Misteri Hari

Yanwardi* (KOMPAS, 1 Mar 2014)

”PADA hari Minggu kuturut ayah ke kota. Naik delman istimewa, kududuk di muka…”. Demikian petikan lagu anak-anak yang dikenal hampir seluruh anak-anak Indonesia. Tampak kata Minggu didahului kata hari di dalam lirik ”Naik Delman” itu, padahal kita tahu Minggu sudah mencakup pengertian ’hari’.

Lepas dari lirik lagu itu, bahasa memang unik. Sering gejala kebahasaan, karena sederhana, berjalan mengalir dalam setiap detik. Tidak dirasakan keunikannya. Tidak ada seorang pun dari masyarakat penuturnya yang mempertanyakan, mengapa ini begitu, mengapa itu begini. Tidak ada, bahkan ahli dan perencana bahasa pun tidak merasa perlu mengaturnya. Kita baru tersentak ketika muncul pertanyaan kritis dari penutur yang peka.

Salah satu contoh gejala bahasa yang sederhana dan biasanya luput lalu berlalu begitu saja adalah pemakaian kata hari sebagaimana lirik di atas. Penutur bahasa Indonesia sering menuliskan kata hari dalam ”hari Minggu, hari Senin” dan selanjutnya. Mengapa demikian? Pertanyaan ini tentunya akan meluas menjadi tanggal, tahun, dan lain-lain. Tulisan ini hanya akan membahas dahulu kata hari.

Kata hari dalam hari Minggu, misalnya, dipertanyakan kemunculannya karena Minggu sudah mengandung pengertian ’hari’. Jadi, kita cukup menggunakan Minggu, logikanya. Namun, dalam praktik pemakaian bahasa, terjadi justru sebaliknya. Bahasawan merasa kurang lengkap jika menyebut Minggu tanpa hari di depannya. Begitu pula dalam berita-berita, pidato, lirik lagu, hingga laporan pandangan mata pewarta. Paling-paling kata Minggu, tanpa hari, muncul dalam konteks jawaban dari kalimat tanya dan di dalam dialog.

Untuk mengungkap misteri itu, ada baiknya kita melihat gejala kebahasaan lainnya, yakni gejala serupa yang penulisannya lebih luwes. Nama gunung, misalnya. Beberapa gunung ditulis dengan menyertakan kata gunung: Gunung Salak, Gunung Gede, dan Gunung Agung. Beberapa lainnya sering ditulis hanya Merapi, Krakatau, dan Merbabu.

Dari fenomena kebahasaan yang kedua, penyertaan kata gunung menjadi wajib ketika nama jenis gunung memiliki pengertian lain di benak penutur: salak bisa merujuk ke jenis buah; gede dan agung bisa ke nama orang atau sifat. Jelas, upaya ini dilakukan untuk menghindari gangguan komunikasi. Ada masalah semantik dan pragmatik di sini.

Mengikuti jalan pikiran tersebut, seharusnya kata Minggu digunakan tanpa disertai kata hari karena di benak penutur tentu hanya satu acuan (referen) dan komunikasi tidak akan terganggu. Namun, pada kenyataan praktik berbahasa, bahasawan lebih suka menggunakan kata hari….

Ahli bahasa JS Badudu menyatakan fenomena itu sebagai kebiasaan. Sebuah kebiasaan berbahasa pasti ada sebabnya.

Dari sisi tata bahasa, bisa terjelaskan bahwa fenomena pemakaian hari disebabkan frasa hari Minggu berbeda dengan Gunung Krakatau, Gunung Sinabung, dll. Meskipun acuan yang ada di benak penutur hanya satu, yaitu hari Minggu, frasa hari Minggu tidak bergeser induknya atau intinya: dari hari ke Minggu. Induknya masih tetap atau berat di hari. Berbeda dengan Gunung Krakatau dan Gunung Sinabung, induknya menjadi Krakatau dan Sinabung.

Alhasil, bentuk dengan hari lebih sering muncul dalam pemakaian bahasa. Bahasa memang manasuka, tetapi selalu ada sistem yang menjawab gejala-gejala bahasa, sebagaimana pemakaian kata hari ini.

*) Editor Yayasan Pustaka Obor

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s