Ragam Cakapan

Sori Siregar* (KOMPAS, 8 Feb 2014)

DI Jakarta, dan dalam sebuah lagu, dikenal Jembatan Merah. Di Medan ada kampung bernama Titi Kuning. Perbedaannya? Yang satu nama jembatan, satu lagi nama kampung. Persamaannya? Jembatan yang di Jakarta bermakna titi di Medan.

Di Medan ada jembatan Titi Gantung. Mungkin tak ada warga Medan yang menyebut titi itu dengan Jembatan Gantung. Kalaupun ada, mungkin orang itu kena pengaruh Jakarta. Jika kita mencari kata titi di Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV, kita menemukan kata titi sebagai kata dasar untuk kata kerja meniti. Kata titi juga digunakan sebagai kata benda dalam frasa titi buih dan titi air. Menurut kamus tersebut, dalam bahasa Jawa, titi bermakna ’cermat’, ’teliti’.

Jika yang dimaksudkan jembatan, kata titi harus diberi akhiran -an menjadi titian. Namun, maknanya sedikit bergeser. Titian yang dimaksudkan KBBI IV adalah jembatan kecil (sebatang kayu, papan, dan sebagainya yang dilintangkan di atas sungai) atau jalan sempit (terutama yang diberi tumpuan papan, batu).

Jika kita berpedoman pada kata titi dalam kamus, tampaknya frasa Titi Gantung atau Titi Kuning di Medan itu tidaklah tepat. Mestinya yang digunakan adalah Titian Gantung atau Titian Kuning. Namun, ini tidak tepat pula karena Titi Gantung di Medan itu lebar. Bukan jalan yang sempit atau jembatan kecil.

Karena itu, dalam kamus yang sama dijelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan jembatan adalah ’titian besar’. Dengan kata lain, Titi Gantung di Medan itu lebih tepat disebut Titian Besar Gantung. KBBI IV tak mengenal titian gantung, atau titian besar gantung. Yang tercantum di kamus adalah jembatan gantung.

Seandainya kata titian tidak didampingi kata besar untuk menyebut jembatan, orang dapat seenaknya mengubah frasa ”titian serambut dibelah tujuh” menjadi ”jembatan serambut dibelah tujuh”. Maknanya pun berbeda jauh karena yang satu menegaskan betapa sulit menempuh titian yang ukurannya seperti sehelai rambut dibelah tujuh, sedangkan yang sebuah lagi menihilkan kesulitan karena ukurannya besar dan dapat dilalui dua mobil sekaligus. Yang menentukan akhirnya kebiasaan.

Karena itu, tidak usah heran jika orang Medan menyebut pasar sebagai pajak. Pajak yang kita kenal sebagai pungutan wajib yang dikenakan kepada badan, bumi, dan bangunan, kekayaan, dan sebagainya tetap tidak berubah artinya. Namun, untuk menyebut pasar, orang Medan dari generasi lalu, lebih suka menyebut pajak. Karena dulu di Medan ada sebuah pasar yang dikenal sebagai Pajak Bundar. Saat ini pajak itu telah lenyap ditelan ruko-ruko.

Menurut KBBI IV, pajak juga bermakna kedai dan lepau, sedangkan di Madura pajak berarti los tempat berjualan. Ketiganya berkaitan erat dengan penjualan seperti kedai kopi, lepau nasi, pajak ikan, pajak sayur. Karena los adalah rumah besar panjang, salah satu makna pajak bagi orang Medan dan Madura adalah pasar itu tadi. Uniknya, orang Medan tidak konsisten menyebut pasar sebagai pajak. Buktinya, di kota itu ada kawasan bisnis yang memperjualbelikan tekstil, yang orang Medan menyebutnya Pasar Ikan Lama, bukan Pajak Ikan Lama.

Ragam bahasa cakapan Medan sering dianggap khas oleh bukan orang Medan. Karena itu, ketika orang Medan mengatakan, ”Aku palak melihat kelakuannya”, banyak orang menganggap kata palak itu khas Medan, padahal itu adalah kata baku dalam bahasa Indonesia yang artinya ’panas hati’, ’marah’, ’merasa benci’, atau ’kesal’.

Kebiasaan berbahasa atau yang lazim disebut ragam bahasa cakapan ternyata dapat memperlihatkan kekayaan makna kosakata bahasa Indonesia.

*) Cerpenis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s