Tjina, Cina, China

Sapardi Djoko Damono* (Majalah Tempo, 17 Feb 2014)

Sejak beberapa tahun lalu, kata “Cina” harus (?) dihapus (juga dari kamus?) dan diganti dengan “China”. Alasan di balik penggantian itu adalah kata “Cina” mengandung konotasi negatif, bahwa dalam kalimat “Dia itu Cina” terkandung ejekan atau hinaan atau bahkan permusuhan terhadapnya. Mari kita bicarakan (sekali) lagi penggantian yang, setidaknya bagi saya, aneh itu. Tidak usah­lah kita mengaitkannya (lagi) dengan “petai cina” harus diubah menjadi “petai china” atau “Pecinan”, nama sebuah kampung, harus diganti dengan “Pechinan”.

Cara mengeja kata yang kita ikuti adalah EYD. Cara yang “disempurnakan” itu telah mengubah “Tjina” menjadi “Cina”. Sama sekali tidak ada perubahan pengucapan dalam proses penggantian itu, persis seperti perubahan “Tjirebon” menjadi “Cirebon” dan “tjakar” menjadi “cakar”. Tidak adanya perubahan ejaan itu juga berarti tidak adanya pergeseran arti kata, baik denotatif maupun konotatif. Namun, ketika kita harus mengubah “Cina” menjadi “China”, tampaknya perubahan itu dianggap telah terjadi: “Cina” dikatakan mengandung sikap negatif sehingga harus diganti dengan “China” yang tentu dianggap netral.

Sepengetahuan saya, EYD telah mengganti gugus konsonan “ch” menjadi “kh”, kecuali untuk nama diri, seperti “Chairil Anwar” atau “Chaidir Rachman” bergantung pada yang memiliki nama. Sebelum EYD ditetapkan, tentu nama “Jokowi” dieja “Djokowi”, tapi si empunya nama lebih suka menuliskannya sesuai dengan EYD, tentu tanpa perubahan ucapan. Kalau “Cina” harus diganti ejaan menjadi “China”, apakah ucapannya tetap sama? Apakah “ch” dalam kata itu harus diucapkan sebagai “tj” atau “c”, sedangkan “i” tetap diucapkan “i”? Kalau demikian halnya, perubahan itu hanya menyangkut ejaan, bukan ucapan. Dan kalau ucapannya sama, mengapa harus ada perubahan? Kalau diucapkan, konotasi negatif yang dianggap ada dalam “Cina” tetap saja terbawa meskipun ejaannya sudah diubah menjadi “China”.

Kalau perubahan penulisan itu juga menyangkut perubahan ucapan, “China” harus diucapkan sebagai “Chaina” dan itulah yang sering kita dengar dari radio dan televisi.

Masalahnya, apakah perubahan cara mengucapkan itu tidak bertentangan dengan prinsip tata ejaan dan tata bunyi bahasa Indonesia?

Kalau demikian halnya, pengubahan ejaan itu telah mengganggu (kerennya: “mengintervensi”) sistem kebahasaan kita. Demikianlah, “China” telah berhasil melakukan intervensi dengan persetujuan kita.

Namun mengapa kita tidak diganggu kalau menyebut beberapa negeri sebagai Belanda, Inggris, Jerman, Jepang, Selandia Baru, dan Afrika Selatan?

Orang New Zealand dan warga negara South Africa juga tidak akan melancarkan protes atas penyebutan itu, saya kira. Belum pernah juga saya dengar protes kalau ada mahasiswa Jawa berteriak kepada teman kuliahnya yang berasal dari Tarutung, “He, Batak lu!” Kalau ada mahasiswa Sunda bertanya kepada temannya, “Kamu Cina, ya?” apa juga harus diganti dengan “Kamu China (ucapannya Chaina), ya?”

Mengapa kita harus menyebut negeri yang sangat tua kebudayaannya itu Republik Rakyat China dan bukan Republik Rakyat Cina? Siapa gerangan yang memiliki kekuasaan untuk menentukan hal itu? Kalau perubahan itu didiktekan dari “sana”, mengapa pula kita selama ini mengikutinya? Selanjutnya, apalah memang benar-benar ada konotasi negatif dalam penyebutan “Cina”? Menurut seorang peranakan Tionghoa kenalan saya, di Singkawang ada konotasi negatif dalam kata “Baba”, tapi di Solo konotasi negatif sama sekali tidak ada, seperti yang jelas tampak pada nama toko roti “Babah Setoe” di kota kelahiran saya itu.

Atau begini saja: kata “Cina” kita ganti saja dengan “Tiong­hoa”, yang bisa saja dianggap netral meskipun bisa berakibat berubahnya “petai cina” menjadi “petai tionghoa” dan “Kampung Pecinan” menjadi “Kampung Tionghoaan”.

Atau tidak usahlah kita ganti ejaan dan ucapan kata ini karena, kalaupun benar ada konotasi (baik negatif maupun positif) dalam sepatah kata, hal itu sama sekali bergantung pada situasi pembicaraannya. Dan itu wajar saja. Bukankah kita tidak harus mengikuti kehendak pihak atau bangsa lain kalau hal itu mengintervensi sistem kebahasaan (dan sistem berpikir) kita?

*) Sastrawan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s