Istilah Ekonomi, Perlukah Diterjemahkan?

Arianto A. Patunru* (Majalah Tempo, 24 Mar 2014)

Ilmu ekonomi, seperti disiplin lain, seharusnya bersifat lintas bahasa. Disampaikan dalam bahasa apa pun seharusnya ia bermakna sama. Namun ternyata ia tak luput dari bias terjemahan. Istilah ekonomi banyak yang mengalami pergeseran makna setelah melalui transformasi bahasa. Contoh yang paling sering muncul adalah opportunity cost dan economies of scale.

Opportunity cost sering diterjemahkan menjadi “biaya kesempatan”. Tentu, secara harfiah, penerjemahan ini sah. Namun banyak orang sulit memahami istilah tersebut dalam konteks ilmu ekonomi. Ketika seseorang membaca kolom ini, ada kesempatan lain yang ia abaikan. Misalnya, ia bisa mengerjakan tugas kantor (atau berenang, atau tidur, tapi katakanlah alternatif terbaiknya adalah mengerjakan tugas kantor). Maka nilai atau manfaat dari mengerjakan tugas adalah opportunity cost dari membaca kolom ini. Sekadar menerjemahkan istilah itu menjadi “biaya peluang” bisa mereduksi maknanya. Orang bisa saja membayangkan harga majalah ini sebagai proksi “biaya kesempatan” membaca kolomnya. Sedangkan opportunity cost yang sesungguhnya adalah nilai dari mengerjakan tugas kantor-bisa berupa bonus atau sekadar kepuasan memenuhi tenggat. Harga dari majalah di sini adalah konsep yang lain, yaitu sunk cost, atau biaya yang tak dapat diganti lagi. Ia tidak relevan dalam keputusan memilih membaca kolom atau mengerjakan tugas kantor.

Contoh berikutnya adalah economies of scale atau scale economies. Sering kali di Indonesia istilah ini diterjemahkan menjadi “skala ekonomi” atau “skala ekonomis”. Dilihat dari struktur Inggris-Indonesia saja ini sudah salah (hukum DM-MD). Celakanya, bahkan banyak yang mengubah istilah bahasa Inggris ini menjadi economics of scale (yang tentunya semakin distortif ketika diterjemahkan: ilmu ekonomi tentang skala). Yang benar-jika memang harus diterjemahkan-adalah “ekonomi skala”. Namun, seperti “biaya kesempatan”, ia menjadi miskin makna. Lalu apa arti sesungguhnya? Seorang penjual kue yang memproduksi 100 potong per hari mungkin akan menjual kuenya pada harga per unit yang lebih mahal ketimbang jika ia bisa menghasilkan 500 potong per hari, karena biaya produksi per unitnya menjadi lebih rendah. Kondisi inilah-turunnya biaya produksi per unit karena biaya tetapnya (misalnya biaya sewa lapak) dibagi dengan jumlah output yang lebih banyak-yang disebut economies of scale.

Poin dari pembahasan di atas adalah bahwa dalam ilmu ekonomi (dan mungkin disiplin lain), penerjemahan istilah adalah sesuatu yang sulit dan kompleks.

Secara literal mudah saja menemukan padanan. Namun makna sesungguhnya menjadi kabur, kalau tidak distortif. Lantas bagaimana solusinya?

Saya kira penerjemahan tidak usah dipaksakan.

Walaupun “nilai dari kesempatan alternatif” terdengar lebih panjang ketimbang “biaya kesempatan”, secara makna ia lebih dekat kepada opportunity cost. Demikian juga “jumlah produksi yang menyebabkan turunnya biaya per unit” lebih dekat kepada economies of scale ketimbang “ekonomi skala” (apalagi “skala ekonomi”). Pada akhirnya, pemahaman lebih penting daripada sekadar menemukan padanan. Kekeliruan memaknai opportunity cost menyebabkan orang sulit mengapresiasi trade-off (nah, ini apa terjemahannya?). Misalnya, biaya (ekonomi) dari subsidi bahan bakar minyak bukanlah dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang digunakan untuk itu, melainkan banyaknya proyek infrastruktur yang bisa dibiayai oleh jumlah uang yang sama.

Jika begitu, apakah penerjemahan istilah ekonomi selalu murung? Tentu tidak. Ada contoh-contoh sukses.

