Bajik dan Bijak

Kasijanto Sastrodinomo*, KOMPAS, 16 Nov 2013

Kedua kata ini, kebajikan dan kebijakan, secara kebetulan muncul bersamaan dalam satu edisi koran ini pada 11 Maret yang lalu. Kata pertama tampil dalam liputan ”Kebajikan Telah Lumpuh” yang berisi petikan pendapat Yudi Latif, direktur eksekutif Reform Institute. Inti pembicaraan: arah politik di Indonesia akhir-akhir ini cenderung berorientasi kepada kuasa modal dan mengabaikan kesejahteraan rakyat sehingga ”kebajikan kolektif lumpuh”. Kata kedua muncul dalam artikel opini Al Araf, ”Kebijakan Keamanan dan Pemilu”, yang merupakan kritik terhadap Rancangan Undang-Undang Keamanan Nasional yang dinilai bisa represif dan rawan dibelokkan untuk kepentingan politik sesaat.

Baik bajik maupun bijak, yang merupakan dasar kebajikan dan kebijakan, boleh dibilang kata bersepuh emas. Keduanya digadang-gadang menjadi landasan moral setiap ucapan dan langkah hidup manusia. Betapa tidak, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, bajik atau kebajikan diartikan sebagai ’sesuatu yang mendatangkan kebaikan (keselamatan, keberuntungan, dan sebagainya)’, ’perbuatan baik’. Padanannya adalah amal, etika, jasa, kebaikan, keelokan, moralitas, dan tata susila seperti tersua dalam Tesaurus Bahasa Indonesia Eko Endarmoko (2006). Makna filosofisnya, bajik/kebajikan merupakan perbuatan etis manusia dalam relasi dengan sesamanya.

Dalam ajaran klasik Tiongkok, kebajikan ditandai berbagai sifat mulia yang disebut bāa ādé. Sifat-sifat luhur itu adalah xiao ’bakti’, ti ’persaudaraan’, zhong ’kesetiaan’, xin ’dapat dipercaya’, li ’kesusilaan’, yi ’kebenaran’, lian ’sederhana’, dan chi ’tahu malu’. Khazanah petitah-petitih dalam kebudayaan kita pun banyak yang mengajarkan pekerti seperti itu. Petikan pantun elok bangsa karena budi / rusak budi bangsa binasa, yang bermakna keluhuran ataupun kerusakan suatu bangsa sangat bergantung pada tabiat masyarakatnya, bisa jadi pengingat ketika nilai kebajikan bersama meluntur.

Perihal adjektif bijak, KBBI menjelaskannya sebagai ’selalu menggunakan akal budinya’, ’pandai’, ’mahir’; sedangkan nomina kebijakan adalah ’kepandaian’, ’kemahiran’, ’kebijaksanaan’. Biasanya bijak dijadikan ciri wanci ideal kepemimpinan seseorang, termasuk dalam memimpin keluarga, seperti dalam ungkapan ’ayah/ibu yang bijak’. Dalam arti khusus, kebijakan lazim dipakai merujuk pada suatu perencanaan untuk melaksanakan pekerjaan secara institusional; identik dengan policy dalam bahasa Inggris. Judul artikel opini yang dikutip di atas menyiratkan bahwa pemerintah dan parlemen tengah merancang pengelolaan masalah keamanan yang ditengarai bertujuan politis.

Bentuk majemuk bijak-bestari banyak ditemukan dalam narasi literer Melayu. Dalam cerita Syair Siti Zubaidah (anonim, 1924), misalnya, tersurat /Bismi’llahi’-Rahmani’r-Rahim. Inilah Syair Siti Zubaidah sangatlah indah/ tetapi /bukan menunjukkan bijak-bestari/ dan seterusnya. Ungkapan terakhir kutipan itu justru mencerminkan bahwa pengarangnya berwatak bijak karena tak menonjolkan karyanya sendiri. Menurut filolog Gijs Koster, dalam Mengembara di Taman-taman yang Menggoda (2011), syair itu berkisah tentang Puteri Zubaidah, yang taat, bijak, dan tabah menghadapi cobaan dan peperangan sehingga berhasil membebaskan suaminya, Sultan Zainal Abidin Kembayat, dari ”penyanderaan puteri-puteri Cina yang kafir”.

Mestinya, bajik dan bijak itu bersenyawa sehingga menumbuhkan apa yang disebut keadilan dalam arti seluas-luasnya.

Suatu kebijakan politik, misalnya, seharusnya, atau idealnya, membawa kebajikan bagi orang ramai.

Namun, repotnya, penyusunan kebijakan sering diwarnai ”baku-bajak” di kalangan perancangnya. Walhasil, kebijakan yang diproduksi malah menjauh dari kebajikan.

*) Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s