Iwak Pitik, Iwak Tempe, Iwak Peyek

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 18 Nov 2013)

Iki iwak pitikBeberapa waktu lalu, saya mendapat kiriman gambar yang menarik melalui telepon seluler. Gambar hitam-putih yang berupa goresan tangan yang sederhana itu lebih mirip karya siswa taman kanak-kanak terdiri atas tiga gambar berbeda, tapi terangkai dalam satu cerita. Gambar pertama berbentuk ikan laut. Gambar kedua, di samping kanan gambar pertama, berupa gambar ayam. Sedangkan gambar ketiga berwujud ikan, tapi berkaki ayam. Ketiga gambar itu dilengkapi keterangan dalam bahasa Jawa. Di atas gambar pertama tertulis iki iwak (ini ikan). Keterangan gambar kedua bertulisan iki pitik (ini ayam). Adapun keterangan gambar ketiga merupakan gabungan gambar pertama dan kedua, yakni iki iwak pitik (ini ikan ayam).

Melihat gambar ketiga berikut membaca keterangan yang menyertainya, reaksi pertama saya adalah mengatakan: mana ada ikan ayam, atau lebih tepatnya: ikan berkaki ayam. Mobilitas ikan tidak menggunakan kaki, tapi berenang dengan menggerakkan sirip dan ekor. Jika manusia berkaki ikan, di dalam dunia dongeng tentu saja ada, yaitu ikan duyung. Meski di alam nyata belum pernah ditemukan ikan ayam, dalam bahasa keseharian kita malah sering mendengar istilah tersebut, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa.

Misalnya, ketika kita memutuskan makan di warung terutama di pinggiran kota dan desa pertanyaan pertama yang sering dilontarkan oleh pemilik atau penunggu warung adalah kalimat seperti ini: “Ikannya apa?” Lalu, tanpa sadar, kita pun akan menjawab: “Saya ikannya tempe saja,” atau, “Saya daging saja.” Baik pertanyaan maupun jawaban kalimat itu jelas salah kaprah. Anehnya, kesalahan tata bahasa itu terus terjadi hingga kini.

Fakta menyebutkan ikan tempe itu tidak ada. Sebab, tempe tidak masuk keluarga ikan-ikanan. Tempe merupakan sejenis makanan olahan yang terbuat dari bahan dasar kedelai. Bahkan tempe sama sekali tidak ada kaitannya dengan makhluk dalam air. Daging pun tak ada hubungannya dengan binatang dalam air bernama ikan. Lema “daging” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang artinya paling dekat dengan makanan adalah “bagian tubuh binatang sembelihan yang dijadikan makanan”.

Kata “ikan” yang dipakai pemilik warung itu tidak tepat. Yang ia maksud dengan “ikan” itu tidak lain adalah lauk. Dalam KBBI, kata “lauk” punya arti “daging, ikan, dan sebagainya (selain sayur) yang dimakan sebagai teman nasi”. Maka seharusnya pertanyaan yang ia sampaikan kepada pembeli berbunyi begini: “Ingin makan dengan lauk apa?” Kalau warung itu hanya menyajikan menu dengan lauk khusus berupa macam-macam ikan laut, baru pertanyaannya bisa berbunyi: “Ingin makan ikan apa?”

Selain lauk iwak pitik, dalam komunitas Jawa ada satu lauk lagi yang sangat digandrungi, bahkan menjadi judul lagu yang sempat hit tahun lalu. Lagu berjudul Iwak Peyek itu ngetop setelah dilantunkan secara atraktif oleh pedangdut Trio Macan. Sama halnya dengan iwak pitik, istilah iwak peyek salah kaprah. Kita tak akan menjumpai istilah iwak peyek (ikan rempeyek) dalam daftar keluarga ikan-ikanan ataupun dunia kuliner. Yang sering kita jumpai hanya rempeyek ikan.

