Rok Luar

Kasijanto Sastrodinomo* (Majalah Tempo, 11 Nov 2013)

LANGIT membersit jernih ketika saya tiba di Bandar Udara Internasional Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menjelang tengah hari beberapa waktu yang lalu. Bandara itu tergolong gres, baru beroperasi sekitar tiga tahun terakhir menggantikan Selaparang yang kini tampak tua. Terletak di sebuah kawasan desa di Kabupaten Praya, Lombok Tengah, sekitar lima puluh kilometer dari Mataram, ibu kota provinsi, lapangan gegana yang baru itu tampak megah di tengah padang kosong. Tak ada bangunan besar lain di sekitarnya. Sebagian besar area lahan yang masih terbentang luas itu berupa sawah, ladang, dan sedikit hunian penduduk. Dulu, kata sopir yang menjemput saya, kawasan itu sangat sepi dan jarang didatangi orang.

“Ada yang menyebutnya rok luar,” ujar Pak Sopir tertawa kecil. Dia mengaku tak paham maksud istilah itu karena cuma dengar dari obrolan para pakar yang pernah ia jemput. Saya ingat gurauan serupa, entah siapa pemulanya, yang menyebut “rok luar” sebagai terjemahan outskirts secara harfiah. Dalam The Con­cise Oxford Dictionary (1987), kata itu berarti “outer border or fringe of town, district, subject, etc.” Ringkas kata, outskirts adalah daerah pinggiran kota. Awalnya, kata itu berbentuk tunggal yang dirakit dari out plus skirt, dan supaya tidak kèder dengan pakaian “rok” dibuatlah jamak. Perihal “rok” itu dalam kosakata Inggris cukup disebut skirt, yang dijelaskan sebagai “woman’s outer garment hanging from waist” alias pakaian luar perempuan yang menggantung dari pinggang ke bawah. Ngisoran, kata orang Jawa.

Selain bagian tertentu yang telah digarap menjadi ladang atau sawah, outskirts secara tipikal digambarkan sebagai daerah tak bertuan, area yang asing, sepi, ada kalanya menakutkan. Dalang wayang kulit di Jawa biasa melukiskan tlatah pinggiran kerajaan sebagai alas gung liwang-liwung atau rimba belantara tempat makhluk gaib atau danawa bermukim. Orang Betawi bilang “tempat jin buang anak” untuk menyebut lokasi yang tak diinginkan manusia. Di Muangthai, istilah pa thuan merujuk pada “ruang tak berperadaban” yang terletak di luar batas muang “negara” atau “kota”. Ini mirip dengan istilah mancanagara atau njaban nagari “luar negeri” versus nagaragung sebagai pusat keraton di kerajaan Jawa tempo dulu.

Di Amerika, penggunaan kata outskirts bisa dibaca dalam rekaman testimoni Frederick Douglas di situs The Free Library, “I had always with my grandmother on the outskirts of the plantation where she was put to raise the children of the younger women.” Douglas adalah budak kulit hitam Amerika yang lahir di Tuckahoe, Maryland, jauh sebelum perbudakan lenyap dari negara bagian itu selepas pertengahan abad ke-19. Pada masa perbudakan, Tuc­kahoe merupakan kota kecil pinggiran yang kusam di tepian Teluk Chesapeake yang sempit. Maka narasi itu juga menyiratkan gambaran sosiologis daerah pinggiran yang kumuh sebagai hunian mereka yang terpinggirkan atau dipinggirkan.

Dalam sejarah Prancis semasa ancien régime abad ke-13 dikenal istilah appanage, yaitu tanah milik raja yang dihibahkan kepada anak atau kerabatnya semacam tanah tunjangan yang berlaku hingga pensiun bagi pemegangnya. Lahan ini biasanya sangat luas yang menghampar di pinggiran wilayah kerajaan dan tetap diawasi dengan “remote control” dari istana. Appa­nage baru hapus sekitar dua dekade setelah Revolusi Prancis. Serupa dengan itu, dalam bahasa Inggris Anglo-Saxon lama ada istilah landrica, yang merujuk pada penguasa tanah kaya raya yang mewakili kekuasaan raja di wilayah pinggiran kerajaan. Artinya, lahan “rok luar” tidak serem-serem amat, tapi malah punya makna kekuasaan sosial-politis pemangkunya.

Istilah outskirts diperkirakan baru muncul pada awal abad ke-20, bertalian dengan semakin berkembangnya kajian sosiologi perkotaan. Kala itu, kota-kota di Dunia Ketiga, menurut para pakar, mengalami perubahan besar-besaran sebagai akibat aktivitas ekonomi (lihat misalnya Changing South-East Asian Cities yang diedit Y.M. Yeung dan C.P. Lo, 1976). Kota-kota inti (primate cities) merupakan pusat artikulasi globalisasi dan integrasi yang, karena semakin intensif dan sesak, meluber ke daerah pinggirannya. Meski demikian, outskirts tampaknya hanya istilah populer yang berkelindan dengan istilah lain yang sekerabat, semisal suburb, atau daerah penyangga yang lazim digunakan di sini.

Bahkan kini istilah-istilah tersebut semakin samar-samar menjauh ketika kota-kota besar memoles daerah pinggiran sebagai bagian dari perluasan wilayahnya. Sebagai pusat kegiatan ekonomi kapitalistik, kota-kota metropolis perlu lahan baru bagi ekstensi kepentingannya. Maka daerah pinggiran pun dibangun dan berlabel baru, seperti kawasan industri, kota baru, kota satelit, kota mandiri, dan residence. Mungkin berbagai istilah itu bagian dari “the new strategic landscape” (meminjam ungkapan Paul Kennedy dalam The Rise and Fall of the Great Powers, 1990), yang menyulap “tempat jin buang anak” menjadi kawasan kinclong. Para pemikir Marxis memakai istilah periphery untuk memerikan suatu “zona transisi” tempat “pusat” dan “pinggiran” tak hanya bertemu, tapi juga berselisih.

Di lobi hotel tampak beberapa gadis belia berparas elok mengenakan outskirt (tanpa “s”) berukuran ekonomis hal yang lumrah terlihat di banyak hotel kota-kota besar. Ini memang soal lain di luar outskirts tadi. Maka buru-buru saya temui Panitia Seminar untuk memperoleh jatah pembagian kamar. Dan, di kamar hotel yang menatap kolam renang kebiruan itu, saya teringat kiasan to skirt danger, yang artinya “nyrèmpèt-nyrèm­pèt bahaya”.

*) Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Sumber gambar: Panoramio

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s