Sutan Mohammad Zain

Bandung Mawardi* (Majalah Tempo, 25 Nov 2013)

Sejarah perkamusan Indonesia mendapat kejutan dengan penerbitan Kamus Umum Bahasa Indonesia (1994) susunan J.S. Badudu dan Sutan Mohammad Zain. Puluhan tahun kita mengenal dan menggunakan Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Poerwadarminta dan Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan pemerintah. Dua kamus itu terkenal, diedarkan, dan digunakan di pelbagai institusi pendidikan. Kamus susunan J.S. Badudu dan Sutan Mohammad Zain perlahan menjadi “pesaing”, mengurangi dominasi kamus susunan W.J.S. Poerwadarminta dan pemerintah.

J.S. Badudu adalah pakar bahasa. Ia menulis buku-buku kebahasaan, antara lain Pelik-pelik Bahasa Indonesia, Bahasa Indonesia dalam Pembinaan di TVRI, Inilah Bahasa Indonesia yang Benar, dan Cakrawala Bahasa Indonesia. Guru, murid, dosen, dan mahasiswa sudah akrab dengan tulisan-tulisan Badudu. Sejak 1957, buku-buku Badudu menjadi sumber belajar bahasa Indonesia. Kontribusi Badudu telah membuat bahasa Indonesia bisa bergerak di arus perubahan zaman.

Siapakah gerangan Sutan Mohammad Zain? Kita belum mendapat keterangan utuh mengenai Sutan Mohammad Zain (1886-1962). Tokoh ini akrab bagi Badudu, tapi belum akrab dengan publik. Badudu pernah membuat perjanjian dengan keluarga Zain untuk merevisi Kamus Moderen Bahasa Indonesia (1952) susunan Zain. Janji itu dibuktikan melalui penggarapan dan penerbitan Kamus Umum Bahasa Indonesia (1994) yang mencantumkan dua nama: J.S. Badudu dan Sutan Mohammad Zain. Kamus itu setebal 1.645 halaman. Saham Badudu lebih besar ketimbang Zain (Tempo, 9-15 September 2013). Waris­an dari Zain pun berubah menjadi kamus tebal, berkontribusi bagi publik.

Sutan Mohammad Zain adalah pengajar dan pakar bahasa Indonesia meski belum akrab di ingatan publik. Sejak 1950-an, Zain menulis buku pelajaran dan menggarap kamus bahasa Indonesia. Buku berjudul Djalan Bahasa Indonesia terbit sebagai bacaan di sekolah. Buku ini berisi materi tentang suku kata, ejaan, tanda baca, jenis kata, dan kalimat. Zain pun memberi pemahaman awal tentang sejarah dan pertumbuhan bahasa Indonesia. Penjelasannya pendek: “Sebagai dasar dari pada bahasa Indonesia sekarang ialah bahasa jang bisa djuga disebut bahasa Melaju moderen jang ditjukupkan dengan kata-kata bahasa-bahasa daerah serta istilah-istilah internasional, jang diperlukan oleh masjarakat moderen.”

Penggunaan kata “moderen” berlanjut dalam penerbitan kamus berjudul Kamus Moderen Bahasa Indonesia (1952). Kata “moderen” diambil dari bahasa Belanda “modern”, berarti “tjara kemadjuan sekali”. Zain memberi contoh penggunaan kata “moderen”: “Bahasa-bahasa moderen jaitu bahasa Inggeris, Perantjis dan Djerman.” Pengertian ini membuat kita bisa menerima klaim Zain bahwa bahasa Indonesia adalah “bahasa Melaju moderen”. Pengertian Zain berbeda dengan Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952). “Moder(e)n” berarti “jang terbaru; setjara baru; mutachir”.

Penggunaan kata “moderen” dalam judul kamus susunan Sutan Mohammad Zain mengartikan ada kehendak kemajuan dalam urusan bahasa Indonesia. Kata ini diganti dengan “umum” oleh J.S. Badudu saat melakukan revisi atau penambahan lema, menjadi Kamus Umum Bahasa Indonesia. Ingatan kita atas kamus lawas pun berubah akibat perubahan judul.

Di halaman depan Kamus Moderen Bahasa Indonesia tercantum keterangan kecil: Sutan Mohammad Zain adalah guru besar di Universitas Nasional Jakarta. Kamus ini termasuk bersejarah, mengawali penggarapan kamus di Indonesia. Pengakuan Zain patut jadi acuan untuk mengetahui nasib bahasa Indonesia saat revolusi: “Bahasa Melaju jang tadinja terutama hanjalah dipergunakan untuk melajani penghidupan suku-suku bangsa jang ‘statis’ (hampir tidak bergerak) diganti sekarang oleh bahasa Indonesia, jang mau tak mau, harus dapat dan pandai melukiskan perasaan masjarakat Indonesia muda jang ‘dinamis’ (jang selalu berubah-ubah dan selalu tumbuh). Ja, masjarakat Indonesia moderen.”

Sutan Mohammad Zain tampak ambisius, menghadirkan kamus dengan cap dan semangat “moderen”. Warisan itu masih ada meski berubah judul, berubah nuansa kesejarah­an. Dulu, Zain berkeinginan membuat kamus setebal 600 atau 700 halaman dan berharga murah. Niat itu berubah saat naskah kamus masuk percetakan. Zain pun berharap kamus bisa setebal 1.000 halaman. Niat dan harapan berbeda dengan hasil percetakan. Kamus Moderen Bahasa Indonesia terbit setebal 896 halaman.

Janji J.S. Badudu kepada keluarga Sutan Mohammad Zain untuk merevisi Kamus Moderen Bahasa Indonesia adalah pembuktian etos mengurusi bahasa Indonesia. Kita mengusulkan agar pemerintah membuat janji lanjutan dengan keluarga Zain. Janji itu berisi kehendak pemerintah membuat buku biografi atau katalog buku susunan Zain. Penghormatan atas Sutan Mohammad Zain adalah keharusan.

*) Pengelola Jagat Abjad Solo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s