Jumat Keramat

Rainy M.P. Hutabarat* (Majalah Tempo, 17 Mar 2014)

Istilah “Jumat keramat” kian berkibar di lingkungan pers dan pengguna media sosial. Tanpa penjelasan panjang-lebar, semua paham artinya. Mesin pencari Google menyediakan 1,1 juta keterangan untuk istilah ini, yang tersebar di berbagai situs media daring. Istilah bertuah ini adalah ciptaan media massa untuk peristiwa pemanggilan atau penahanan terduga dan terdakwa korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Sepanjang pengamatan saya, sejak didirikan, KPK selalu memanggil untuk memeriksa atau menahan terduga atau terdakwa korupsi pada ­Jumat, yakni setelah muslim, termasuk awak KPK, selesai salat.

Tampaknya, inilah yang merangsang pers menciptakan istilah “Jumat keramat”.

Dalam kehidupan berbagai agama, hari Jumat pun punya tempat istimewa. Kata ini berasal bahasa Arab: al-jum’ah. Artinya persatuan, kerukunan, dan pertemuan. Muslim diperintahkan Allah menegakkan salat Jumat. Hari Jumat dipandang sebagai sayyidul ayyaam wa’idul muslimin (penghulu hari dan hari raya umat Islam).

Jumat Agung diperingati oleh umat Kristen sebagai hari wafatnya Yesus Kristus. Dalam kepercayaan Jawa, Jumat Kliwon identik dengan Jumat keramat, satu hari yang dianggap suci bertuah dan, karena itu, perlu diselenggarakan ritual-ritual khusus, di antaranya puasa. Kehidupan modern yang konon serba rasional juga tak bebas dari kepercayaan tertentu terkait dengan hari Jumat. Friday the 13th, misalnya, adalah film serial horor tersohor yang pernah ditayangkan stasiun televisi Indonesia. Film serial ini mengemas cerita-cerita horor ihwal arwah atau hantu gentayangan pada Jumat tertentu. Para sutradara film Indonesia pun ikut memproduksi film Jumat berhantu, di antaranya Malam Jumat Kliwon dan Pocong Jumat Kliwon.

Ini menggarisbawahi, kendati diyakini sejajar dengan hari-hari lainnya, Jumat dianggap hari yang berbeda.

Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV Pusat Bahasa mengartikan “keramat” sebagai (1) suci dan dapat melakukan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa karena ketakwaannya kepada Tuhan (tentang orang bertakwa); (2) suci dan bertuah, yang dapat memberikan efek magis dan psikologis kepada pihak lain (untuk barang dan tempat suci). Dalam percakapan sehari-hari, keramat diartikan berpenunggu dan angker sehingga orang tak boleh berperilaku sembarangan. Bahkan tempat atau benda yang dianggap keramat perlu diberi sesajen pada hari tertentu.

Dunia sajak Indonesia ikut mengeksplorasi makna kata “keramat”: Saat-saat gelap pertemuan/“yang keramat“/membenam dalam pangkuan/senyap sunyi, titian yang harus dilewati/curam sunyi, semesta yang menjadi saksi/hari cipta terulangi (Toeti Heraty, sajak “Saat-saat Gelap”). Keramat dalam petikan sajak ini adalah persetubuhan suami-istri.

Pers menciptakan istilah “Jumat keramat” sebagai hari horor, hari petaka, bagi setiap terduga atau terdakwa korupsi. Di sisi lain, “Jumat keramat” menjadi hari bertuah bagi rakyat Indonesia. Pemanggilan atau penahanan pada “Jumat keramat” sebenarnya tak berbeda. Sebab, siapa pun yang dipanggil KPK tinggal selangkah lagi ditahan. Kenyataannya, beberapa koruptor langsung ditahan seusai pemeriksaan pertama.

“Jumat keramat” juga dikenal di lingkungan pegawai negeri sipil sejak surat keputusan tentang mutasi dan promosi kerap dikeluarkan pada Jumat. Demitologisasi “Jumat keramat” terasa kental, baik terhadap hari Jumat itu sendiri maupun kata “keramat”. Keramat tak lagi diartikan suci, supernatural, dan bertuah, melainkan peristiwa politik dan korupsi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sejarah korupsi pada era reformasi telah menghasilkan istilah-istilah unik yang diciptakan atau dipopulerkan pers: “rekening gendut”; “cicak versus buaya”; kode korupsi “apel Malang”, “apel Washington”, dan “semangka”; “kicauan burung Nazar”; dan lain-lain. Sejajar dengan istilah “Jumat keramat”, ada “tuah kicauan Nazar” dan “kado tahun baru SBY” ucapan terima kasih Anas Urbaningrum yang baru saja dipopulerkan stasiun televisi komersial di Tanah Air. Dalam KBBI, tuah artinya (1) sakti, keramat, berkat (pengaruh) yang mendatangkan keuntungan (kebahagiaan, keselamatan, dsb); (2) untung (yang bukan sewajarnya), bahagia, keistimewaan, keunggulan (kehormatan, kemasyhuran, dsb). Ada ungkapan Melayu: “menjemput tuah, menjunjung marwah”. Tuah di sini berarti keunggulan, keistimewaan yang bersifat keramat, bergandengan dengan marwah yang artinya harga diri.

Sedangkan kado adalah kata serapan dari bahasa Prancis, cadeau, yang artinya hadiah atau pemberian (untuk yang berulang tahun, menikah, naik kelas, juara, melahirkan anak, dan sebagainya). Karena itu, kado dan tuah membawa kebahagiaan bagi penerimanya, identik dengan berkat dan keuntungan.

Dalam konteks kasus korupsi, kedua kata ini mengalami dekonstruksi arti sehingga pesan yang muncul justru ejekan, sindiran, bercampur humor.

“Tuah kicauan Nazar” adalah keuntungan bagi rakyat Indonesia dan “kado tahun baru SBY” merupakan ejekan kepada sang Presiden.

*) Pekerja media dan penulis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s