Kucing Oom Pasikom

Kasijanto Sastrodinomo*, KOMPAS, 28 Des 2013

Ikut mejeng bersama rombongan dinasti politik (tampaknya dimaksudkan begitu), figur kucing pada karikatur Oom Pasikom itu mengeong, ”Dinasti?! Apa salahnya kalau memang mampu…” Lalu, Si Oom pun menyahutinya, tetapi diarahkan kepada seseorang, ”Mampu ’nyuap ya, Pak?” (Kompas, 19 Oktober 2013). Karikatur itu, tak salah lagi, menyindir soal hangat di Tanah Air akhir-akhir ini: maraknya dinasti politik ketika kekuasaan politik diwariskan atau dibagikan kepada keluarga, kerabat, dan sobat. Kedinastian semacam itu, menurut para pengkritik, merusak demokrasi yang ujung-ujungnya berkubang korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Ngeong si kucing bisa dilihat sebagai pertanyaan retoris yang, dalam praktik berbahasa, tak perlu jawaban. Pertanyaan semacam itu, seturut Susan Miller, profesor sastra di Universitas Utah, dalam Trust in Texts (2008), lazim mengandung gagasan ”everyone knows” alias ”siapa pun tahu” yang menjadi antique characters atawa ciri-wanci-nya. Dalam pidato, misalnya, ”siapa pun tahu” sebagai gagasan ataupun ungkapan verbal digunakan untuk menegaskan sesuatu yang sudah dianggap jelas. Atau, tulis Miller lagi, untuk ”menyelamatkan muka” bagi yang lupa pada hal-hal yang sudah jadi pengetahuan umum. Jadi, ungkapan, ”Bukankah tujuan negara kita mencapai masyarakat adil dan makmur?” dalam suatu pidato tak usah repot-repot dijawab.

Itulah masalahnya: pertanyaan retoris biasanya tak pernah diuji kebenaran materiil dan moralnya. Sebaliknya, dianggap sebagai ”kebenaran konsensual” yang diamini secara umum. Begitu pula pertanyaan Si Meong, tentang apakah membangun dinasti politik itu salah, tak perlu jawaban lagi. Bila pun harus dijawab, sahutannya condong positif: tidak ada yang salah. Bisa saja membangun dinasti dianalogikan dengan hasrat membentuk sebuah ”keluarga besar” nan sentosa bin raharja. Soalnya, bagaimanakah cara menegakkan dinasti itu dan apa manfaatnya bagi banyak orang? Pantaskah seorang pemimpin menimbun raja-brana dengan cara korup demi kemakmuran dinastinya sendiri di tengah rakyat yang lara-lapa lahir-batin?

Pertanyaan retoris terasa semakin mangkus ketika ditautkan dengan aspek hak, seperti dalam ”Bukankah membangun dinasti merupakan hak setiap orang?” Kata hak dipahami sebagai ’milik’ atau ’kepunyaan’ seperti tersurat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Hak, apalagi hak asasi manusia, diyakini melekat sejak janin berada dalam gua-garba ibu. Jadi, dalam pengertian itu, manusia mempunyai hak secara alamiah: hak untuk melakukan sesuatu, memiliki sesuatu, dan menerima sesuatu. Di sini kata hak (alamiah) seperti ”mengunci” suatu kebenaran yang tak bisa diperbalahkan lagi. Kritik yang muncul: hak alamiah tak jelas batasnya dan hanya menjadi senjata bagi yang ingin menjaga ”kebekuan” kekuasaan—apa pun jenisnya.

Soalnya kemudian, apakah hak itu digunakan tanpa melanggar hak orang lain. Maka, hak beriringan dengan kewajiban. Semestinya, ”pemegang hak” bisa tanggap dan bermaslahat secara sosial serta menahan diri terhadap ”nafsu kenikmatan” secara berlebihan. Maknanya, suatu hak pada dasarnya tidak absolut. Para penganut utilitarian bahkan selalu berkomitmen untuk ”menukar hak sekelompok kecil orang demi kepentingan orang lain yang lebih banyak” (lihat Theories of Rights suntingan J Waldron, 1984). Meski hak dianggap sebagai kosokbalèn kewajiban, jelas keduanya tak terpisahkan. Namun, inilah soalnya, seperti disebut Budiarto Shambazy, banyak orang doyan bicara hak, tetapi alpa kewajiban (Kompas, 2/11/2013).

Pertanyaan retoris kucing Oom Pasikom, ”Apa salahnya kalau memang mampu?” bisa ditafsirkan sebagai optimisme, namun bisa pula cermin kejumawaan. Maka, inilah keprihatinan lama yang sering terdengar: banyak yang merasa mampu, tetapi tak mampu merasa.

*) Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s