Singkatan

Sori Siregar*, KOMPAS, 19 Apr 20014

SEORANG sopir pengangkut kota (angkot) berteriak, ”Sektor, sektor!” Sambil berteriak ia menunjuk ke arah angkot yang akan pergi ke tempat yang disebutnya ”sektor” itu. Warga setempat di salah satu permukiman yang luasnya seperti kota itu sangat maklum akan maksud si sopir angkot.

Permukiman yang sangat luas itu dibagi atas sembilan sektor. Namun, tanpa bertanya pun warga setempat telah maklum bahwa yang dimaksudkan sopir angkot itu adalah Sektor-9 (sembilan). Mengapa sang sopir tidak menyebut Sektor-9? Jawabannya jelas: untuk menghemat kata. Bahwa penghematan itu membuat orang bingung, bukan soal buat sang sopir dan rekan-rekannya.

Semua anggota komunitas sopir di habitat yang satu ini memang memberi pelayanan pengangkut untuk warga setempat, yang tidak akan bertanya macam-macam. Misalnya, sektor berapa? Pertanyaan yang wajar karena di wilayah permukiman itu terdapat sembilan sektor. Nah, ini baru menjadi persoalan jika orang yang akan naik angkot tersebut berasal dari wilayah lain. Mereka pasti bertanya sektor berapa yang dimaksudkan.

Kabar yang perlu dicek kebenarannya mengatakan bahwa dulu, ketika para sopir akan menyingkatkan Sektor-9 menjadi ”sektor” saja, perdebatan terjadi di antara mereka. Mengapa bukan kata terakhir yang digunakan? Misalnya, Pondok Jagung menjadi Jagung, Situ Gintung menjadi Gintung, atau Lebak Bulus menjadi Bulus. Bisa pula digunakan aksara sebagai akronim, misalnya Citos (Cilandak Town Square), Gancit (Gandaria City), Pim (Pondok Indah Mall), HI (Hotel Indonesia), atau GI (Grand Indonesia).

Ternyata kesepakatan tidak tercapai sehingga kebebasan diberikan kepada sopir masing-masing untuk menyebut singkatan dari Sektor-9 itu. Ternyata mayoritas memilih ”sektor” dan minoritas memilih ”9”. Yang minoritas benar-benar tahu diri. Kalau mereka menyebut ”9”, suara yang terdengar jauh lebih pelan ketimbang suara yang meneriakkan sektor.

Dalam blusukan ke tengah-tengah mereka, baru saya tahu bahwa tidak sedikit di antara mereka yang dapat berbahasa Inggris ala kadarnya. Rupanya bahasa Inggris ini termasuk menjadi pertimbangan di antara mereka ketika membahas singkatan Sektor-9 itu. Natigor Nainggolan, yang berasal dari Tarutung di Sumatera Utara sana, menjelaskan kepada saya dasar pertimbangan itu.

”Orang kita, kalau menyebut microwave oven, biasanya microwave saja. Jika menyebut remote control, juga hanya remote saja. Saya pernah mendengar salah seorang penumpang saya mengatakan facial saja ketika temannya bertanya apakah ia ke salon untuk potong rambut. Saya yakin, setelah kata facial itu mesti ada kata lain yang menyusul. Di spanduk atau apa namanya itu, yang dipasang di depan salon yang setiap hari saya lalui, pernah saya baca kata facial treatment. Barangkali itu yang dimaksudkan Ibu itu dengan kata facial.”

Melihat saya serius mendengarkan keterangannya, Nainggolan semakin bersemangat. Katanya, ”Karena itu, kami pilih ’sektor’, bukan ’9’. Kami pilih kata awal saja. Yang memilih kata ’9’ itu tidak tahu bahasa Inggris dia.”

Menyaksikan saya tersenyum, pemuda yang berasal dari Tarutung itu berupaya mencari dukungan.

”Kan begitu begitu, Pak?”

Saya mengangguk. Membaca akronim yang jumlahnya berjibun itu, rasanya saya dapat mendukung Natigor Nainggolan. Betapa tidak.

Tidak ada rumus atau rujukan bagaimana singkatan harus dibuat. Yang penting, enak didengar.

Karena itu, semuanya terserah kepada orang atau pihak yang ingin membuat singkatan. Kalau ada yang lucu, ya, tertawa sajalah.

*) Cerpenis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s