Kekayaan Haram

Kasijanto Sastrodinomo* (KOMPAS, 12 Apr 2014)

MENUTUP liputan jurnalistiknya bertajuk ”Belajar Pemerintahan yang Terbuka sampai ke Inggris” (Kompas, 24 Maret), Khaerudin, wartawan koran ini, menyisipkan istilah illicit enrichment alias memperkaya (diri) secara haram. Liputan itu tentang upaya Pemerintah Inggris menciptakan administrasi negara yang bersih yang patut kita contoh. Penggalan kalimat selengkapnya, ”Jika mau belajar dari Inggris, sudah saatnya diterapkan mekanisme illicit enrichment, siapa pun PNS (pegawai negeri sipil) yang punya kekayaan tidak wajar harus bisa diseret ke pengadilan, untuk membuktikan perolehannya secara sah atau tidak.”

Kata enrichment tentu dikenal dalam wacana Inggris di sini, tetapi illicit mungkin tidak begitu aktual. Bandingkan dengan illegal yang semakna dengannya. Illicit terbentuk dari kata licit ’berdasar hukum’ atau ’tidak terlarang’. Menurut Webster’s American English Thesaurus (2002), kata licit digunakan untuk hal-hal terbatas sesuai dengan ketentuan hukum atau suatu aturan semisal pemakaian obat-obatan tertentu di rumah sakit. Awalan il- mengingkari arti licit menjadi sebaliknya: tidak berdasar hukum atau terlarang. The Concise Oxford Dictionary (1987) mencontohkan pemakaian illicit dalam dealing ’perjanjian’, intercourse ’pergaulan’, dan still ’senyap’, bisa juga ’diam-diam’.

Istilah senada, illicit riches ’kekayaan haram’, digunakan oleh Peter Boomgaard dalam ”Illicit Riches: Economic Development and Changing Attitudes towards Money and Wealth as Reflected in Javanese Popular Belief” (1991). Harta apakah yang tercakup dalam illicit riches? Jika kekayaan haram identik dengan hasil korupsi, kriterianya cukup jelas. Undang-undang lawas, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1960 yang diteken Penjabat Presiden Djuanda, menjelaskan (dalam ejaan lama) harta korupsi sebagai: (a) harta-benda seseorang atau suatu badan hukum jang dengan sengadja tidak diterangkan olehnja atau oleh pengurusnja; (b) harta-benda jang tidak terang siapa pemiliknja; dan (c) harta-benda seseorang jang kekajaannja setelah diselidiki dianggap tidak seimbang dengan hasil mata pentjahariannja.

Begitu pula gratifikasi, sudah diketahui luas, termasuk barang haram menurut Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (2001). Pegawai negeri yang rajin mengumpulkan potongan harga sewaktu belanja keperluan kantor dan diam-diam memasukkannya ke kantong sendiri, misalnya, terkena UU itu. Kumpulan rabat yang makin menumpuk di tabungan pribadi itu tergolong kekayaan haram. Pemberian terlarang lainnya bagi PNS, menurut UU itu, adalah uang, barang, komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan sebagainya.

Selain itu, seperti dilihat Boomgaard dalam risalahnya tersebut, modus illicit enrichment bisa melalui cara-cara nirkasat- mata. Sudah lama sebagian orang Jawa (mungkin juga masyarakat lain di Tanah Air) percaya pada pesugihan yang diraup oleh tuyul, gundul, blorong, dan sejenisnya tanpa diketahui si empunya. Meski sulit dibuktikan, tuyul atau gundul digambarkan sebagai bocah laki-laki lima tahunan, wuda, plontos, dan ingusan hidungnya. Pada saat tertentu, misalnya pada hari pasaran desa, tuyul dilepas oleh pemiliknya untuk mencari mangsa. Bagi yang percaya, tuyul dianggap sebagai ”mesin” pencari dan pencuri uang yang efektif.

Diamati sekilas, istilah illicit enrichment ataupun illicit riches kini makin sering muncul ke ruang publik. Boleh jadi karena sekarang cukup banyak orang yang ingin cepat kaya walau dengan cara tak halal. Dulu seseorang yang disebut kaya ada kalanya malah merasa risih atau malu. Apalagi jika lingkungan sosial di sekitarnya terasa kontras.

*) Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan BudayaUniversitas Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s