Sekali Lagi tentang Bunga dan Riba

K. Bertens* (KOMPAS, 15 Feb 2014)

TULISAN Samsudin Berlian (SB), ”Bunga ’Ya’, Riba ’Jangan’” dalam Kompas, 25 Januari lalu, menarik untuk diperhatikan. Lebih-lebih karena di sini penjelasan tentang bahasa mengantar kita ke penjelasan tentang etika. Etika memang bicara tentang yang boleh dilakukan (ya) dan yang tidak boleh dilakukan (jangan). Salah menggunakan dua istilah itu tidak saja merupakan suatu kesalahan di bidang bahasa, tetapi juga di bidang moral. Kita semua setuju, hal terakhir ini jauh lebih penting.

Menurut SB, bunga adalah uang yang dibayarkan sebagai biaya pemakaian uang yang dipinjamkan. Sementara riba adalah uang sangat tinggi yang diminta untuk meminjamkan uang sehingga tidak dapat dianggap wajar lagi. Penjelasan ini tidak baru. Semua bahasa modern mempunyai dua kata guna menunjukkan dua cara yang berbeda untuk memperoleh uang dengan perbuatan meminjamkan itu. Dalam bahasa Inggris ada kata interest di samping usury. Kalau kita lihat dalam Kamus Inggris-Indonesia oleh John M Echols dan Hassan Shadily, di situ interest diterjemahkan sebagai ”bunga” dan usury sebagai ”riba”.

Dengan demikian, di Indonesia perbedaan arti antara bunga dan riba sudah diterima agak umum. Namun, seperti disinyalir SB juga, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) masih menyamakan riba dengan bunga uang. KBBI ini dianggap norma resmi dalam menentukan arti kata.

Berabad-abad lamanya meminta bunga atas peminjaman uang dinilai tidak etis. Agama Yahudi, Kristen, dan Islam dulu semua melarang meminta bunga. Mengapa begitu? Mungkin karena pada waktu itu orang hanya meminjam uang untuk kebutuhan hidup. Itu sebabnya meminta bunga atas pinjaman uang selalu berarti memeras orang yang kurang mampu. Filsuf Yunani Aristoteles (abad ke-4 SM) memberikan dasar teoretis untuk larangan meminta bunga itu. Ia berpendapat, menurut kodratnya uang adalah alat tukar, sedangkan orang yang meminjamkan uang sambil menuntut bunga memperlakukan uang sebagai barang dagang. Maksud Aristoteles dapat dijelaskan dengan mengacu kepada pengalaman kita bila masuk toko swalayan. Saat itu kita harus titip tas atau barang lain di counter dan, sebagai gantinya, kita mendapat nomor. Nomor ini adalah alat tukar belaka. Demikian juga fungsi uang.

Baru pada zaman Renaisans–bukan Abad Pertengahan, seperti dikatakan SB–masyarakat Eropa mulai menerima bunga uang sebagai etis saja sebab pandangan tentang fungsi uang mulai berubah. Orang tidak saja meminjamkan uang untuk kebutuhan hidup yang mendesak, tetapi juga untuk digunakan dalam usaha produktif. Uang memang merupakan komoditas, malah sampai terbentuknya ”pasar uang”. Pada zaman Renaisans pula timbul bank-bank pertama. Sejak waktu itu perbedaan antara bunga (interest) dan riba (usury) menjadi relevan.

SB tidak benar bila ia mengatakan bahwa ”rente sekubang dengan riba” sebab dalam bahasa Belanda pun dibedakan dengan jelas antara rente (interest) dan woeker (usury). Pertanyaan yang menarik adalah: apakah dalam bahasa Arab modern juga kata riba menunjuk pada usury dan ada kata lain yang sepadan dengan interest? Kalau begitu, KBBI mempunyai alasan lebih kuat untuk merevisi penjelasannya.

*) Guru Besar Emeritus Unika Atma Jaya, Jakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s