Spamduk

André Möller* (KOMPAS, 18 Jan 2014)

KIRANYA susah membayangkan suatu bangsa yang lebih menggemari spanduk daripada bangsa Indonesia. Ada kumpulan spanduk di setiap sudut jalan. Tiada peristiwa, hal, atau keadaan yang tidak bisa digarisbawahi oleh spanduk. Ada spanduk berisikan ucapan selamat (Selamat Natal! Selamat Lebaran! Dirgahayu RI! Selamat Datang!), pesan politik (Pilihlah aku! Hentikan korupsi! Saya bisa menyejahterakan Anda!), pesan moral (Shalat sebelum dishalatkan! Patuhilah aturan lalu lintas! Hormatilah penganut agama lain!), ajakan (Hadirilah seminar ini!), iklan (Minumlah produk ini! Belilah pulsa sebanyak-banyaknya!), dan lain-lain. Di dunia maya pun situasinya sama: di setiap layar ada spanduk digital yang menyampaikan sejumlah pesan yang jauh lebih sering mengganggu daripada bermanfaat.

Kata apa ini, spanduk? Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa menjelaskan sebagai ’kain yang direntangkan yang berisi slogan, propaganda, atau berita yang perlu diketahui umum’, ’kain rentang’. Penjelasan ini, menurut saya terlalu permisif sebab ada kata-kata yang sepertinya ketinggalan. Barangkali lebih baik begini: ’kain yang direntangkan yang berisi slogan, propaganda, atau berita yang si pemasang merasa perlu diketahui umum’. Terus terang saja, nyaris 100 persen pesan spanduk-spanduk yang terpasang sepanjang jalan bersifat tidak perlu diketahui umum.

Kata spanduk berasal dari bahasa Belanda, yakni spandoek. Doek berarti ’kain’, span berarti ’merentangkan’. Dilihat dari sudut etimologi, penjelasan KBBI mesti dinilai cukup bagus. Sebuah spanduk adalah kain yang direntangkan.

Hanya saja, penjelasan ini terlampau netral, bahkan permisif. Karena, penjelasan ini tidak mengandung unsur polusi visual yang merupakan bagian integral dari setiap spanduk. Yang saya maksud dengan polusi visual adalah pencemaran penglihatan. Perlu kami akui bahwa ada macam-macan jenis pencemaran: pencemaran penglihatan, pencemaran udara, pencemaran suara, dan seterusnya. Spanduk dengan gencar mencemari penglihatan. Lihat saja di kota-kota atau bahkan desa-desa di Indonesia: pemandangan indah nyaris ditutupi atau dicemari oleh spanduk. Di kota besar situasinya sudah gawat. Daerah bebas spanduk menyempit setiap hari.

Sejujurnya, ada spanduk yang berguna dan tidak mengganggu. Jadi, bagaimana kita bisa membedakannya secara bahasa? Mari kita mengarahkan perhatian kita kepada kata spam yang tercantum dalam KBBI edisi terakhir. Spam adalah ’surat yang dikirim tanpa diminta melalui internet, biasanya berisi iklan’. Sebagai pengguna Internet, kita semua pasti sudah menerima surat spam dengan macam-macam pesan dan iklan. Nah, bagaimana kalau saya memberanikan diri mengusulkan pembentukan kata baru dalam bahasa Indonesia supaya kami bisa membedakan spanduk berguna dari spanduk sampah?

Kata yang saya usulkan adalah spamduk. Ini gabungan kata spam dan spanduk.

Penjelasan dalam kamus kira-kira bisa berbunyi: ’kain yang direntangkan tanpa diminta sepanjang jalan, biasanya berisi iklan’. Dengan demikian, masalahnya bisa dikatakan sudah dituntaskan dari segi bahasa. Dari segi kenyataan, lain ceritanya. Pihak berwenang juga penduduk setempat tentu saja perlu menangangi maraknya pemasangan spamduk ini. Dengan menangangi, saya sebenarnya maksudkan ’melawan dengan keras’. Nusantara tidaklah indah kalau penglihatan sawah-sawah ditutupi gambar politikus yang minta suara pemilih, hanya untuk diperiksa KPK beberapa bulan kemudian.

*) Penyusun Kamus Swedia-Indonesia, Tinggal di Swedia

Iklan

2 thoughts on “Spamduk

  1. Ping-balik: Ramadan dan Idulfitri | Rubrik Bahasa

  2. Saya suka dengan kata spamduk karena lucu, tetapi menurut saya spamduk kedengarannya hampir sama dengan spanduk, sehingga dapat membingungkan orang yang mendengar kata tsb. Oleh karena itu saya tidak setuju dengan pemakaian spamduk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s