Suatu Rasa Bernama “Syur”

Ayu Utami* (Majalah Tempo, 27 Jan 2014)

Kata-kata datang dan pergi, sebagian bertahan sebagian hilang. “Syur” dan “ler” pernah ramai muncul di media massa pada 1980-an dan 1990-an. Mereka hadir bersama majalah dan tabloid semiporno, yang menawarkan foto gadis-gadis dalam pose ler yang membangkitkan syur.

Carilah di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kita bisa menemukan “syur”, tapi tidak “ler”. Itu pun maknanya sangat sempit. “Ler” barangkali saja diambil dari verba bahasa Jawa. “Diler” artinya dibuka, didadahkan, diangin-anginkan. Jika yang diler adalah dada atau paha atau sejenisnya, itu berarti dibiarkan terbuka sehingga bisa ditonton orang. Kata ini belum ada di KBBI Edisi Ketiga.

“Syur” ada di kamus itu, dianggap kata yang arkais. Artinya: sangat menarik hati. Dalam tulisan ini, saya mau mengusulkan agar kita memperluas arti itu. “Sangat menarik hati” adalah makna yang potensial untuk dikembangkan. Apa saja yang bisa demikian menarik hati sehingga jantung berdebar-debar atau ada yang menegang atau orang jadi tak ingin terangkat pada kesadaran? Yang terakhir itulah yang bagi saya paling urgen untuk dibahasakan: suatu rasa yang tak mau diangkat ke kesadaran.

Kita memang belum punya kamus dengan etimologi yang cukup meyakinkan. Bolehlah kita mencoba melihat kata-kata lain yang barangkali berhubungan dengan “syur”. Orang Sumatera punya “sor” seperti dalam “Ah! Sor kali kau padanya!”. Mereka malah kadang mengaitkannya dengan rokok merek SOOR. Konon, merokok SOOR bikin orang sor. Sementara itu, orang Jawa punya “sir”. Kata “naksir” pun ada dalam kosakata Indonesia. Ketiganya mengandung arti sangat suka, terpikat, demen, tak mau lepas, dan sejenisnya.

Jika kita jajarkan sorsyursir, kita menemukan gradasi vokal dalam apitan konsonan yang sama, “s-r”. Peralihan dari vokal bulat-bawah-belakang menuju pipih-tinggi-depan biasa berasosiasi dengan peralihan makna dari kasar-nyata menuju tipis-tersembunyi. Bandingkan saja pada kata “kasar” dengan “tipis”, “nyata” dengan “sembunyi”. Maka, jika “sor” memiliki makna keterpikatan yang nyata, kita bisa menggunakan “syur” untuk sesuatu yang lebih tersembunyi tapi tidak semurni “sir”. Suatu rasa yang sedikit rahasia. Dan kita memang membutuhkan bahasa untuk rasa-rasa ini. Rasa-rasa apa sajakah itu?

Psikoanalisis telah membukakan kepada kita dunia bawah sadar serta mekanisme pertahanan diri ego manusia dalam mengelola tekanan yang bisa menyebabkan neurosis. Defence mechanism ini bisa menghasilkan keretakan serta ketidaksesuaian internal dan eksternal. Dalam bahasa awam contohnya bisa dari ilusi, juga delusi, yang tak cocok dengan kenyataan; orang yang naksir berat tapi justru berbuat seolah-olah benci; sampai kepribadian ganda. Manusia mengalaminya sebagai rasa-rasa. Baiklah kita anggap psikoanalisis sebagai salah satu alat bantu untuk menyadari apa yang sesungguhnya bisa kita kenali dalam pengamatan sehari-hari sebagai rasa-rasa ganjil yang menolak diangkat ke dalam kesadaran.

Saya ingin menyebut rasa-rasa tersebut dengan nama “syur”. Rasa yang memikat manusia dan menolak diterangi kesadaran karena jika dijelaskan rasa itu akan sirna atau kehilangan makna. Tanpa sadar yang sedang merasakannya tidak ingin kehilangan rasa itu. Kenapa? Barangkali sebab ada yang nikmat di sana. Syur.

Rasa ini bisa menjebak banyak orang dalam pelbagai kasus. Para pendamping kasus kekerasan dalam rumah tangga tahu bahwa korban kerap memiliki rasa ketergantungan yang melankolis terhadap pelaku. Rantai kekerasan dan kemesraan yang sulit diputus ini menyebabkan korban tak bisa keluar dari lingkaran setan. Istri yang dikhianati suami tapi tak bisa melepaskan diri juga sering justru merasa syur mempersepsikan suaminya sebagai lanang ing jagad penakluk hati wanita yang tetap pulang kandang. Tapi rasa ini juga bisa ada pada teroris yang mengebom orang tak berdosa karena ia merasakan geletar perjuangan setelah lebih dulu melihat dirinya sebagai korban dari kekuatan yang lebih besar. Kejahatan pun jadi terasa romantis.

Saya sendiri mulai menggunakan kata ini dalam novel-novel saya. Ada “syur yang cabul” yang dianalisis tokoh Sandi Yuda dalam Bilangan Fu. Ada juga rasa syur karena persepsi tentang kemuliaan wanita, yang menjebak tokoh Maya dalam kekerdilan di novel Maya. Tidakkah tugas sastra dan psikologi untuk mengartikulasikan pelbagai fenomena jiwa manusia?

Jika saya harus menambahkan definisi pada lema “syur” di kamus, inilah usul saya: suatu gelora atau rasa yang kuat, yang hadir dalam aspek romantis hingga erotis, yang umumnya disertai dengan penolakan subyek yang merasakannya untuk memahami perasaan itu secara rasional, sebab besar kemungkinan bahwa penerangan akan membuat gelora itu kehilangan alasannya.

Definisi yang tak terlalu menyenangkan memang. Tapi, jika tak sempat mengamati diri sendiri, amatilah media sosial dan lihatlah begitu banyak percakapan yang syur dengan persepsi yang mengurung orang dalam kekerdilan sambil membuat orang merasa luhur. Alamak, syur sekali.

*) Sastrawan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s