Harap

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 21 Des 2013

“Saya harap ia berhasil, tapi aku berharap dia gagal.” Demikianlah si Google menerjemahkan ”I hope he succeeds but I expect him to fail”. Ini bukan masalah penerjemahan karena, tentu saja, tidak ada penerjemah kita yang sedogol itu, melainkan cerminan kecenderungan psikologis dalam bahasa Indonesia untuk memadukan subjektivitas dan objektivitas, mikrokosmos dan makrokosmos, keinginan atau keharusan dan kenyataan. ”Saya rasa”, misalnya, biasanya tidak dibedakan dari ”Saya pikir”. Terlihat juga misalnya dalam kalimat ”Memang benar dia telah melakukan tindakan yang tidak benar itu”. Benar yang pertama adalah kenyataan; benar yang kedua adalah keharusan.

Harap yang pertama dalam contoh di atas bersifat subjektif, suatu keinginan atau cita-cita. Harap yang kedua bersifat objektif, atau—karena objektivitas tidak pernah absolut—suatu perkiraan yang kurang lebih sesuai dengan kenyataan. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa bukan hanya tidak membedakan keduanya, tampaknya bahkan tidak sadar akan keberadaan perbedaan itu:

ha•rap•an n 1 sesuatu yg (dapat) diharapkan: ia mempunyai ~ besar dapat memenangkan pertandingan itu; 2 keinginan supaya menjadi kenyataan: ~ ku agar ia kelak menjadi orang yg berguna bagi nusa dan bangsa; 3 orang yg diharapkan atau dipercaya: pemuda ~ bangsa

Contoh 1 mengacu pada harapan objektif, contoh 2 dan 3 subjektif.

Dalam bahasa Inggris kedua makna itu terbedakan dalam kata-kata yang sama sekali tidak berhubungan. To expect berasal dari ex(s)pectare (Latin) yang harfiah berarti ’melihat keluar’, yakni menanti, menunggu; memperhatikan apa-apa yang terjadi di luar sana dalam kenyataan, lalu mempertimbangkan apa sekiranya yang akan terjadi berikutnya. Harapan dalam arti ini adalah suatu penantian akan kejadian di masa depan, entah positif ataupun negatif. Sebetulnya ada juga perasaan di sini, tapi bukan dalam arti keinginan akan sesuatu yang bagus, melainkan hanya bahwa sesuatu yang dirasa penting akan terjadi.

To hope berasal dari Inggris Kuno hopian. Maknanya adalah penantian yang diinginkan atau hasrat yang menyertai penantian. Sifatnya positif, yang bagus-bagus saja. Harap pada mulanya hanya biasa dipakai dan dipahami dengan makna ini. Barulah ketika to expect atau expectation masuk, para penerjemah pada umumnya sepakat memadaninya dengan harap. Hanya saja, seperti tampak dalam contoh di atas, terjemahan satu-untuk-dua tidak memadai. Sebagian orang mengatasi ini dengan jalan gampang: ekspektasi. Perkiraan juga kadang-kadang bisa dipakai: ”Saya harap ia berhasil, tapi aku kira dia akan gagal.”

Sosiolog, antropolog, filsuf, atau linguis mungkin tertarik mengaji secara ilmiah sejauh mana pemasukan kata-kata asing dengan makna-makna spesifik yang sebelumnya tidak dikenal telah/sedang berpengaruh pada pola pikir—dan dengan demikian ujung-ujungnya pada budaya dan falsafah kehidupan (Weltanschauung)—rakyat Indonesia; dan sejauh mana kata-kata tersebut akan kehilangan sebagian besar makna asalinya dan sekadar menjadi padanan kata yang sudah ada.

Sejarah, sebagaimana normal terjadi dalam evolusi bangsa dan bahasa, menunjukkan kedua tren ini. Istilah-istilah seperti nasionalisme, berdikari, dan swadesi telah berhasil menanamkan konsep modern kebanggaan kebangsaan ke dalam psike rakyat Indonesia. Namun, kita juga melihat konsep risiko menyusut menjadi sama dengan bahaya, mengantisipasi menjadi mengatasi, dan jatidiri yang dimaksudkan pencetusnya memadani Innerlichkeit menjadi identitas atau bahkan kartu identitas.

Harapan skizofrenik penulis: apa pun trennya, orang per orang Indonesia menjadi makin cerdas dan bijaksana dalam menuangkan kecerdasan dan kebijaksanaannya itu ke dalam tulisan-tulisan yang tak lekang oleh panas tak lapuk oleh hujan tak pupus oleh zaman; sekaligus terus-menerus memperbaharui bahasa Indonesia sehingga makin mampu menjadi instrumen pemikiran dan penuangan pemikiran yang makin luas, tinggi, dalam, dan indah. Ehm.

*) Pesimis Kongenital Penuh Harapan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s