Bahasa ‘Kekerasan’ dalam Sepak Bola

Ahmad Sahidah* (Majalah Tempo, 14 Apr 2014)

Menjelang laga semifinal sepak bola Indonesia-Malaysia pada SEA Games XXVII, sebuah koran nasional versi daring (Republika, 19 Desember 2013) menurunkan berita tentang perang pendukung kedua tim melalui dunia maya. Tak seperti pertandingan dengan tim negara lain, emosi penyokong kedua tim selalu memanas sebelum peluit wasit ditiup. Mengapa? Karena kedua warga acap bertikai dengan pemicu yang beraneka ragam, seperti perebutan garis perbatasan, klaim kebudayaan, dan buruh migran. Sebenarnya, tanpa dibayangi pengalaman buruk, pertandingan sepak bola antarnegara selalu memantik nasionalisme.

Tak ayal, dalam banyak berita media lain, pembaca akan menemukan kata-kata berbau kekerasan, seperti sikat, libas, musuh bebuyutan, menuntaskan dendam, berjuang keras, dan kutukan. Sementara kekalahan telak Garuda Muda oleh Thailand di babak penyisihan tak begitu mengusik, babak penentuan dengan Malaysia membuat gelegak menderu dan suara berisik. Tak hanya itu, perseteruan di media sosial memantik kelucuan. Seorang pemilik akun menjawab kicauan warga Malaysia bahwa kekalahan itu disebabkan oleh kekacauan bahasa penggunaan kata bola sepak, bukan sepak bola.

Menanggapi kekalahan, koran Sinar Harian menurunkan berita di halaman olahraga, “Emas Lebur: Harimau Muda Kandas di Separuh Akhir”. Tim besutan Ong Kim Swee gagal mempertahankan medali emas SEA Games untuk ketiga kali berturut-turut setelah kalah 4-3 dalam adu penalti. Padahal, pada babak penyisihan, penampilan Malaysia lebih mencorong dengan mengalahkan Singapura dan Vietnam, sementara Indonesia tidak bisa mengalahkan tim lemah seperti Laos.

Hampir semua media di Indonesia menyambut baik kemenangan ini. Sebagian malah meletakkan gambar dan berita kejayaan tersebut di halaman depan. Tentu judul “Garuda Melunaskan Dendam” makin mempertegas bahwa kemenangan itu begitu mengujakan. Tak hanya itu, kicauan pemilik akun media sosial pun menggenapi kegembiraan ini dengan pelbagai celotehan. Keriuhan ini seakan-akan menunjukkan bahwa Garuda Muda telah menunaikan tugas dengan sempurna.

Yang menarik, bahasa yang digunakan orang ramai dari kedua belah pihak mencerminkan pelepasan kegusaran. Tak terelakkan, kedua media masing-masing menggunakan kata majemuk musuh bebuyutan (KR, 19 Desember 2013) dan musuh tradisi (Sinar Harian, 20 Desember 2013). Alih-alih menggunakan kata tim atau pasukan lawan, kata musuh seakan-akan lebih tepat mewakili perasaan. Padahal cabang sepak bola dipertandingkan sejak SEA Games pertama dihelat. Secara otomatis, Garuda tak hanya melawan Harimau, tapi juga Singa “Tamasek” dan Gajah Thailand.

Selanjutnya, apa yang ada di benak warga jiran ketika surat kabar di sini menerjemahkan berita koran Malaysia bahwa dua pemain Indonesia yang perlu mendapatkan kawalan diubah menjadi disikat? Tentu, penerjemahan tersebut menyiratkan bahwa permainan di antara keduanya akan berjalan keras. Memang dalam laga tersebut kartu kuning di perpanjangan waktu berhamburan. Kata sikat dalam percakapan warga Malaysia lebih sering digunakan untuk menunjuk “sisir rambut” di sini. Sedangkan mereka menyebut sikat (sepatu atau gigi) dengan berus, dari kata bahasa Inggris brush. Lema ini sebenarnya pernah digunakan dulu, sehingga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diberi tanda ark (arkaik).

Kata lain yang sering digunakan dalam berita bola Malaysia adalah belasah. Bayangkan apabila kata tersebut digunakan untuk koran Indonesia. Mungkin kebanyakan orang Indonesia tak paham meskipun lema ini juga diterakan dalam KBBI dan kata tersebut sering digunakan dalam keseharian orang Melayu Riau. Kata yang bisa disepadankan dengan gebuk (Jawa) ini digunakan untuk menggambarkan kedigdayaan satu tim bola yang menang telak, seakan-akan tim lawan dihabisi tanpa ampun. Sebaliknya, kita mungkin agak tak nyaman apabila warga negara tetangga lebih sering menggunakan kata menewaskan dibandingkan dengan mengalahkan sehingga kita merasakan sukan ini begitu lekat dengan “kekerasan”.

Hebatnya, penggambaran tentang alur pertandingan seakan-akan melukiskan sebuah perang. Koran Sinar Harian menulis dengan lancar bahwa setelah kebobolan satu gol, pelatih Ong Kim Swee memasukkan Rozaimi Abdul Rahman untuk mempertajam serangan. Sayangnya, ujung tombak Harimau Muda gagal menembusi benteng pertahanan Garuda muda. Sebenarnya istilah ujung tombak tidak digunakan, tapi senjata ini acap disematkan pada penyerang yang berada di lini depan di banyak media kita.

Lagi-lagi, betapa bola begitu akrab dengan alat kekerasan.

Betapapun bahasa kekerasan tidak bisa dijadikan penyebab tunggal kerusuhan pendukung atau kericuhan di banyak pertandingan sepak bola, sukan ini memang merupakan jenis olahraga yang paling mudah membangkitkan emosi khalayak. Tapi, di samping kompetisi yang sering menyulut amarah, sebenarnya kita juga bisa menikmati pertandingan persahabatan. Namun, sejauh ini, persahabatan yang selalu mengandaikan keakraban dan hiburan belum betul-betul terjadi.

Seharusnya, sebagaimana makna permainan pada awalnya, bola bisa menjadi perantara untuk merawat kebersamaan, tapi ekspresi yang melekat pada permainan ini acap menjadi penghalang.

*) Dosen filsafat dan etika Universitas Utara Malaysia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s