Seragam yang Beragam-ragam

Tendy K Somantri* (KOMPAS, 15 Mar 2014)

DI Bandung saban Rabu terasa seperti perayaan Hari Kartini. Siswa-siswi sekolah dasar ”wajib” mengenakan seragam daerah selama berada di sekolah. Artinya, seragam itu harus dipakai sejak mereka masuk di lingkungan sekolah hingga tiba saat pulang. Siswa mengenakan pangsi (baju dan celana hitam khas Jawa Barat) dan iket (ikat kepala dari kain batik); siswi memakai kabaya (kebaya), sinjang (kain batik), dan karembong (selendang).

Sebenarnya, kata Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, tidak ada kewajiban para murid mengenakan busana tradisional setiap Rabu. Yang ada hanyalah pelaksanaan program ”Rabu Nyunda” dengan mengacu pada Perda Kota Bandung Nomor 9 Tahun 2012 tentang Penggunaan, Pemeliharaan, dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Sunda. Di sana tidak disebut-sebut kewajiban memakai busana khas Sunda—yang sebenarnya memiliki banyak ragam. Pemerintah Kota Bandung hanya mengimbau pemakaian busana khas Sunda di sekolah dan instansi. Akan tetapi, imbauan itu diartikan lain. Imbauan itu diartikan menjadi kewajiban. Maka, jadilah busana Sunda sebagai ”seragam baru” sekolah.

Terlepas dari ”seragam baru” ini menjadi lahan bisnis baru sekolah, kita bisa melihat gejala lain bahwa seragam sekolah sekarang kian beragam. Pertama, seragam putih-merah yang merupakan seragam nasional. Kemudian, ada seragam batik sekolah sebagai ciri sekolah, seragam muslim, seragam olahraga, seragam pramuka, dan seragam upacara. Jika ditambah dengan busana daerah tadi, maka terdapat tujuh jenis seragam yang harus dikenakan siswa selama sepekan. Gejala yang lucu! Tujuh seragam selama sepekan, padahal proses belajar dan mengajar di sekolah hanya berlangsung lima hari.

Gejala itu terasa semakin lucu jika kita melihat arti kata seragam, ’sama ragam (corak, bentuk, susunan)’, seperti tersua dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Seragam memang berasal dari ragam (macam, jenis, corak, dll), yang mendapat proleksem se- (satu) sehingga seragam dapat diartikan menjadi satu ragam, satu jenis, satu corak, atau satu macam. Nah, ketika sekarang jenis pakaian yang digunakan lebih dari satu, bahkan hingga tujuh macam, apakah masih bisa dikatakan seragam? Seragam yang beragam-ragam! Itu jawabannya.

Apakah gejala tersebut juga menjadi gejala bahasa berupa kontaminasi atau kerancuan dalam berbahasa? Mungkin saja para pendidik itu bermaksud menyebutkan kostum, bukan seragam. Dalam KBBI, kostum diartikan sebagai pakaian khusus (dapat pula merupakan pakaian seragam) bagi perseorangan, regu olahraga, rombongan, kesatuan, dan sebagainya dalam upacara atau pertunjukan. Mengacu pada pengertian kostum itu, para pendidik bisa menyebutkan seragam pramuka menjadi kostum pramuka, seragam olahraga menjadi kostum olahraga, seragam daerah menjadi kostum daerah, dan sebagainya. Dengan demikian, seragam sekolah untuk pelajar sekolah dasar tetap satu: putih-merah. Demikian juga untuk peserta didik di sekolah menengah yang masih wajib menggunakan seragam. Pakaian seragam mereka hanya satu ragam, yang lain itu hanya kostum!

Maaf, pembahasan seragam melalui pendekatan kebahasaan ini tidak akan mengubah nasib orangtua siswa untuk menyediakan uang pendidikan, yang di dalamnya termasuk uang seragam. Para orangtua tetap harus menyediakan biaya pendidikan yang tinggi karena terimbuh oleh biaya pembelian seragam dan kostum. Biaya yang tidak seharusnya ada, tetapi menjadi kewajiban.

*) Editor dan Pengajar di FISS Universitas Pasundan Bandung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s