Bunga ”Ya”, Riba ”Jangan”

Samsudin Berlian* (KOMPAS, 25 Jan 2014)

TULISAN-tulisan suci agama-agama dunia—Hindu, Yahudi, Buddha, Kristen, Islam—mencela bunga. Eit, tunggu dulu. Bukankah yang dikecam riba? Hmm, apa gerangan beda kedua kata?

Bunga, rente, atau anak uang adalah uang yang dibayarkan sebagai biaya pemakaian uang yang dipinjamkan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pusat Bahasa memberikan definisi bertele-tele: imbalan jasa untuk penggunaan uang atau modal yang dibayar pada waktu tertentu berdasarkan ketentuan atau kesepakatan, umumnya dinyatakan sebagai persentase dari modal pokok. KBBI menyamakan bunga uang dengan riba (Arab) dan rente (Belanda). Riba punya arti ”lintah darat”, yakni ”orang yang meminjamkan uang dengan bunga sangat tinggi”. Karena itu, rentenir adalah lintah darat, rente sekubang dengan riba.

Jadi, sebetulnya, ada beda antara riba/rente dan bunga, terkualifikasikan dalam frasa ”sangat tinggi” itu. Masalah: apa standar ”sangat tinggi” untuk bunga? Siapa yang menentukan? Toh, bunga setingkat apa pun selalu terlalu tinggi bagi pengutang dan sangat rendah untuk pemiutang.

Masyarakat kuno sadar bahwa riba bisa berujung bencana pada kehidupan pengutang. Pada kasus ekstrem, praktik bunga berbunga melahirkan sistem perbudakan. Pengutang (terpaksa) membayar utang dengan menjadi budak pemiutang, kadang-kadang sampai ke anak cucu. Sistem seperti itu, bukan hal aneh dalam masyarakat-masyarakat Nusantara zaman dulu dan sampai sekarang masih ditemukan, antara lain, di Asia Selatan.

Itu sebab sebagian besar berusaha membatasinya. Sumeria, salah satu peradaban tertua di dunia yang hidup di Irak lebih dari 5.000 tahun lalu, menetapkan bunga maksimum 20 persen; mereka mengenal sistem kontrak bagi hasil! Masyarakat Ibrani yang hidup di Palestina pada 3.000 tahun silam memilih melarang, sikap yang diwarisi Kristen dan Islam.

Tulisan-tulisan kuno tidak membedakan bunga dan riba, yang baru mulai pisah makna di dunia ekonomi Eropa pada Abad Pertengahan, ketika makin diakui bahwa utang bukan hanya berguna untuk kebutuhan darurat orang miskin, melainkan bisa menjadi motor produksi jangka panjang bagi wiraswasta. Argumennya, uang sebagaimana barang dagangan atau alat produksi lain seperti tanah atau perkakas pantas disewakan dengan bayaran uang. Dengan sistem bunga yang ”wajar” atau fair, baik pengutang maupun pemiutang serta perantara mereka (bank) berpotensi menarik manfaat bersama-sama.

”Kewajaran” dan ”kepantasan” itulah yang memberikan fondasi etis kepada bunga atau interest. Dari situ kekuatan legal lalu diberikan kepada bunga. Sebaliknya, riba atau usury tetap menyimpan makna imoral sebagai bunga tidak wajar (berlebihan); undang-undang pun dikeluarkan untuk mengkriminalkan riba. Kedua unsur ini, etika dan hukum, dirangkai tepat padat oleh Oxford English Dictionary melalui istilah ”luar batas” dan ”ilegal” dalam definisi usury sebagai ”the practice of charging, taking, or contracting to receive, excessive or illegal rates of interest for money on loan”.

Dalam sistem ekonomi pasar, idealnya yang menentukan tingkat bunga adalah pasar sendiri, naik turun diatur ”tangan gaib”. Negara hanya campur tangan apabila keadaan ekonomi (terancam) mengalami kekacauan, dengan memaksakan secara langsung atau tidak langsung tingkat bunga tertinggi yang dianggap ”wajar” untuk selang waktu terbatas.

Sementara bunga mekar menyebar sejahtera, riba pengisap darah si papa pantas dan wajar dikirim ke penjara nirpuspa.

*) Penyuka Kusuma

Iklan

One thought on “Bunga ”Ya”, Riba ”Jangan”

  1. Ping-balik: Sekali Lagi tentang Bunga dan Riba | Rubrik Bahasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s