Puisi Metafora bagi Tuhan

Hermien Y. Kleden* (Majalah Tempo, 7 April 2014)

Perjumpaan pertama saya dengan “puisi dan syair” terjadi di masa kanak-kanak dengan cara tak lazim di satu desa di pedalaman Flores Timur. Pada malam-malam terang bulan, kami, anak-anak sedesa, berkumpul di padang rumput kecil dekat rumah untuk mendengarkan cerita Perjanjian Lama dari seorang pastor Polandia yang mampir ke desa saban bulan. Kisah-kisah Perjanjian Lama bersumber pada peristiwa sebelum kelahiran Yesus. Babak setelah kelahiran Kristus termuat dalam Perjanjian Baru.

Duduk di atas sebuah batu, sang padri menatang satu buku setebal bantal. Itulah Alkitab “kuno” dengan Ejaan Van Ophuijsen. Yang melengketkan ingatan saya pada kelas-padang-rumput bukanlah “pelajaran agama”, melainkan story telling, penuturan, babak demi babak dari Kitab Kejadian, Keluaran, Raja-Raja, hingga Mazmur, Amsal, dan Shirakh-sekadar menyebut beberapa.

Selama bertahun-tahu saya tidak berani bertanya kepada sang padri mengapa Perjanjian Lama lebih terasa seperti rangkaian syair ketimbang sebuah “kitab agama”. Di kemudian hari, saya menemukan bahwa Tuhan, di dalam Perjanjian Lama, selalu dipanggil melalui metafora- dengan cara tak langsung.

Mungkin inilah salah satu rahasia kekayaan bahasa Alkitab. Yang harus ditanyakan kepada para ahli bahasa: mengapa teks itu tak terasa lapuk padahal ribuan tahun sudah beralih sejak kisah-kisah ini ditulis? Amat bisa saya keliru, tapi boleh jadi karena Old Testament adalah puisi yang selalu bisa dinikmati kembali.

Perkenan Tuhan kepada orang baik dilukiskan melalui unsur-unsur semesta raya. “Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya.” Hardikan Pencipta bagi orang fasik bisa berbunyi demikian: “Mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.” Penulis teks memakai bahasa yang dapat membangkitkan ketakutan tanpa menghapus keindahan tatkala melukiskan amarah Tuhan: “Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk.”

Saya pernah bertanya kepada seorang teolog mengapakah teks-teks Perjanjian Lama jauh lebih indirect, mendayu, memanggil, mengaduh, dan merindu? Panjang-lebar penjelasannya, dan sebagian besar tak saya pahami karena pelik. Intisarinya yang bisa saya ringkaskan kurang-lebih demikian: Old Testament adalah puisi yang menyairkan kerinduan kepada Deus absconditus atau “Tuhan yang menyembunyikan diri”. Ini untuk membedakannya dengan teks-teks Perjanjian Baru yang berbicara dalam nada yang direct dan warna kegembiraan karena yang dirujuk adalah Deus relevatus atau “Tuhan yang menyatakan diri”.

Penggalan Mazmur yang dinyanyikan Daud dalam kesesakannya bukan mengatakan “Tuhan, di manakah Engkau?”, melainkan, “Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?”. Percakapan tak terjadi secara langsung dan dialogis. Di sini tampak benar kekuatan metafora disusun seindah-indahnya untuk mengajuk, membujuk, dan memanggil “Dia yang jauh dan tersembunyi”.

Dalam komunikasi modern, bahasa teks ini lebih menerbitkan pertanyaan “What did he say in saying that?” ketimbang sekadar “What did he say?”.

Kekuatan metafora yang amat puitis akan membuat kita berjeda-jeda menikmati imajinasi sebelum masuk ke tahap yang lebih repot: menanyakan apa maksud teks tersebut.

Satu contoh bisa dilihat dalam petikan Sirakh-salah satu bagian Perjanjian Lama-saat memujikan Taurat sebagai pusaka Tuhan: “…aku harum semerbak seperti kayu manis dan aspalat, dan meratakan wewangian laksana kemenyan pilihan, seperti galbanum, oniks, dan stakte, dan bagaikan asap dupa di kemah Suci.”

Ajakan menekuni Taurat sama sekali tidak menggunakan bahasa bernada imperatif semacam: “Ayo! Bacalah karena ini Sabda Tuhan”. Penulis teks memilihkan syair yang membujuk hati: “…datanglah kemari, kenyangkanlah dirimu dengan hasilku. Sebab, kenanganku lebih manis dari madu, dan pusakaku lebih manis dari cairan sarang lebah.”

Kejauhan jarak juga kuat terasa dalam pembahasan waktu. Kisah-kisah Old Testament lazimnya dibuka dengan pada awal mula, pada waktu itu, pada mulanya, dan pada suatu kali. Kita mengenal istilah Inggris once upon a time yang merujuk pada peristiwa lampau. Tapi istilah ini telah muncul dalam terjemahan cerita-cerita modern.

Nuansa waktu dalam Perjanjian Lama mungkin lebih tepat dilukiskan dalam istilah Latin tentang suatu masa yang jauh: lebih tua daripada sejarah, mendahului sejarah. In illo tempore, pada waktu itu.

*) Wartawan Tempo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s