Satu dari bidang makro adalah “neraca transaksi berjalan”, sebagai terjemahan dari current account. Neraca pembayaran (balance of payment) terdiri atas neraca transaksi berjalan, neraca aliran modal, dan penyesuaian. Menerjemahkan current menjadi “berjalan” tepat karena ia mengingatkan kita bahwa ia adalah konsep aliran (flow), bukan stok (stock). Sangat penting dalam ekonomi untuk dapat membedakan stok dan aliran. Stok adalah sisa atau kondisi akumulatif terakhir. Aliran adalah perubahan pada stok. Modal adalah contoh stok, sedangkan investasi adalah sebuah konsep aliran: perubahan pada modal. Di Malaysia ada istilah “akaun semasa”, yang secara literal adalah benar padanan current account. Tapi ada potensi masalah di sini. “Akaun semasa” bisa mengacu kepada konsep makro (current account sebagai komponen dari neraca pembayaran), tapi juga kepada konsep mikro (current account sebagai istilah di Inggris untuk jenis tabungan yang padanya dapat ditarik cek-istilah di Amerika lebih tegas: checking account). Maka “neraca transaksi berjalan” terdengar lebih pas. Ia pun konsisten dengan konsep yang lain, seperti current price atau “harga berlaku” sebagai kontra constant price atau “harga konstan”, harga acuan pada satu waktu yang tetap. Mungkin karena itu pula, di Malaysia, banyak juga yang menggunakan “neraca berjalan”.

*) Peneliti Australian National University

Iklan

4 thoughts on “Istilah Ekonomi, Perlukah Diterjemahkan?

  1. Penulis artikel ini kok ketika memaknai istilah ilmu ekonomi dalam bahasa Inggris bisa sangat kontekstual, sementara ketika memaknai padanan bahasa Indonesianya dia jadi sangat harfiah, ya?

    Penutur bahasa Inggris yang tidak punya pengetahuan kontekstual mengenai ilmu ekonomi pun bisa saja lho kecele ketika memaknai istilah-istilah ilmu ekonomi berbahasa Inggris. Soalnya kan kata-kata yang dipakai dalam peristilahan itu adalah kata-kata lazim, yang kemudian menggelembung karena diimbuhi makna-makna spesifik. Kalau mau adil, ya maknai saja padanan bahasa Indonesianya secara kontekstual juga. ‘biaya kesempatan’ atau ‘biaya peluang’ ya jangan dimaknai semata-mata sebagai ‘biaya kesempatan’ atau ‘biaya peluang’ saja.

    Kalau untuk, kasus ‘economies of scale’, ya hahaha, itu mah memang penerjemahnya saja yang keliru.

    Tabik!

    Wahyu Ginting

  2. Pak Wahyu yang baik, saya kira kritik Anda valid, terima kasih. Banyak penutur bahasa Inggris yang juga keseleo ketika memaknai kata seperti ‘opportunity cost’. Tapi dugaan saya, mereka lebih mudah dikoreksi karena diskusinya masih dalam bahasa yang sama. Sementara di Indonesia (atau negara dengan bahasa non-Inggris lainnya), tantangannya menjadi lebih banyak: selain untuk menerangkan arti frase tersebut, juga untuk meminimalkan distorsi terjemahan. Setuju saja jika ‘opp cost’, misalnya, menjadi ‘biaya peluang’, namun pengajaran ilmu ekonomi perlu betul menjelaskan arti dari frase tersebut. Saya kuatir, ini bukan mudah – beberapa kawan pengajar di universitas di Indonesia saja sering silap. Ulasan saya di atas sedikit banyak dilandaskan pada pengalaman mengajar di dua tempat. Salam.

  3. Saya mahasiswa Akuntansi. Namun saya juga mendapatkan mata kuliah tentang Ilmu Ekonomi dan Manajemen (Pengantar, Mikro, Makro, dsb). Dosen pun sering menularkan istilah ekonomi dalam bahasa Inggris ke mahasiswa, padahal kelasnya berbahasa Indonesia. Sehingga, terjadi percampuran bahasa,

    Saya tentu belum memiliki kepakaran dalam bidang ekonomi (dan juga bahasa–Indonesia maupun Inggris). Tapi dalam obrolan sehari-hari dengan teman-teman yang bukan mahasiswa Fakultas Ekonomi, beberapa saat ada obrolan yang menyentuh isu ekonomi. Tentu akan menyulitkan dan membosankan kalau saya menghamburkan istilah-istilah ekonomi dalam bahasa Inggris (opportunity cost, trade-off, current account deficit, current budget deficit, comparative advantage, rate of return, rate of investment, gross domestic bruto, dll).

    Apakah dengan begitu Ilmu Ekonomi hanya cocok bagi orang yang memang di bidang ekonomi? Bagaimana membicarakan isu ekonomi dengan istilah ekonomi yang sesuai konteks? Karena, menurut saya, Ilmu Ekonomi terkesan eksklusif, padahal isu ekonomi selalu hadir dalam kehidupan kita sehari-hari. Saya pernah membaca buku ‘Naked Economics’ (Charles Weelan) untuk referensi bacaan mengenai Ilmu Ekonomi secara populer, dan saya cukup mengerti dengan panyajiannya. Kira-kira apakah sudah ada buku dari ekonom Indonesia tentang ekonomi secara populer? Dan yang utama, bukan terjemahan, dan (sudah pasti) bukan buku teks.

    Terima kasih.

    • Ingin meralat pertanyaan: Bagaimana membicarakan isu ekonomi dan menggunakan istilah ekonomi yang sesuai konteks dan sederhana, terutama bagi yang tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang ekonomi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s