Serapan

Uu Suhardi* (Majalah Tempo, 3 Maret 2014)

Setiap bahasa memiliki pola. Dalam bahasa Indonesia, contohnya, jika kata yang diawali fonem p, t, k, atau s mendapat imbuhan meng- atau peng-, fonem itu luluh. Misalnya memukul, pemukul, menari, penari, mengeras, pengeras, menyerang, dan penyerang. Dari pola, terbentuklah kaidah. Dengan kaidah itulah niscaya kita akan lebih mudah memahami dan mempelajari bahasa.

Memang, dalam kasus tertentu, pengecualian tak bisa dihindarkan.

Ada bentuk mempunyai (alih-alih memunyai), penyair (pensyair atau pesyair), dan mengkaji (mengaji), misalnya, yang tidak mengikuti pola yang membentuk kaidah itu. Apa pun penyebabnya, contoh kata-kata yang dikecualikan itu sangat produktif pemakaiannya dan dibakukan dalam kamus.

Tapi, satu hal yang tak boleh kita lupakan, makin sedikit pengecualian, makin mudah bahasa dipelajari dan dipahami.

Kaidah tentu tidak hanya menyangkut pembentukan kata. Ada penyerapan kata, misalnya. Entah kenapa, dalam hal penyerapan, pengguna bahasa Indonesia begitu sulit mematuhi kaidah, padahal polanya sudah jelas. Apalagi banyak rujukan yang dapat dimanfaatkan dalam menulis kata serapan, antara lain Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.

Kerap saya dapati kata aktifitas dalam tulisan. Alasannya mudah ditebak, yakni dari aktif (serapan dari actief dalam bahasa Belanda) terbentuk aktifitas. Padahal, sesuai dengan kaidah, kata yang tepat aktivitas. Sebab, kata itu bukanlah turunan dari aktif, melainkan serapan langsung dari activiteit dalam bahasa Belanda, yang sama persis maknanya dengan activity dalam bahasa Inggris. Hal yang sama berlaku antara lain untuk kata formalitas dan universitas. Masing-masing berasal dari formaliteit dan universiteit dalam bahasa Belanda, yang semakna dengan formality dan university dalam bahasa Inggris.

Jadi kata yang diakhiri tief (Belanda) atau tive (Inggris) diserap bahasa Indonesia menjadi kata yang berakhir dengan tif, sementara iteit (Belanda) dan ity (Inggris) menjadi itas. Kata produktif dan produktivitas adalah contoh lain serapan dengan pola yang sama, yang masing-masing berasal dari produktief dan produktiviteit (Belanda), yang sama artinya dengan productive dan productivity (Inggris).

Kaidah penyerapan membantu kita menelusuri asal-usul kata.

Jika tak menuruti pola atau kaidah, pengguna bahasa akan mudah tergelincir membentuk kata yang jauh dari kata sumbernya, seperti yang sudah terjadi misalnya pada dongkrak (dari bahasa Belanda, dommekracht) dan sirsak (dari zuurzak).

Begitu jelas pola dan begitu curai kaidah penyerapan kata dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. Tapi begitu banyak penyimpangan dari pola itu di media massa, apalagi di media sosial. Ada kata standar (dari standaard) dan kemudian ada standarisasi. Padahal penulisan yang tepat adalah standardisasi karena kata ini serapan langsung dari standaardisatie (Belanda), yang selaras maknanya dengan standardization (Inggris), bukan turunan dari standar.

Kita lazim memakai kata direktur dan direktorat (bukan direkturat) serta inspektur dan inspektorat (bukan inspekturat) juga karena keempat morfem itu merupakan serapan langsung dari bahasa Belanda: directeur, directoraat, inspecteur, dan inspectoraat. Itu sebabnya bentuk yang tepat populer (bukan popular) dan popularitas, karena keduanya serapan dari populair dan populariteit. Kata-kata ini tidak diambil dari bahasa Inggris.

Memang, pada masanya, bahasa Indonesia lebih banyak menyerap kata dari bahasa Belanda dibanding dari bahasa Inggris, sehingga kata-kata serapan dari bahasa Belanda itulah yang dibakukan.

Maka kata yang baku adalah akademikus, kritikus, musikus, dan politikus, serapan dari academicus, criticus, musicus, dan politicus. Ada pula transparan dan transparansi bukan transparen dan transparensi seperti ejaannya dalam bahasa Inggris (transparent dan transparency) sebagai serapan dari bahasa Belanda: transparant dan transparantie.

Namun, sesungguhnya, penyerapan kata bukanlah jalan utama untuk mengalihkan konsep dalam bahasa asing ke konsep dalam bahasa Indonesia. Jadikanlah kata serapan sebagai pemerkaya kosakata saja.

Tanpa kata serapan pun, kita sudah memiliki kosakata yang kaya.

Kata activity, misalnya, bisa diterjemahkan menjadi kegiatan, dan untuk activist ada pegiat. Jika dalam bahasa Indonesia tidak ada istilah yang bisa dengan tepat mengungkapkan konsep yang dimaksud, kita dapat mencarinya dari bahasa serumpun atau bahasa daerah. Unggah dan unduh sebagai padanan upload dan download merupakan contoh “sukses”.

Kalau kita terlalu mudah menyerap morfem asing, kosakata bahasa Indonesia nantinya akan penuh oleh kata serapan.

Akhirnya, kata-kata “asli” Indonesia akan menjadi bentuk arkais. Janganlah pula kita menggunakan (lagi) akhiran dari bahasa asing sebagai imbuhan dalam bahasa Indonesia, agar tak tercipta lagi bentuk campur aduk dan “norak” seperti kuningisasi, pipanisasi, dan turinisasi.

Terkadang kita juga terkesan “cari gampang” dalam upaya menerjemahkan kata asing. Karena sudah ada bentuk eksperimen, komponen, momen, suplemen, dan urgen yang mengikuti pola “nt di akhir kata menjadi n” misalnya, muncullah kata serapan konten, pregnan, inden, inkumben, infotainmen.

*) Redaktur Bahasa Tempo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s