Kesalahan istilah seperti iwak pitik dan iwak peyek masih banyak kita jumpai dalam bahasa Jawa. Dua di antara beberapa kesalahan itu adalah istilah nggodok wedang dan wedang putih. Nggodok sama dengan merebus. Sedangkan pengertian wedang (dalam KBBI, serapan bahasa Jawa) adalah minuman dari teh atau kopi dengan jahe. Jadi, nggodok wedang sama dengan merebus minuman. Tata cara membuat minuman kopi, teh, dan jahe yang benar bukan direbus, melainkan diseduh dengan air panas. Kita tahu air berubah menjadi panas setelah direbus.

Kesalahan makna serupa terlihat pada istilah wedang putih. Beberapa orang di desa saya yang tidak mengkonsumsi kopi dan teh atau saat makan di warung sakunya sedang tipis ketika ditanya pemilik warung mau minum apa, dengan spontan menjawab, “Wedang putih mawon.” Kalau diterjemahkan dengan benar, minuman yang dipesan orang itu jelas tidak ada. Sebab, wedang itu minuman dari bahan gula dan kopi/teh/jahe. Tak ada wedang berwarna putih. Itu wajar, karena yang dimaksud orang tadi adalah air putih.

Selain merebus air dan menggoreng ikan, aktivitas dapur ibu-ibu adalah menyiapkan nasi. Ketika ditanya sedang apa, mereka langsung menjawab dengan tangkas, “Menanak nasi.” Sepintas pernyataan itu benar, padahal salah. Sebab, arti “menanak” dalam KBBI adalah “memasak dengan merebus atau mengukus”. Yang direbus atau dikukus tentu saja bukan nasi, melainkan beras. Nasi itu beras yang sudah masak setelah direbus atau dikukus (ditanak). Kalau masih ditanak lagi, nasi akan jadi bubur.

KBBI memberi dua definisi untuk kata kerja “menanak”. Definisi kedua berbunyi “memasak dengan merebus atau mengukus”. Tapi mengapa pada definisi yang pertama tertulis “memasak nasi”? Bukankah nasi itu beras yang sudah matang setelah dimasak? Definisi pertama itu semestinya diubah menjadi “memasak beras”, bukan “memasak nasi”. Kalau memang benar terjadi kesalahan, sudah waktunya dilakukan pembetulan untuk lema “tanak” di halaman 1391 KBBI Pusat Bahasa Edisi Keempat.

*) Wartawan Jawa Pos

Iklan

One thought on “Iwak Pitik, Iwak Tempe, Iwak Peyek

  1. Entahlah… Saya tidak setuju kalau iwak pitik disalah-salahkan. Kenapa iwak pitik bisa berkembang jauh hingga menjadi iwak tempek dan iwak peyek? Pertanyaan itu tidak bisa dijawab kalau kata iwak dipahami sebagai ikan. Maaf saya rasa iwak dalam bahasa jawa lebih dari sekedar ikan yang berenang di air. Iwak saya curigai lebih untuk menyebut daging. Ikan air dalam bahasa jawa disebut iwak loh. Loh berasal dari luwah artinya sungai bengawan. Jadi iwak loh adalah daging yang diambil dari sungai. Karena itu maka semua daging disebut iwak: iwak sapi, iwak wedus, iwak kebo, iwak celeng dst. Dalam pandangan jawa daging selalu menjadi lauk. Lauk adalah makanan yang bukan nasi dan bukan sayur. Lauk selalu lebih sedikit daripada nasi, dan rasanya lebih kuat daripada nasi dan sayur. Pusat dan puncak kenikmatan santapan berada pada lauk. Lauk kasta tertinggi adalah daging-dagingan, iwak-iwakan. Iwak tempe dan iwak peyek dan iwak tahu dan iwak krupuk lahir karena dalam konteks ketika daging-dagingan tidak ada maka lauk-lauk non iwak itulah penggantinya. Dan mungkin karena terbiasa mendapatkan daging sebagai lauk (lawuh) maka kata ketika akan maka orang biasa bertanya “iwake apa?” dan karena lawuhnya tempe maka jawabnya “iwak tempe”. Iwak tempe sangatlah sekaligus menyedihkan dan menggelikan: orang jawa menertawakan kemiskinan yang membuat mereka harus berlawuh iwak tempe dan bukannya iwak-iwakan sungguhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s