Pancasila, Pascasarjana, Coca-Cola

Sapardi Djoko Damono* (Majalah Tempo, 5 Mei 2014)

Proses teknologi kata pun terjadi ketika kita menangkap bunyi dan menguncinya di atas kertas dalam wujud gambar. Aksara adalah gambar yang dirancang untuk menyimpan bunyi agar ada yang tersisa-katakanlah residu-ketika ucapan tidak terdengar lagi. Yang terjadi selanjutnya adalah memanfaatkan rentetan aksara untuk menyimpan pengetahuan, mimpi, harapan, kenangan, dan apa saja agar tidak menguap begitu saja, agar bisa diperiksa ulang oleh yang merentetkan aksara itu sendiri ataupun orang lain yang membacanya.

Demikianlah maka segala hal yang kita tulis tersimpan di luar diri kita (di batu, lontar, kertas, dan dunia maya) sehingga bisa pada gilirannya dimanfaatkan untuk mengembangkan pengetahuan dan pengalaman. Dan sejak bunyi kita teknologikan, ilmu pengetahuan dan pengalaman manusia berkembang dengan sangat cepat dan semakin cepat: dalam waktu beberapa ribu tahun perkembangan pengetahuan tidak sebanding lagi dengan jutaan tahun ketika manusia belum mengenal aksara.

Namun kita tetap saja masih ingin-dan harus-berkomunikasi lisan. Kata yang sudah berupa gambar di atas kertas kita lisankan lagi, dan timbullah “masalah”. Bunyi yang kita ucapkan ternyata terdengar berbeda-beda di telinga kita. Sebagai contoh saja, ketika ayam jantan berkokok, orang Jawa mendengar dan menuliskannya sebagai kukuruyuk. Kalau jago itu mengibas-ngibaskan sayapnya dan berkokok di Bandung, Mang Koko akan mendengarnya sebagai kongkorongok. Harap dicatat: ayam jantan yang berkokok, ya, yang itu-itu juga. Lha, kalau ayam yang sama dibawa ke Madrid dan berkokok, penyair Federico Garcia Lorca mendengarnya sebagai cocorico. Di London, Pangeran Philips mendengarnya sebagai cock-a-doodle-do.

Tentu ada yang “salah” dengan telinga kita, mendengar suara yang persis sama tapi kemudian menuliskannya berbeda-beda. Dan, anehnya, rentetan aksara yang sudah kita tulis itu tampaknya perlu dilisankan kembali. Seandainya si ayam bisa membeda-bedakan, ia akan heran mengapa suaranya jadi berubah-ubah, “Padahal aku kan tidak mengubah-ubah kokokku,” demikian mungkin kata si ayam dalam hati.

Memang, kita tidak hanya memiliki “kualitas” telinga yang berbeda-beda, tapi juga “watak” mulut yang berlain-lainan. Dan ketika mengubah bunyi menjadi gambar pun, kita menghasilkan berbagai jenis aksara yang tentu saja harus sesuai dengan telinga dan mulut masing-masing. Alif-ba-ta berbeda dengan a-b-c, berbeda pula dengan ha-na-ca-ra-ka. Nenek saya, orang Jawa, susah sekali mengucapkan huruf f dan mengucapkannya sebagai peh atau ep. Namun beliau mengenal dua jenis ucapan untuk huruf d, yang tidak akan menimbulkan masalah kalau ditulis dengan aksara Jawa. Tapi, ketika harus menuliskannya dalam aksara Rumi, ia pun mendapatkan akal: bunyi yang satu ditulis sebagai gugus konsonan dh, satunya lagi biasa saja, dengan huruf d.

Kalau keliru menulis, akibatnya bisa menjengkelkan sekaligus menggelikan. Dalam bahasa Jawa, wedi artinya takut, sedangkan wedhi artinya pasir. Mendem itu mabuk, mendhem itu mengubur. Kolom Bahasa! dalam Tempo pun kadang-kadang masih keliru. Yang pasti, dalam novel Umar Kayam yang diterbitkan Grafiti masih banyak kesalahan serupa itu meskipun konon editornya orang Jawa.

Lha, kalau orang Bali harus mengucapkan Tiap-tiap Sabtu toko-toko patung tutup, suaranya akan jadi aneh bagi orang Manado karena bunyi t-nya tidak sama dengan t dalam tetapi. Sebaliknya, orang Manado cenderung mengacaukan ucapan wedi dan wedhi-keduanya dibaca wedhi. Dan karena telinga dan mulut kita ternyata memiliki alat dengar dan alat ucap berbeda-beda, terjadilah kekisruhan ketika harus mengucapkan Kompleks Senen karena x bisa diucapkan (dan kemudian ditulis) sebagai eks atau ek saja. Di samping itu, saking bingungnya orang Sunda menuliskan nama kampungnya Banceuy dan nama makanannya peuyeum supaya bunyinya pas di telinganya, tapi kalau orang Jawa melisankannya bunyinya pasti jadi lucu. Dan seterusnya.

Namun tulisan yang ngalor-ngidul ini hanya ingin menyampaikan satu hal penting, yakni bahwa kata pascasarjana seharusnya diucapkan sama dengan Pancasila.

Dalam banyak kesempatan, saya sering mendengar rekan mengucapkannya sebagai paskasarjana, bahkan kemudian menuliskannya demikian juga. Kita tahu, c dalam kata itu dulunya dieja tj, bukan k. Namun, karena c dalam Coca-Cola (merek dagang berbahasa asing yang tidak boleh diubah ucapannya) dibaca sebagai k, menderitalah kata-kata seperti pascabayar, pascaperang, dan pascapanen. Sebaiknya, tidak usahlah kita ikut-ikut membuat kata pasca itu menderita berkepanjangan.

Bayangkan kalau Pancasila kita baca sebagai Pankasila. Maka Bung Karno pasti akan bangkit dari kubur dan menuding kita, “Kalian ini subversif!”

*) Sastrawan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s