanpa disadari, nalar kita telah dijinakkan untuk menerima singkatan makanan, seperti KFC (Kentucky Fried Chicken), McD (McDonald’s), dan CFC (California Fried Chicken). Pragmatisme membuat pelafalan singkatan tak hirau soal asing atau tidak; yang penting diucapkan dengan mudah dan enak didengar. KFC diucapkan menurut lafal Indonesia, sedangkan McD dengan lafal Inggris.

Persaingan bisnis membutuhkan strategi komunikasi pemasaran. Bisnis berskala rumah tangga tak luput dari kebutuhan memendekkan nama makanan. Singkatan atau akronim nama makanan yang beredar di tengah masyarakat terus bertambah, belum terhitung dari lembaga-lembaga resmi negara dan bidang teknologi, yang sebagian besar tidak (atau belum) terekam dalam KBBI Pusat Bahasa.

Namun akronim nama penganan ternyata tak lepas dari kebutuhan sopan-santun di ruang publik yang majemuk. Babi dan anjing adalah hewan yang dianggap haram oleh umat Islam. Karena itu, dalam percakapan dan periklanan, babi kerap disingkat menjadi B2 dan anjing disebut B1. Di Manado, anjing disebut RW, kependekan dari rintek wuuk (bulu halus), yang tak terkait dengan rukun warga. Orang Medan memiliki singkatan BPK yang mewakili dua realitas: Badan Pemeriksa Keuangan dan babi panggang Karo. Dalam hal ini, akronim ternyata dibutuhkan untuk menyamarkan nama-nama makanan.

Sumber gambar: Sajian Sedap

Iklan

2 thoughts on “Colenak, Batagor, Misro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s