Bangsa Mengambang

Agus Dermawan T.*, KOMPAS, 9 Nov 2013

Sastrawan Sutan Takdir Alisjahbana pernah berkata bahwa apabila sebuah bangsa kurang berkehendak menguasai bahasa asing, bangsa itu harus menguasai sebaik-baiknya dan sebangga-bangganya bahasanya sendiri. Kampiun bahasa Indonesia yang pemuja Barat ini menunjuk Spanyol, Portugis, Tiongkok, dan Jepang sebagai contoh. Bangsa Indonesia ditengarai sebagai bagian dari yang ”kurang berkehendak”.

Meskipun orang Indonesia kurang berkehendak menguasai bahasa asing, gegar budaya bahasa Inggris ternyata sudah kuat berjangkit di benak bangsa Indonesia sejak (sangat) dulu. Bahasa buku Tuanku Rao karangan Mangaradja Onggang Parlindungan yang terbit dan populer lebih dari 50 tahun lalu adalah buktinya. Mari kita baca satu alinea dari buku itu yang tampak antusias beringgris-inggris itu:

Dibandingkan kepada itu, asal usul dari suku bangsa Batak di sekitar danau Toba malahan relatively paling simple dapat re-constructed. How?? Dengan emparing Ethnology, Philology, Mythology, and Folklore. Why?? Suku bangsa Batak hingga abad ke-XIX secara sukarela berkurung in splendid isolation di pegunungan Bukit Barisan, selama 3000 tahun, selamalebih kurang 100 generations. Very strange custom untuk sesuatu Suku Bangsa yang hidup di atas sesuatu pulau. How come??

Penyakit beringgris ini dalam 10 tahun terakhir juga merasuki jagat kebudayaan Indonesia dengan presentasi yang kentara pada kesenian, seperti seni rupa dan seni film Indonesia. Dari sekitar 850 pameran (relatif) penting sejak 2001, tak kurang dari 550 judul menggunakan bahasa Inggris atau sekitar 65 persen. Padahal, judul pameran yang dipampang-pampang di ruang publik Indonesia itu adalah bendera yang mengibarkan ruh pameran seni Indonesia. Simaklah beberapa contoh. ”From contemplation to comedy”, pameran IGN Ngurah Udiantara (Jakarta, 2002); ”After the affair–Art Project”, pameran bersama (Malang, 2004); ”Watching information through pressure & pleasure”, pameran bersama (Jakarta, 2005); ”Beyond the limits and its chalenges”, Biennale Jakarta (Jakarta, 2006); ”The Extreme Little”, pameran bersama (Pasuruan, 2007); ”Return to innocence, return to yourself”, pameran foto Ve Dhanito (Jakarta 2011); ”Grammar of meditation”, dan pameran Albert Yonathan (Jakarta, 2012). Pada dunia film, judul Get Married; Eiffel, I’m in Love; dan 18++ Forever Love adalah setitik amsal.

Judul-judul di atas bukan hasil penerjemahan dari judul yang berbahasa Indonesia, lantaran semua memang dibikin dengan hasrat meninggalkan sama sekali bahasa negerinya. Pesta Inggris-ria ini juga diikuti banyak kitab susunan orang Indonesia yang bicara tentang seni budaya Indonesia. Kitab yang sama sekali tak menyertakan bahasa Indonesia itu dicetak di Indonesia, diterbitkan di Indonesia, diedarkan di Indonesia, untuk orang Indonesia.

Hasrat mereduksi kedaulatan bahasa Indonesia itu menimbulkan tafsir berbagai-bagai. Ada yang mengatakan itu wajar dan niscaya di tengah pergaulan global. Ada yang mengira itu cuma kecenderungan penjelimetan dan sok terpelajar untuk menggapai keelitan. Ada yang menyebut itu sebagai bagian dari strategi pemasaran dan penginternasionalan agar orang asing tertarik.

Padahal, alangkah cantik apabila para pelaku budaya membuat judul dalam bahasa Indonesia (yang tak kalah gagah apabila diolah) untuk forum Indonesia dan versi Inggrisnya didampingkan ketika memasuki ajang internasional.

Orang Indonesia tentu sah memakai bahasa bangsa lain, apalagi bahasa internasional, dengan bangga. Namun, tidak elok apabila perbuatan itu berakibat bahwa bahasa Indonesia kesepian bagai ibu yang tidak diakui anak-anaknya yang menjelma jadi Malin Kundang. Menyedihkan apabila kemerdekaan bangsa yang susah payah diperjuangkan pada akhirnya melahirkan tabiat yang menyimpan niat menjajah kedaulatan bahasa bangsanya sendiri.

*) Kritikus, Penulis Buku-buku Seni Budaya

Iklan

2 thoughts on “Bangsa Mengambang

  1. Kami sangat setuju bahwa kita harus bangga atas bahasa kita sendiri,mohon Presiden baru nanti Bpk Jokowi tidak selalu pakai bahasa Asing,contohlah Presiden Tiongkok Xi Jinping sewaktu kunjung ke Indonesia,saat pidato didepan DPR meskipun sebenarnya beliau sangat fasih dalam bahasa Inggris,juga anggota DPR kita relatif semuanya bisa bahasa Inggris,toh Presiden Tiongkok ini lebih bangga menggunakan bahasanya sendiri bahada Mandiri,dan tidak merasa risih sama sekali yang pendengarnya tidak mengerti bahasa Mandarin,mohon rubrik bahasa ini dapat sebagai pelopor dalam menggunakan bahasa Indonesia yang benar dan baik,dan Presiden baru kita Jokowi lah sebagai peloprnya,jangan sampai seperti di mal Jakarta,tempat parkir petunjuknya semua dalam bahasa Inggris,sopir mana bisa mengerti kata “exit”,”park”,dst
    Terima kasih

  2. Jauh sebelum gegar budaya bahasa Inggris berjangkit di benak bangsa Indonesia, gegar budaya bahasa Arab sudah berjangkit sejak berabad-abad yang lalu di benak bangsa Indonesia, dan bahkan terasa masih tetap kuat bertahan sampai hari ini. Penyakit berarab ini merasuk ke semua lapisan masyarakat, dari pemerintahan sampai ke rakyat kecil.

    Di Aceh, yang notabene masih memiliki warga yang buta aksara (dan mereka pasti buta bahasa Indonesia), gubernurnya menginstruksikan agar murid-murid lulusan Sekolah Dasar wajib bisa membaca bahasa Arab! Ini jelas upaya sangat kuat untuk mereduksi kedaulatan bahasa Indonesia, dan notabene yang mewajibkan adalah pemerintah, yang diwakilkan oleh pemerintah daerah Aceh! Memang sangat menyedihkan apabila kemerdekaan bangsa Indonesia yang telah susah payah diperjuangkan mati-matian oleh para pejuang pada akhirnya melahirkan tabiat orang-orang yang menyimpan niat menjajah kedaulatan bahasa bangsanya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s